Hujan Turun Juga
oleh: Keisha Aozora
Beginilah bagaimana semua itu dimulai, Delta tak bisa tidur, sudah empat hari. Benar-benar tidak terlelap. Mungkin ia berbaring dan matanya terpejam, namun ia terjaga. Tak ada musik yang berhasil menghantarnya pada -- bahkan genangan terdangkal dalam tidur. Cukup sudah empat hari ia mendengar decitan tikus yang berusaha keras memasuki apartemennya, decitan tikus sebelum akhirnya terlindas ban mobil, dan terkadang, jika beruntung, bisa mendengar langkah sandal ber-hak tinggi penghuni seberang. Hari ke lima itu, fajar merayap perlahan di balik jendela kamar Delta, dan ia masih memejamkan mata pura-pura tidur. Lalu ia sadar ia hanya berpura-pura pada dirinya sendiri. Tak ada satu orang pun untuk dikelabui; bahkan tidak hewan peliharaan. Delta pun bangun, mematikan pendingin ruangannya, membuka jendela dan duduk di bingkainya, menikmati pagi yang masih terlalu dini. Ia menyalakan sebatang rokok, dan melihat tujuh lembar kertas yang tersusun rapi di atas mejanya. Delta selalu ingin menulis sebuah novel. Sudah dua tahun dan hanya tujuh lembar kertas itu yang ia hasilkan. Ia juga tidak benar-benar tahu apa yang mau ia tuangkan pada novel itu. Ia hanya terinspirasi perkataan beberapa orang tiga tahun lalu tentang mimpi-mimpinya. Mereka mengatakan itu pertanda ajal sudah dekat, tertulis di kitab suci. Delta hanya mengangkat bahu dan tak ambil pusing.
“Kelihatannya kitab sucimu itu tahu semua yang akan terjadi, ya”, ucap Delta seperti mencibir, tiga tahun lalu.
“Kitab suciku? Jadi sekarang kamu punya kitab suci yang lain, Ta?”
“Hm. Enggak. Oke, kitab suci kita.”
“Lagipula, kitab suci itu firman Tuhan. Tentu saja Dia tahu semua yang akan terjadi. Ah, please, masa sih mimpimu seperti itu seminggu ini?”, seorang teman itu tampak khawatir.
Delta mengangguk, “Itu masuk kategori mimpi indah, Nan. Yang bikin menarik adalah mimpi yang sama setiap malam. Itu saja. Nggak ada hal buruk.”
Nan, teman kuliah Delta yang baru dikenalnya enam bulan lalu itu, makin tampak khawatir. “Ya, tertulis juga di kitab suci, mereka akan terpesona dengan tanda yang Kami tunjukkan dan tak sadar akan hal buruk yang akan menimpanya.” Nan terdengar agak terbata-bata, “Maaf, Delta. Bukan aku menakut-nakutimu, ta – tapi, sebagai penganut aku harus mewartakan ini. Ini perintah agama kita, sampaikanlah walau hanya satu ayat!”
“Santai aja, Nan”, jawab Delta nyengir, dan bersiap bangkit dari duduknya.
“Ta, kalau kamu cari aku, kamu tahu, aku selalu berada di sana”, ucap Nan menunjuk sebuah bangunan peribadatan di dekat kampus. Delta tersenyum dan bangkit, berjalan pergi. “Aku harap kamu sering mampir, Ta!”, teriak Nan dari jauh. Delta menyalakan rokok dan ditengah hisapannya ia berbisik pelan, “freak.”
‘Apa yang dia tahu tentang kematian?’ gumam Delta, ‘Tanpa mimpi apapun tiba-tiba aku sangat dekat dengan maut dan tanpa ancang-ancang apapun ia tampak jauh lagi dariku’.
Delta memeluk kedua lututnya dan menidurkan kepalanya di atas kedua lutut itu. Ia menguap, dan memperhatikan kamarnya. Tidak kekurangan apapun. Bagi wanita lajang yang belum menikah, apartmentnya cukup mewah. Delta lalu takjub sendiri bagaimana ia mendapatkan semua ini. Setelah bengong beberapa saat, barulah ia ingat ayah ibunya yang tak pernah lagi ia temui. Ia juga tidak pernah memperhatikan ATMnya yang terus terisi, saat ia bekerja atau hanya berkuliah. Ia menopang dagunya, tertegun bahwa tak ada jejak ibu bapaknya sama sekali di kamar itu, di flatnya itu. Tidak ada foto mereka. Dan semua barang hingga hiasan terkecil yang ada di flat itu semua pilihan Delta. Ya, ibunya tidak suka melihat Delta tinggal di kos-kosan jelek dan berbagi kamar mandi dengan penghuni lain yang tak sedikit jumlahnya. Maka flat itu adalah hadiah ulang tahun ke-19, dan mimpi-mimpi buruk dimulai di kamar ini.
Mentari merayap naik membangunkan warga kota, kecuali Delta, yang belum semenitpun tertidur. Pagi itu, ya, hari itu, mentari merangkak dengan kehangatan yang bertambah sedikit demi sedikit. Namun, kamar Delta tetap dingin dan langit kelabu. Delta berjalan keluar kamar menuju ruang tengah.
Seorang gadis kecil duduk di sofa di depan sebuah cermin hias. Ia mengenakan seragam putih-merah dan rambutnya dikepang dua dan berkaus kaki. Pembantu rumah tangga yang sudah tua tampak tergesa membawakan sepatu nona kecil itu dengan jalan membungkuk. Mata nona kecil yang masih bening telaga menatap bayangnya sendiri di cermin hias. Pada suatu hari dalam hidup nona kecil itu, pertanyaan yang menakutinya, yang ia simpan dalam-dalam, tak berani ia keluarkan, bahkan untuk keluar di otaknya saja – dengan bunyi “pop!” seperti di film kartun – tak ia izinkan, akhirnya menonjok sudut kepalanya, tanpa bunyi “pop!”
‘Apakah hidupku ini akan begini terus? Apakah hidup ini hanya begini saja? Bangun jam enam, mandi lalu sarapan, berangkat ke sekolah, pulang, makan siang, mengerjakan pe-er, main dengan toys-set, mandi sore, les matematika, makan malam, lalu tidur? Akankah aku tetap memakai seragam ini seumur hidupku dalam setiap hari kecuali hari minggu, Mas Budi yang gila akan tetap gila dan anak-anak kampung akan mengganggunya terus menerus, Mbok Ris akan tetap membungkuk membawakan sepatuku setiap hari kecuali hari minggu, dan boneka yang nggak pernah kumainkan akan terus bertambah setiap bulan?’ Delta menutup mata, ‘Lihat, aku sangat hafal setiap detil jalan menuju sekolah. Gerak-gerik pak satpam dan apa saja yang kulihat dalam perjalanan menuju kelasku, dan kelas tahun-tahun lalu. Aku hafal. Apakah tidak akan ada jalan lain menuju sekolah dan tak ada suasana lain di lapangan upacara? Aku tahu anak-anak yang mengangkat dagunya saat perayaan hari nasional dimana kita memakai kostum selain seragam sekolah, hari itu Ibu akan lelah menarik stagen di pinggangku dan aku akan kesakitan. Ibu akan marah jika aku bilang sakit, dan setelah selesai ia akan memanggilku “cantik” seharian’. “Non, bangun! Ayo cepat berangkat, nanti Ibu marah lho!”, Mbok Ris mengguncang paha Delta pelan. Delta membuka mata dan terkejut. Terkejut bahwa akhirnya pertanyaan sialan itu keluar juga, muncrat ke kepalanya! Pula, tak ada bunyi “pop!” seperti yang diharapkannya.
Delta membuka laci dapur yang penuh makanan ringan dan minuman instan. Ia membuat kopi dan mengambil sebungkus cracker, lalu menaruhnya di meja makan. Ia membuka jendela lebar-lebar. Ia berdiri di sana sejenak, untuk merasakan hangat mentari. Hanya sejenak saja, ia sudah berjalan malas ke meja makan. Karena mentari ternyata tidak hangat dan tak bisa membuat langit tampak biru sedikit!
Badannya terasa letih dan matanya agak berat. Delta mencoba tertidur di meja makan. Gagal. Ia tidak tertidur semenitpun, dan tidak tercengang. Sudah lima hari begini. Badan lelah dan mata berat hanyalah efek tidak tidur, bukan berarti pertanda ia akan tertidur. Dering telepon genggamnya berbunyi, pertanda satu pesan masuk. Tawaran rutin antar-jemput -- dari penggemar yang gigih berjuang, hingga penggemar yang putus asa dan memutuskan untuk percaya bahwa Delta lesbian; makan siang dengan teman-teman, semua – akan berjalan seperti biasa, tidak mendapat dan tidak kehilangan apapun. Maka kalimat “Esok adalah hari yang baru” perlu dipertanyakan, apakah memang ada hal yang benar-benar baru selain titik baru dalam periodik waktu.
Gadis kecil berambut kepang dua itu duduk sendirian di salah satu dari bangku-bangku mini di pinggir lapangan upacara sebuah sekolah dasar – saat jam istirahat pertama; dimana mentari masih belum mendidih dan belaian angin digemari para siswi untuk memamerkan rambut indah mereka. Di hadapannya, adalah lapangan dimana teman-temannya sedang bermain, lalu sebuah masjid mewah yang menjulang atapnya. Atap masjid itu berderak pelan, sangat pelan hampir tidak terdengar; lalu kemudian teman-temannya sudah terkapar bersimbah darah seperti nyamuk-nyamuk mati di tembok. “Delta, awas!” Buk! Kepala Delta terkena lemparan bola. Delta jatuh dengan mata terpejam. Terdengar suara panik anak-anak kecil; disusul gumaman tuduh-menuduh antar siswa lelaki, lalu banyak topang menopang betis, pinggang, dan punggungnya – gadis berkepang dua melayang. Ia bisa mendengar jelas tiap kata dari komat-kamit kawan-kawan dan gurunya; gadis kecil itu hanya menutup mata dan mereka-reka apakah begini rasanya berhenti secara tiba-tiba dan digotong orang-orang diiringi komat-kamit. ‘Apa yang akan terjadi selanjutnya? Jika masih teringat semua akan kucatat dan kubagikan pada yang sekarat di rumah sakit’, pikirnya. Ternyata tidak terjadi apa-apa. Namun gadis itu menikmatinya; rasanya seperti… sekali dalam hidupnya ia merasa begitu tak terlibat, begitu tak wajib bertanggung jawab. Beberapa menit kemudian ia membuka mata dan seorang anak lelaki meminta maaf padanya. Kembali Delta harus mengatakan “Iya”, “Nggak pa-pa”, kembali harus berbahasa.
Delta si gadis berkepang dua duduk di atas ranjang UKS Sekolah Dasar, namun ruangan itu sepi, dan di luar tak ada suara sama sekali. Ia duduk merapatkan kedua kakinya ke dada, dan termangu di situ menikmati sunyi. Lama-lama ia mulai heran kenapa tidak ada orang, kenapa dia di tempat ini, dan mengapa dia berkepang dua saat seingatnya rambutnya sudah tidak lagi cukup panjang untuk dikepang dua. Dia pun mulai gelisah dan kedinginan tanpa sebab. Ia memutuskan turun ranjang dan mencari jalan keluar. Ya, ya, dia harus keluar. ‘Keluar, dan semuanya akan baik-baik saja’. Maka Delta keluar ruangan UKS dan menyusuri koridor sekolah. Ia menggigil; ia tak yakin apa yang akan terjadi di depan dan merasa ada yang mengikuti di belakang. Koridor itu panjang dan di atapnya menempel lampu setiap beberapa langkah kaki. Namun malam itu, hanya dua-tiga lampu yang menyala sepanjang koridor. Delta berjalan sambil meraba-raba dinding. Walau minim cahaya tapi hampir segala hal yang biasa seperti belokan, tekstur lantai, jendela, semua masih terlihat jelas. Delta berjalan terus, perlahan. Sebenarnya ia ingin berlari. Tapi menurut pengalamannya, setiap ia berlari, perasaan dikejar akan makin menjadi. Perasaan diikuti. Blap! Gelap. Semua lampu mati. Delta dapat merasakan detak jantungnya seperti hendak merobek kulit dada karena kuatnya. Seekor kupu-kupu terbalik terbang di depan. Dia ungu menyala. Tak ada cahaya selain dia; maka Delta terpaksa mengikutinya tanpa tahu akan dibawa kemana. Terlalu gelap dan Delta mendadak tidak hafal belok-belokan sekolahnya. Maka ia berjalan cepat terkadang berlari mengejar si kupu ungu. Hingga akhirnya kupu itu terbang di tempat sebelum akhirnya blap! Hilang. Kedua kaki Delta pun memaku. Di hadapannya berdiri seorang gadis kecil membelakanginya. Di depan anak itu ada sebuah cermin; dan gadis kecil itu sedang melepas jalinan rambut kepangnya perlahan-lahan, menyusuri setiap kelokannya. Di cermin itu Delta melihat wajahnya – yang pucat, kering, dengan mata membelalak seolah urat-urat matanya begitu kekeringan untuk mata itu berkedip. Gadis kecil dalam cermin itu tampak berhenti memainkan rambutnya dan ia menoleh perlahan. Delta berharap hal itu tidak terjadi; ‘Jangan, jangan menoleh padaku dengan wajah burukmu yang menyeramkan itu. Aku tidak akan tahan. Jangan!’
“Ya kan, Ta? Si Nan itu kan pernah nembak Mita pake puisi bahasa Arab! Hahahaha… doi ngga tau tampang arab begini si Mita kan cina!” Delta diam. Jantungnya berdegup kencang. Delta menarik nafas dalam berusaha menenangkan degup jantungnya. Ia berada di jok belakang mobil yang sedang melaju, dari night club menuju sebuah panggung teater terbuka; karena stok minuman mereka masih satu setengah botol dan sedang tidak ada yang bersedia menjadi tuan rumah untuk para pemabuk yang pasti meninggalkan rumah itu keesokan hari tanpa bertanggung jawab membersihkan tumpahan atau meletakkan kembali sebuah barang di tempatnya. Mereka sampai. Mobil diparkir sekenanya. Mereka berjalan ke arah bangku penonton yang terbuat dari kayu; yang membentuk lintasan-lintasan setengah lingkar bertingkat, beratap langit malam. “Woi Ta!” Dennis melempar sebotol Absolute Vodka yang ditangkap dengan baik oleh Delta. “Gile lo Den, itu bukan botol plastik kale!”, ujar teman yang lain. Dan Delta sejujurnya gentar juga tadi, saat menangkap botol itu. Ia tak yakin bisa menangkap botol itu, walau akhirnya berhasil. Ia juga tak yakin jika botol itu meleset dari tangannya, apakah hanya akan jatuh pecah di tanah, atau pecah di kepalanya yang sudah pening. Dan ia benci lemparan. Delta duduk menghadap panggung yang kosong. ‘Apakah Zeus dan saudara-saudarinya suka minum anggur di langit, sambil menikmati sandiwara manusia?’ Delta butuh tidur, setidaknya, ia ingin memberi tahu temannya bahwa ia belum tidur cukup lima hari. Tapi Delta tidak terbiasa mengeluh. Seperti Tuhan, ia terbiasa mendengar keluh kesah dan sumpah serapah kawan-kawannya. Delta tersenyum sekilas menertawakan pemikirannya yang ngelantur kemana-mana. Jujur saja, Delta bukan Tuhan, ia hanya tidak yakin kawan-kawannya itu peduli pada penderitaannya. Jadi daripada nanti sakit hati, diam jadi solusi.
“Datang pada Tuhan, Ta, hatimu akan tenang. Itu janjiNya! Ingatlah Aku maka tenang jiwamu,” kata Nan beberapa waktu lalu, saat Delta iseng duduk-duduk di teras tempat peribadatan Nan; dan Nan yang tadinya berseri-seri kecewa ketika mengetahui ternyata Delta tidak habis sembahyang, tapi hanya duduk-duduk santai menikmati sore.
“Aku sedang menikmati sore, Nan,” jawab Delta santai.
“Apa yang kau nikmati? Keindahan? Semua keindahan di dunia ini fana, Ta, fana. Coba kau cari di kamus perpustakaan fakultas kita yang lengkap itu, apa arti fana.”
Delta tertawa kecil. Nan. Nan memang kadang menyebalkan, tapi ia selalu membuat Delta tertawa walau tak pernah berniat melucu.
Dan Nan terus nyerocos, “Jangan terlena, Ta, kita di sini cuma singgah..”
“O ya? Oo.. Singgah dalam keterlupaan ya, Nan?”
“Itu karna kau sudah terlena dan jadi sangat duniawi, Ta, jadi kau lupa rumahmu, rumah kita.”
Delta mengernyitkan keningnya pada Nan sambil mengangguk-angguk. Seusai percakapan singkat itu Delta menulis di kamarnya:
Hai kertas, kau masih ingat dengan kawan baikku si Nan itu kan?
Sore ini aku berkesempatan secara tak terduga lagi – berbincang dengannya.
Kau tahu apa yang kusukai darinya? Tatapannya lurus, tajam, dan yakin, Tas,
tak seperti pandanganku yang limbung. Aku penuh tanya dan dia penuh jawaban,
walau tak pernah kuiyakan jawabannya.
Sore ini, dia bilang aku sudah sangat duniawi. Kalau benar kalimatnya, maka
Aku pernah tidak duniawi. Kapan itu, aku tak tahu. Kebalikan dari duniawi yang Nan
maksud pun aku tak tahu apa itu.
Sejak aku lahir di dunia ini, maka aku duniawi bukan?
Misalnya, kau, Kertas, kau tak pernah makan daging, minum alkohol, tak pernah
shopping,tetap saja kau itu duniawi.
Bagaimana pendapatmu, Tas? Apa kau bisa berpendapat?
Kalau kamu punya mulut, seperti kucing, anjing, dan aku, apakah kau akan berbahasa?
Delta bersama dua kawan lelaki dan tiga perempuan. Andre, salah seorang dari mereka, berjalan limbung menuruni tangga dan lalu berdiri di panggung. Delta menenggak botol dalam genggamannya. Andre membungkuk memberi hormat. Kawan-kawan yang lain tertawa. Tak jauh di luar area panggung, masih menyala sebuah lampu tinggi yang besar. Andre menari-nari di bawah sinaran cahaya sehingga bayangan tubuhnya seperti bermain di dinding. Dari ajojing disko hingga gerakan menyerupai wu shu. Gelak tawa merebak lagi.
“Aaaah…cauuur!”, teriak Eva.
“Hei kalian!”, teriak Andre kemudian, berusaha berdiri tegak, “Siapa di antara kalian yang tidak menikmati permainan bayangan? Hmm? Bayangan tarianku yang indah tadi!” Gelak tawa meredup, tergantikan oleh senyum yang bertahan di wajah mereka.
“Tentu kalian suka bayang-bayang. Wayang main bayang, UKM Teater gue juga hobinya bebayang boy, pas adegan mesum”
“Betuuul!”, teriak Silvia yang juga aktif di UKM Teater.
“Nah, bayang-bayang itu, kawan,” lanjut Andre, lalu ia mengeluarkan lipatan kertas dari dalam saku celananya, “Anjing, contekan ujian tadi siang..kikikik…”, bisik Dennis.
“Bayang-bayang adalah sebuah antara. Ia sebenarnya kehadiran yang bukan kehadiran…1”
Delta menunduk, mencoba mencari bayangannya yang tentu tak akan tampak karena ia duduk jauh dari sinar lampu. Dan ia tahu ia tak akan menemukan antara itu. Delta menyipitkan matanya, tak percaya akan apa yang dilihatnya. Bayangan tubuhnya yang duduk begitu jelas seperti di bawah sinaran sepia lampu jalan. Bayangan itu panjang sampai menyentuh ujung panggung. Lalu di ujung panggung itu, ia melihat dirinya duduk mengenakan pakaian yang sama, di tempat duduk yang sama, seperti hasil proyeksi saja. Delta merasa tubuhnya mulai gemetar. Yang membedakan dirinya dengan yang ia lihat adalah kembarannya itu tampak agak kemerahan: seluruh badan dan kedua matanya. Mungkin lebih baik ia melihat kuntilanak, pocong, tuyul, daripada dirinya sendiri! Ia menatap si proyeksi dan si proyeksi – yang Delta yakini punya nama yang sama dengan namanya – menatapnya balik. Delta merapatkan bibir dan menajamkan pandangannya lagi. Si Delta di ujung panggung itu nyungging tawa kecil. Delta tercekat, ia merasa ada yang menariknya kuat-kuat ke bawah. Ia tercebur ke dalam laut dalam dan tiba-tiba ia sudah berada dalam lemari kaca penuh air laut. Pintu lemari itu terikat lilitan rantai berat dari luar. Delta tidak bisa nafas. Ia menggedor-gedor dari dalam. Ia bisa merasakan lemari itu semakin jatuh tenggelam, perlahan. Lalu ia lihat si Delta yang kemerahan itu menyelam dan membuka pintu lemari – dengan cepat. Delta bisa bernafas normal lagi. Kini ia duduk di balik punggung seseorang yang baru lagi – kembarannya lagi, tanpa warna kemerahan; hanya saja tatapannya selalu tajam seperti Nan. Delta mengoles kuas pada pallete cat yang sudah tersedia; dan meneruskan melukis sayap di punggung kembarannya itu. Kembarannya ini mengingatkannya pada seseorang, yaitu dirinya empat – lima tahun lalu, ya, empat – lima tahun lalu saat orang tuanya baru saja bercerai, ia sering memakai kaus hitam bergambar sayap itu, dan potongan rambutnya, ya, seperti gadis yang sedang ia hadapi ini. Apakah ia memang dirinya empat – lima tahun lalu? Apa yang ia lakukan di sini? Adonan cat habis, lukisan sayap di punggungnya belum selesai. Lalu ia berdiri di sebuah padang ilalang saat senja sedang merah-merahnya. Jauh, jauh di depannya ia kembali melihat pemandangan yang berkali-kali tampil di mimpinya: pohon besar yang indah sekali. Tinggi namun tak menjulang, kokoh namun tak berkuasa. Ketika angin berhembus, hanya satu atau dua daun saja yang gugur. Pula gugurnya daun itu tampak indah di lihat dari tempat di mana Delta berdiri.
Pukul tiga dini hari. Delta membuka kedua matanya perlahan, dan ia melihat atap kamarnya. Ia terbaring di atas ranjang dengan sepatu masih membungkus kakinya. Ia lalu duduk bersandar pada tembok yang dingin – dan ia kembali kedinginan. Alkohol sudah tak menyisakan hangatnya lagi, dan ia merasakan dingin yang menjalar dari punggung lalu berusaha menguasai relung-relung dadanya, berusaha menjangkau pelosok-pelosok terdalam. Ia akrab dengan dingin ini. Oh, Ibu mana yang tak akan marah melihat anak gadisnya tidur di ranjang mengenakan sepatu boots?
Jauh dari kamar itu, seorang Nan menyelipkan nama Delta di sela lirih doa menghambanya. Lalu Delta kembali teringat kembarannya yang duduk di ujung panggung sandiwara itu. Mungkin ia akan membicarakannya dengan Nan. Bukan karena menurutnya Nan arif dan bijaksana, tapi tak ada yang menanggapi segala sesuatu dengan serius – yang bahkan bukan urusannya, selain Nan. Mungkin Nan itu lebih hangat dan penuh perhatian padanya daripada mereka yang memilikinya sebagai darah daging. Dari kecil Delta sering mimpi buruk, tak jarang ia bisa – dalam mimpinya – mengetahui bahwa itu mimpi. Butuh usaha keras untuk bangun. Ketika ia mengeluhkan hal ini pada ibunya, beliau hanya mengatakan, “Kau terlalu banyak nonton film horror” dan Delta pun tak pernah menanyakan hal itu lagi. Ia tidak pernah suka film horror – sejak balita ia merasa hidup ini horror. Telepon genggamnya berdering. Satu pesan masuk: TRANSFER BERHASIL – REK.00****** DELTARA FABIAN – Rp******* -UANG BULANAN
Setelah dihujani canda-ejek-dan tanya saat makan siang dengan teman-teman yang kemarin, sore itu Delta duduk-duduk santai sambil menghisap rokok di teras rumah ibadah. Tak lama kemudian Nan keluar dari dalam, dan ia seperti menarik nafas lalu menahannya saat melihat punggung Delta dan kepulan asap. “Delta!”, panggilnya dengan nada seolah Delta adalah anak hilang yang sudah lama dicarinya – domba yang tersesat. “Oh, hai Nan.” Nan berjalan ke arah Delta sambil tersenyum mengangguk-angguk, “Aku memang memanggilmu.” Delta hanya menaikkan alis tidak mengerti.
“Nan, kapan terakhir kali kita ngobrol?”
“Hampir sebulan lalu. Dan… kau masih dapat mimpi yang sama?”
“Ya. Kali ini ditambah sosok seperti kembaranku, dalam bermacam warna.”
Nan menggeleng-gelengkan kepala sambil menunduk.
Dari rumah ibadah itu Delta berjalan menuju parkiran mobil. Tiba-tiba ia mimisan. Delta diam di tempat dan menengadah sejenak kemudian berjalan lagi. Tapi ternyata mimisannya itu belum juga mau berhenti. Maka Delta duduk di salah satu bangku kayu yang masing-masing tidak seragam bentuknya. Bangku kayu itu dibuat oleh mereka yang hobi pahat-memahat, dan beberapa tergabung dalam UKM Pecinta Alam. Bangku-bangku itu mereka atur berserakan asimetris di bawah rimbun pepohonan kampus. Ia menyandarkan kepalanya menengadah. Cahaya matahari yang sudah kalem membuat kilau-kilauan di dedaunan.
“Ngapain di sini Ta? Aku kira kamu langsung pulang”, terdengar suara Nan.
“Menikmati sore.”
Nan tersenyum kecil. Lalu ia menaruh sesuatu di pangkuan Delta, “Hadiah kecil buatmu.” Nan kembali berjalan.
Delta telah berada di kamarnya. Ia duduk di meja belajar dan membuka sebuah kado kecil yang dibungkus dengan kertas putih – rapih. Sebuah kartu ucapan yang dibuat sendiri, juga dari kertas putih. Tertulis,
Agar hangat jiwamu
Teruntuk sahabatku: Deltara
Di bawah kartu itu adalah kitab suci. Delta tersenyum kecil. Ia terkesan pada usaha Nan untuk memperkenalkan Tuhannya. Mungkin Nan mengira Delta berbincang dengannya dan datang ke tempatnya karena merasa butuh bantuan, dan tahu Nan lah pertolongan yang tepat. Padahal tak mustahil Delta memilihnya hanya karena ia merasa dipedulikan. Bagaimanapun, Delta merasakan setitik kehangatan saat jemarinya meraba relief cetakan pada sampul kitab. Ini bukan hadiah yang sia-sia, karena Delta memang tak punya buku ini. Beberapa pria memberi kado buku yang sudah dimilikinya. Maka sering ia menghibahkan buku-buku kembaran itu pada salah seorang temannya, Joanna. Antologi puisi, kumpulan cerpen, novel-novel, catatan perjalanan wisata. Joan kini sudah menikah dan jarang bertemu atau sekedar ngobrol di telepon dengan Delta. Delta teringat suatu masa di mana Joan mengeluh ia tak lagi bisa merasakan kenikmatan makanan – bahkan yang selalu jadi favoritnya, bangun pagi tanpa harapan apapun untuk hari itu, dan sedih untuk setiap tarik-hembusan nafasnya tanpa sebab. Delta hanya mendengarnya tanpa banyak berkomentar, memegang tangan Joan atau meletakkan tangan di pundak Joan sebentar saja – karena Delta sadar tangannya dingin, tidak menghangatkan. Sementara kenyamanan identik dengan hangat: berendam air hangat, pelukan hangat, senyuman hangat. Delta membiarkan bahunya yang sempit basah oleh banjir air mata Joan, sekali lagi tanpa berkata-kata. Pada saat-saat seperti itu tanpa ia ketahui alasannya, ia merasa sebagai sesuatu yang penuh namun tak hendak tumpah. Ia malah merasa mendapat pemakluman. Lalu Joan mengatakan empat atau lima hari ke depan ia tak akan mengganggu Delta. Ia merasa butuh bepergian sendiri. Delta sangat setuju, dan kali itu menepuk pundak Joan. Hal itu jarang terjadi. Seminggu kemudian, Joan kembali menemui Delta. Wajahnya sudah tidak tampak kuyu dan nada bicaranya stabil. Mereka duduk di warung lesehan langsung di bawah langit sore menjelang petang. Delta tersenyum melihat Joan yang tampak sehat.
“Kau pergi ke salah satu tempat yang ada di buku itu?”, tanya Delta memulai pembicaraan.
Joan menggeleng, “Aku ikut retreat seminggu.”
“Ooh.. Gimana? Menyenangkan?”
“Ta,” Joan meletakkan telapaknya di atas punggung tangan Delta. Tangan Joan terasa hangat.
“Yang kemarin itu rupanya siksaan karena aku menjauh dari Tuhan. Aku hanya perlu datang padaNya, itu aja kok,Ta.”
Kepenuhan yang dirasakan Delta rontok seperti tembok semen yang gopal sedikit demi sedikit hingga bolong di sana-sini. Delta sadar Joan memakai kaus yang belum pernah Delta lihat sebelumnya. Kaus itu berbunyi demikian:
LIFE IS A MAYBE
DEATH IS FOR SURE
SIN IS THE CAUSE
GOD IS THE CURE
“Suara hati nggak cukup, Ta, kita butuh Tuhan”, ucap Joanna lagi. Maka jelaslah angin petang itu melubangi dinding semen yang lemah. Ia ingat sepulang dari warung lesehan itu Delta membeli pena baru yang masih hitam pekat tintanya, lalu menulis di kertas:
Betapa beruntungnya manusia setelah zaman pra-sejarah
yang sudah akrab dengan Tuhan.
Semua masalah dan hal-hal tentang dirinya berakar pada Tuhan,
dan semua jawaban datang dari Tuhan.
Tuhan pangkal-ujung.
Seperti aksioma, detik ditarik garis jadi abad,
dan kami semua hanyalah kepingan makhluk-makhluk sejarah
Kecil dan tak berarti, oh Tuhan yang abadi.
Darah menetes di atas kitab suci itu. Kali ini darah mimisan itu banyak keluar dan tidak kunjung berhenti. Delta merasa demam dan sakit kepala. Maka ia pun urung membaca kado dari Nan itu dan langsung naik ke tempat tidur.
Gadis belia berseragam putih-biru berjalan pulang. Saat itu jam sebelas pagi. Para murid dipulangkan lebih awal karena para guru akan melaksanakan rapat persiapan EBTANAS siswa-siswi kelas tiga SMP. Seperti biasa, Delta memilih berjalan kaki daripada naik angkutan umum. Matahari tidak terik, pohon pun tinggi-tinggi. Delta berjalan tanpa melamunkan apapun. Lalu ia mulai memperhatikan langkahnya: kanan-kiri-kanan-kiri. Ia melihat seragamnya yang masih rapih. Ia mendengar detak jantungnya yang setia memompa darah dan mengirimkan sinyal ke otaknya bahwa ia sebuah tubuh yang hidup. Delta mempercepat jalannya untuk mengubah ketukan musik monoton di dadanya.
Waktu berjalan seperti bekicot
Bekicot jalan seperti waktu
Di tanah kering pecah-pecah
Terpanggang mentari yang beku
Dari tanah rumput
Yang subur dengan parasit
Hingga sawah yang sedang panen
Di atas tanah gambut
Delta semakin mempercepat langkahnya, kemudian ia berlari. Setelah ini adalah jalan raya yang lebar. Sebaiknya memperlambat kecepatan dan akhirnya berhenti di ujung jalur aman ini untuk memperhatikan laju kendaraan di jalan raya. Ia berlari memasuki wilayah jalan raya sambil menutup mata. Sepeda motor melintas dan membelok dengan ekstrim menghindari Delta. “Orang gila!” teriak marah pengemudinya. Delta tidak berhenti berlari. Saat sebuah mobil lewat dengan kecepatan tinggi, ia berhenti tepat di tengah jalan, kembali memejamkan mata.
Kamar hotel yang dingin. Delta baru selesai mandi. Gadis kecil yang menggigil itu segera dibalut handuk oleh si pembantu rumah tangga yang ikut diajak minggat oleh Ibu. “Baju yang mana, Bu?” tanya Mirah. “Tuh, yang baru,” Ibu menunjuk kantung belanja yang tergeletak berserakan di atas ranjang. Mirah yang nggak ngerti Bahasa Inggris pun mengandalkan warna untuk mencari mana yang berisi baju baru Delta. Delta yang sudah menggigil kedinginan mengambilkan kantung plastik yang dimaksud Ibu untuk Mirah. Warna kantung itu biru tua dengan font formal berwarna putih. Ibu duduk di sofa dekat jendela sambil memindah-mindah channel TV. Akhirnya Ibu menghentikan kegiatan itu begitu layar TV menampilkan acara Tom&Jerry. Delta mengira Ibu sengaja memilih acara TV itu untuknya. Walau ia tidak jatuh hati dengan Tom&Jerry, ia pun duduk di atas ranjang, mengenakan pakaian yang cocok untuk jalan-jalan di Zhao Jia Bang Road di mana sebuah gedung teater tua berdiri diapit café-café modern. Sesekali ibu menghela tawa kecil saat adegan Tom dan Jerry saling menjahili satu sama lain. Tom mengejutkan Jerry secara ekstrim hingga Jerry terkena serangan jantung dan mati. Tom panik, namun terlambat, nyawa Jerry sudah melayang. Malam itu menjadi malam yang mencekam bagi kucing malang itu. Delta merasa iba pada Tom. Ia hanya bermaksud untuk bercanda seperti hari-hari lainnya. Malam itu Tom bermimpi ia masuk neraka. Tampak kobaran api dan penyiksaan-penyiksaan yang menyeramkan. Delta mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Film selesai. Ibu mematikan TV dan menelepon resepsionis hotel minta dipanggilkan taksi. Di dalam taksi Delta merasa sulit bernafas. Hidungnya sakit setiap kali ia menarik nafas, karena AC taksi terlalu dingin. Tapi ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan selain diam. Maka dalam kesakitan itu, takut-takut Delta mengatakan pada Ibunya,
“Bu, Delta takut masuk neraka…”
“Delta, It was just a movie,” Ibu menurunkan jendela dan menyalakan sebatang rokok. Akhirnya Delta bisa bernafas lebih lega, walau ia tidak pernah suka bau asap rokok Ibu.
Delta tidak bisa tidur. Mimisannya sudah berhenti, sakit kepalanya belum. Delta duduk menelungkup di atas ranjang. Ia menggigil. Dipeluknya erat-erat kedua kakinya. Delta mencari-cari bau asap rokok Ibu.
Delta sedang duduk di dalam ruang kelas membaca kitab suci pemberian Nan. Seorang dosen sedang menjelaskan struktur bahasa Saussure dan Levi-Strauss. Walau terlihat jauh, Delta dapat melihat seorang anggota UKM Pecinta Alam sedang membuat meja kayu, dan di kamar mandi wanita si Eva sedang membeli kokain, dan Nan sedang melipat sarung dan sajadah. Semua terlihat, karena tak ada tembok. Tak ada pilar, tiang listrik, pohon tinggi, tak ada. Ini adalah sebuah horizon telanjang. Lalu seorang pria datang. Ia menepuk pundak orang-orang, semuanya, hingga akhirnya sampai ke Delta. “Ayo bangun, ketemu Tuhan,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu Delta. “Bangun, bangun, ketemu Tuhan,” pria itu menepuk bahu Eva, Nan, dosennya, semua orang tanpa terkecuali. Dan mereka semua berdiri. Ada yang tampak mengerti ada yang bertanya-tanya. Delta merasakan desiran kuat yang menggores tajam di dadanya. Ia ketakutan, seperti akan digilas roda api, seperti Tom. Mereka semua berdiri dan meninggalkan barang apapun yang sedang dibawanya. Eva menjatuhkan kokain nya, Delta menaruh kitab sucinya terbuka begitu saja. Mereka semua lalu berkumpul di satu ruang lemari pakaian yang luas. Mereka harus memilih pakaian yang indah di dalam lemari itu, untuk bertemu Tuhan. Delta melihat kawan-kawan sekolah dasarnya, almarhum-almarhum saudara dan tetangganya, tapi tak ada yang saling menyapa. Semua sibuk memilih baju. Dan mereka semua tampak bergairah. Delta tidak. Delta memutuskan untuk mengenakan baju yang sedang dikenakannya saja, kaus hitam bertuliskan “live like there’s no hell”. Kemudian mereka semua membentuk barisan panjang di depan sebuah pintu. Delta mencari-cari ibunya, tapi tidak menemukannya. Di depan Delta adalah seorang wanita seumurannya yang tentu saja tak dikenalnya. Barisan terus berkurang. Delta semakin dekat dengan pintu. Keringat dingin membasahi tangan dan punggung Delta. Ia ingin pasrah tapi tak bisa. Akhirnya gadis di depan Delta adalah orang yang berdiri persis di muka pintu yang tertutup itu. Delta makin gelisah. Ia berharap padang pasir ini punya titik-titik lumpur hisap, berharap yang diinjaknya adalah bagian lumpur hisap dan sebentar lagi ia akan lenyap ditelan bumi, daripada masuk pintu misteri itu. Tapi tidak. Derak pintu mulai terdengar, pertanda gadis di depannya akan masuk. Delta terbangun dengan kasar. Ia hampir melompat dari bangku kuliahnya. Kemudian ia melihat gadis dalam mimpinya itu duduk di sebelahnya. Pada Delta ia berkata,“Kalau ku tahu begitu pedih siksanya, aku berharap tak pernah dilahirkan.” Delta tersentak. Matanya membelalak sampai kekeringan seperti gadis kecil yang melepas jalinan rambut kepangnya. Dan ia terbangun lagi. Dosen dan mahasiswa mengelilinginya. Meja bangku kuliah yang ia tiduri bersimbah darah. Delta kembali melihat tembok dan atap. Tidak ada kitab suci pemberian Nan. Delta berdiri hendak ke kamar mandi namun ia merasa lemas dan semua yang dilihatnya menggelap hilang.
Delta terbangun di rumah sakit. Yang dilihatnya adalah seorang dokter, Dennis, dan seorang pria berambut panjang ikal – pria ini adalah salah satu dari mereka yang hobi memahat. Rupanya Dennis meminjam mobil pria ini tadi. Delta langsung direkomendasikan untuk secepatnya tes darah. Jam setengah empat sore itu, di dalam rumah ibadah, dalam sujudnya Nan tersedu berlinang air mata – tanpa tahu kenapa. Dokter menganjurkan Delta opname. Serta merta Delta menolak. Hasil tes darah selesai besok. Setelah mengambil mobilnya di kampus, Delta diantar pulang oleh Dio, si anggota UKM Pecinta Alam itu, sementara Dennis memulangkan mobil Delta. Mereka berkeras tidak mengizinkan Delta menyetir sendiri.
“Hey, gimana, lo baik-baik aja?” tanya Dio sambil menyetir.
Delta menggeleng, lalu menyalakan rokok. Mobil itu tidak berpendingin, sehingga jendelanya selalu dibuka saat dikendarai – kecuali di jalur hutan saat tengah malam, karena akan banyak serangga yang masuk.
“Lo yang sering duduk-duduk di depan pos Mapala,” ucap Dio lagi, tanpa nada tanya atau seruan.
“Ya, gue suka tempat itu. Banyak tanaman, dan.. bangku-bangku kayunya itu nyaman banget.”
Dio tampak tersenyum bangga.
“Sejak penebangan perhutani udah out of control, apa nggak ada perasaan was-was, Io?”
Kini Dio tampak seolah duduknya tidak nyaman.
Begitu sampai di apartment, hal pertama yang dilakukan Delta adalah berusaha meneruskan novelnya. Ia kebingungan, tapi terus berusaha cari cara untuk meneruskan tulisannya. Ia belum juga menemukan apa yang hendak ia sampaikan di novel ini, dan ia merasa menuliskan mimpi-mimpinya tidak lagi relevan, semenjak mimpi-mimpinya sudah semakin kacau. Novel ini harus menjadi sesuatu. Delta mulai membayangkan sebuah novel yang menggerakkan pembacanya untuk melakukan sesuatu, mengubah pola pikir mereka. Delta mulai meruncingkan kalimat-kalimatnya yang selama ini hanya deskriptif dan berimpresi tanpa argumen. Semakin penanya berusaha meyakinkan sesuatu, semakin gamang kalimat-kalimat yang ia torehkan… Jiwanya serasa melayang ditiup kalimat-kalimatnya sendiri.
…
Pada akhirnya alfabet juga sebuah organisasi,
Urutan yang hanya dihafal dan tak perlu dihayati.
Iman yang tergantung kepadanya akan jadi
kepercayaan yang tampak kuat, teratur, tapi seperti
tentara berseragam: sebuah mesin pertahanan dan
agresi. 2
Kepala Delta jatuh lunglai di atas meja. Tangannya mencari dan kemudian menggenggam handphone. Ia menelepon Joanna – yang sudah tidak memiliki nomer Delta, karena Delta berganti nomer telepon tanpa memberitahunya.
“Halo?”
“Saya mau pesan pizza.”
“Orang gendeng.”
Pukul empat pagi. Di bingkai jendela kamarnya Delta melihat kerlip-kerlip kecil rumah warga; mobil yang tampak seperti persegi panjang yang berjalan lambat, seolah seukuran telapak kakinya.
Nothing unusual, nothing’s strange,
Close to nothing at all
Same old scenario, same old rain
There’s no explosion here
I’m not a miracle, and you’re not a saint
Just another soldier on a road to nowhere…3
Senandung lagu terakhir di playlist CDnya yag entah sudah berputar berapa kali dari lagu satu sampai sepuluh, akhirnya berhasil membujuk Delta untuk berbaring di ranjang. Saat ini Delta ingin sekali dapat meneteskan air mata walau setetes saja. Hasil tes darah menunjukkan kurangnya jumlah sel darah merah dan sel darah putih berlebih 2.000 sel. Opname kembali direkomendasikan, nomer telepon atau alamat kerabat juga ditanyai. Delta memberi alamat tempat tinggalnya dan mengarang nama fiksi untuk dijadikan sosok Bapak – Ibu.
Nan, bagaimana jika
nabi hanyalah orang kesurupan,
dan iman diciptakan untuk jadi candu
atas kesakitan yang tak tertahankan:
dilahirkan
?
Karena sesungguhnya, tulis Korrie,
Aku telah bersujud di masjid, sembahyang di pura,
menyanyi puja-puji di gereja, dan bersunyi-sunyi
di vihara, Daniel, dan tetap tak kutemukan Tuhanku.
Jika anak ini sudah lahir nanti, suamiku, kemana ia akan kau bawa
untuk menemui Tuhannya?
Jika kau membagi tugas itu denganku, aku hanya akan membacakannya dongeng sebelum tidur…
Darah menetes di kertas saat Delta berusaha meneruskan novelnya. Delta membiarkannya menjadi titik penanda bab baru. Paragraf-paragraf itu berserakan tanpa benang merah naratif yang nantinya menjadi nyawa pembaca4.
Korrie sayang,
Hari ini di perkuliahanku, sebuah fakta medis terbaru
jadi pembicaraan hangat antara aku dan kawan-kawanku:
Saluran oksigen tercepat ke otak itu ternyata tidak di rongga dada
maupun usus kita yang berkilo-kilo meter tersebut,
namun di balik lidah.
Maka dari itu, depresi menjadi sangat dekat dengan mereka
yang mengalami palpitasi
Ternyata darah mimisan tidak menetes sekali, tentu saja. Namun kali ini Delta tak hendak berhenti.
Daniel, coba nanti kau baca buku reportase ini
Seorang atheis Amerika yang berguru – tanpa sengaja –
pada seorang cenayang Yaqui
telah mencoba berbagai ramuan racikannya sendiri,
melakukan ritual-ritual yang diajarkan secara ketat oleh si Yaqui,
dan ia telah mengalami pertemuan-pertemuan dengan
berbagai makhluk tak kasat mata,
bahkan pernah menjadi sebesar raksasa namun seringan udara.
Ia telah menyaksikan pelosok dunia.
Penglihatannya itu dibenarkan secara objektif oleh gurunya,
dan semua yang pernah berhasil mencoba.
Ketika si Amerika dengan takjub bertanya, “Apakah aku telah menembus dunia lain?”
Sang guru tertawa kecil dan menjawab, “Sesungguhnya kau hanya berwisata di satu dunia: bumi.”5
Korrie, berhentilah membuatku percaya bahwa gagak berwarna putih berkelipan.
Suatu sore sehabis hujan, Delta kembali duduk sendirian di bangku kayu depan UKM Pecinta Alam. Dan ia tak bisa menyembunyikan takjub saat melihat seekor kenari mendarat dan berjalan-jalan sebentar di sandaran bangkunya. Dari dekat dan dengan mata telanjang Delta melihat sebuah spektrum berani dan menantang pada sebuah makhluk mungil. Ketika Delta melihat Dio, Delta mengucapkan terima kasih karena sudah membuat bangku kayu itu dan meletakkannya sedemikian rupa. Tanpa kata-kata Dio tersenyum sumringah dan dengan spontan memeluk Delta erat – singkat.
Aku tak memaksamu untuk percaya,
Aku hanya menceritakan kembali kesaksian si Amerika ini.
Itulah pengalamannya saat ia menjadi gagak
Nan, mengapa aku dilahirkan
tanpa persetujuan dulu dariku?
Dan, Nan, pernahkah kamu menyaksikan kejadianmu,
Ayo ceritakan padaku,
hingga setiap hari kau berucap:
“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasulNya”
Adzan ashar sudah lama berlalu, dan adzan maghrib sebentar lagi berkumandang. Biasanya saat ini Nan sudah berada di dalam masjid, tapi pria itu sudah dua jam duduk di teras rumah Tuhan menunggu Delta.
Pada suatu hari yang biasa, Delta telah menyelesaikan novelnya, tanpa punya daya untuk berencana ke depan terhadap novel tersebut. Delta sudah lima hari terkulai di rumah sakit. Ia bernafas dengan tabung oksigen. Malam itu Delta akan dikembalikan ke kamar biasa dari ruang ICU yang dingin, seram, dan penuh peralatan medis yang Delta bayangkan bisa saja ruang ICU itu seperti laboratorium penciptaan manusia. Delta membuka matanya pelan-pelan. Semua tampak kabur. Ia baru saja dibius. Seorang perawat mendorong ranjang dorongnya di belakang kepalanya. Sementara berjalan mengiringi dari samping ranjang, ia melihat seorang suster yang wajahnya sangat mirip dengannya, pula pucat dengan garis mata hitam yang tebal seperti matanya. Suster itu memperhatikan Delta dengan senyuman. Baru kemarin pagi Delta menyerahkan seikat kertas-kertas novelnya itu pada Nan. Dengan senyum dan pandangan mata nakal, suster-kembarannya itu memainkan selang oksigen. Ia katupkan dengan jemarinya, lalu ia lepaskan lagi. Dengan sisa tenaga, Delta tertawa.
Suatu pagi yang cerah, Delta duduk di bangku kayu yang sama, menunggu seseorang. Wanita yang ditunggunya datang. Delta menyapanya dengan senyuman.
“Ta,”
Sunyi.
“Kok kamu wisuda cuma pakai baju gini? Nggak nyalon lagi.”
“Maaf,Bu, aku bohong. Duduk di sebelahku, Bu.”
“Kok kamu kurus banget sih? Pucat lagi mukanya… Nggak pernah minum vitamin ya?” tanya wanita itu menyandarkan punggung di bangku kayu, membelai rambut Delta untuk melihat lebih dekat garis mata hitam yang membingkai sebuah tatapan yang berbinar hangat – yang tak pernah dilihatnya sebelum pagi itu.
“Tunggu deh, Bu, sebentar lagi ada burung kenari warna-warni,” ucap Delta memandang ibunya dengan binar secerah pagi itu, dan sesayu dedaunan basah sehabis hujan.
Catatan:
1.Tuhan&Hal-Hal yang Tak Selesai: Pada essay ke 25, Goenawan Mohamad menjelaskan bahwa bayang-bayang sebenarnya lahir dari hambatan.
2. Tuhan&Hal-Hal yang Tak Selesai: Pada essay ke 16, GM membicarakan gambaran verbal tentang Tuhan.
3. Potongan lirik lagu “Amy” yang ditulis dan dinyanyikan oleh Damien Rice, penyanyi solo asal Dublin.
4.Film Art: Pada bagian Naratif&Narasi, David Bordwell menjelaskan bahwa setiap penonton dan atau pembaca memiliki causal motivation, yaitu tendensi untuk mengaitkan satu elemen dengan elemen lain: sebab-akibat.
5.Teaching Of Don Juan: The Yaqui Way Of Knowledge: Carlos Castaneda tadinya adalah mahasiswa yang hendak melakukan penelitian terhadap varian tanaman di Mexico. Lalu ia bertemu Don Juan, dan Carlos pun menuliskan pengalamannya dalam buku ini.
Selasa, 25 Juni 2013
Senin, 24 Juni 2013
sebuah kisah pendek:
LAPANGAN PARKIR SIANG ITU
Keisha Aozora
“Check,check” Seseorang menempelkan mulutnya pada microphone. “Mari,mari merapat, padatkan barisan.”
Sedari tadi awan tebal bergelayut, seolah menjadi payung bagi lapangan parkir yang sangat luas ini. Lapangan tanpa pepohonan yang biasanya panas terasa sejuk siang ini. Jika kau menarik nafas, udara sejuk ini akan merogoh parumu dan mencuri sekantung madu dari dua bongkah bidang berlendir dengan katu-katup udara itu. Sebuah panggung kokoh, pembawa acara itu tampak gagah dan anggun. Tubuhnya tinggi dengan liukan lekuk yang menggoda kita untuk menyandarkan kepala pada lekuk-lekuk itu.
Aku berjalan maju mendekati panggung bersama puluhan orang lainnya. Delapan puluh, sembilan puluh, mungkin seratus orang. Namun derap langkah mereka hampir tak terdengar. Aku hanya bisa mendengar sepatuku menginjak aspal, disusul injakan berikutnya. Itulah yang disebut langkah. Kita membuat jalan bagi kepala kita dengan menginjak sesuatu. Kakiku basah dengan keringat. Setiap hembusan nafas rasanya mendorong paru-paru dan semua organ dalamku turun ke kaki.
“Kita berkumpul siang ini, saudara-saudariku, karena keyakinan yang satu.” Dinginnya sisi pisau dalam genggaman orang bersentuhan dengan tanganku. Pembawa acara itu menarik nafas, begitu beratnya hingga terdengar di speaker. Hembusan nafas berat ini tak pernah terdengar dalam percakapan telepon beberapa waktu lalu.
“Halo, benar dengan Alexa?” “Ya?” “Apa benar kamu tergabung dalam triple double you dot togetherwego dot net?” “Ya, saya anggota mailing list” “Acara kami akan digelar dua minggu dari sekarang. Nggak ada paksaan, kamu boleh nggak datang. Kami ada di sini untukmu”
Aku menatap pada pembawa acara yang berwibawa dengan beratnya hembus-tarik nafas di microphone. Ia tampak seperti pahlawan pada detik-detik menuju akhir. Sebuah tali tambang terikat kuat di atap panggung, menggantung statis tidak tertiup angin. “Kita ada di sini bukan karena kita lemah, bukan karena kita pengecut!” Suaranya serak berteriak menghantam mic. Kulihat darah menetes berulang kali di sebelahku. Anonim ini rupanya sudah menerkam makanan pembuka.
Aku sendiri… hanya punya patahan gunting kebun, yang sudah kuasah tadi pagi. Ibuku suka berkebun sendiri, menggubah semak-semak yang cantik, memangkas dahan-dahan liar, hingga pada suatu hari kutemukan ia menggantung lehernya di salah satu dahan pohon mahoni. Tidak jauh dari tubuh Ibu kutemukan pisau kebun yang sudah hampir patah menjadi dua mata pisau, seperti kedua orang tuaku. Dua mata pisau, jika direkatkan, ia menjadi gunting. Masing-masing dari kami yang berkumpul siang ini adalah mata pisau, yang sudah bersimbah darah anjing sebelum rapalan doa dikumandangkan. Dan pembawa acara yang gagah berani ini adalah baut bulat yang menyatukan seratus mata pisau untuk melukai senja, agar jingganya tampak lebih berani.
“Tapi karena kita tahu, tidak ada nilai yang bisa kita hargai lagi di sini. Cinta, kedamaian hati, omong kosong.”
“ANJING! ANJING!” Seseorang di belakang barisanku berteriak memaki. Aku menoleh dan kulihat orang di sebelahnya sudah menggelepar di tanah dengan mulut berbusa. Wajahnya menghijau dan semua urat wajahnya mulai bertonjolan, perlahan namun pasti. Sejak kepergian Ibuku, aku tidak merasakan apapun. Tidak ada benci, marah, atau apapun. Semua rasa terkubur sempurna bersama jasadnya. Baru kali ini, setelah sekian lama, kurasakan detak jantung yang begitu hidup… seolah mataku hendak menggelinding keluar dari kelopaknya.
“Alexa, ditanya tuh sama Tante, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” Aku berpegangan pada rok Ibu, kelakuanku yang tidak disukainya. Katanya sepert anak penakut. Hanya seorang bayi yang boleh mencengkeram baju Ibunya seperti itu.
”Aku mau jadi Bapak…”
Ibu melotot melihatku dan Tante tertawa kecil. “Alexa kan perempuan…bisanya jadi Ibu.” Aku menggeleng pelan, namun terus-terusan. “Ibuku sayang banget sama Bapak, Ibu cantik banget kalau lagi dipeluk Bapak, Alexa mau jadi Bapak!” Sebuah tamparan keras membanting pipiku. Ibu marah. Ibu selalu marah padaku, dan selalu sayang Bapak. Aku mau jadi Bapak! Aku mau jadi buronan polisi, buronan wanita hamil yang selalu memukul-mukulkan tangannya ke pagar rumah, aku mau melakukan apapun yang Bapak lakukan supaya disayang Ibuku.
Si pembawa acara menggenggam lubang kepala pada tali tambang yang menggantung. Ia naik ke atas speaker tinggi, dan menjatuhkan mic. “Mari kita akhiri mimpi buruk ini sekarang!” ucapnya lantang, mematahkan dadaku, menggetarkan agregat dan mortar dalam aspal. Rintihan-rintihan melengking terdengar bersahutan, menumpuk, menikam lapangan parkir ini secara bertubi-tubi. Kudengar suara pisau memotong kerongkongan berkali-kali hingga kepala itu hampir lepas, tubuh-tubuh jatuh namun suara rintihan masih terus bertiup di udara seperti mantra.
Kuberanikan diri, kukuatkan hatiku yang telah lama mati, demi hari ini. Sampai jumpa Ibu! Mata pisau menyobek ususku. Kutatap nanar pembawa acara. Ia terbata mengatakan, “Aku…berubah, berubah pikiran..berubah pikiran..”
Selasa 25 Juni 2013 [03:15]
Keisha Aozora
“Check,check” Seseorang menempelkan mulutnya pada microphone. “Mari,mari merapat, padatkan barisan.”
Sedari tadi awan tebal bergelayut, seolah menjadi payung bagi lapangan parkir yang sangat luas ini. Lapangan tanpa pepohonan yang biasanya panas terasa sejuk siang ini. Jika kau menarik nafas, udara sejuk ini akan merogoh parumu dan mencuri sekantung madu dari dua bongkah bidang berlendir dengan katu-katup udara itu. Sebuah panggung kokoh, pembawa acara itu tampak gagah dan anggun. Tubuhnya tinggi dengan liukan lekuk yang menggoda kita untuk menyandarkan kepala pada lekuk-lekuk itu.
Aku berjalan maju mendekati panggung bersama puluhan orang lainnya. Delapan puluh, sembilan puluh, mungkin seratus orang. Namun derap langkah mereka hampir tak terdengar. Aku hanya bisa mendengar sepatuku menginjak aspal, disusul injakan berikutnya. Itulah yang disebut langkah. Kita membuat jalan bagi kepala kita dengan menginjak sesuatu. Kakiku basah dengan keringat. Setiap hembusan nafas rasanya mendorong paru-paru dan semua organ dalamku turun ke kaki.
“Kita berkumpul siang ini, saudara-saudariku, karena keyakinan yang satu.” Dinginnya sisi pisau dalam genggaman orang bersentuhan dengan tanganku. Pembawa acara itu menarik nafas, begitu beratnya hingga terdengar di speaker. Hembusan nafas berat ini tak pernah terdengar dalam percakapan telepon beberapa waktu lalu.
“Halo, benar dengan Alexa?” “Ya?” “Apa benar kamu tergabung dalam triple double you dot togetherwego dot net?” “Ya, saya anggota mailing list” “Acara kami akan digelar dua minggu dari sekarang. Nggak ada paksaan, kamu boleh nggak datang. Kami ada di sini untukmu”
Aku menatap pada pembawa acara yang berwibawa dengan beratnya hembus-tarik nafas di microphone. Ia tampak seperti pahlawan pada detik-detik menuju akhir. Sebuah tali tambang terikat kuat di atap panggung, menggantung statis tidak tertiup angin. “Kita ada di sini bukan karena kita lemah, bukan karena kita pengecut!” Suaranya serak berteriak menghantam mic. Kulihat darah menetes berulang kali di sebelahku. Anonim ini rupanya sudah menerkam makanan pembuka.
Aku sendiri… hanya punya patahan gunting kebun, yang sudah kuasah tadi pagi. Ibuku suka berkebun sendiri, menggubah semak-semak yang cantik, memangkas dahan-dahan liar, hingga pada suatu hari kutemukan ia menggantung lehernya di salah satu dahan pohon mahoni. Tidak jauh dari tubuh Ibu kutemukan pisau kebun yang sudah hampir patah menjadi dua mata pisau, seperti kedua orang tuaku. Dua mata pisau, jika direkatkan, ia menjadi gunting. Masing-masing dari kami yang berkumpul siang ini adalah mata pisau, yang sudah bersimbah darah anjing sebelum rapalan doa dikumandangkan. Dan pembawa acara yang gagah berani ini adalah baut bulat yang menyatukan seratus mata pisau untuk melukai senja, agar jingganya tampak lebih berani.
“Tapi karena kita tahu, tidak ada nilai yang bisa kita hargai lagi di sini. Cinta, kedamaian hati, omong kosong.”
“ANJING! ANJING!” Seseorang di belakang barisanku berteriak memaki. Aku menoleh dan kulihat orang di sebelahnya sudah menggelepar di tanah dengan mulut berbusa. Wajahnya menghijau dan semua urat wajahnya mulai bertonjolan, perlahan namun pasti. Sejak kepergian Ibuku, aku tidak merasakan apapun. Tidak ada benci, marah, atau apapun. Semua rasa terkubur sempurna bersama jasadnya. Baru kali ini, setelah sekian lama, kurasakan detak jantung yang begitu hidup… seolah mataku hendak menggelinding keluar dari kelopaknya.
“Alexa, ditanya tuh sama Tante, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” Aku berpegangan pada rok Ibu, kelakuanku yang tidak disukainya. Katanya sepert anak penakut. Hanya seorang bayi yang boleh mencengkeram baju Ibunya seperti itu.
”Aku mau jadi Bapak…”
Ibu melotot melihatku dan Tante tertawa kecil. “Alexa kan perempuan…bisanya jadi Ibu.” Aku menggeleng pelan, namun terus-terusan. “Ibuku sayang banget sama Bapak, Ibu cantik banget kalau lagi dipeluk Bapak, Alexa mau jadi Bapak!” Sebuah tamparan keras membanting pipiku. Ibu marah. Ibu selalu marah padaku, dan selalu sayang Bapak. Aku mau jadi Bapak! Aku mau jadi buronan polisi, buronan wanita hamil yang selalu memukul-mukulkan tangannya ke pagar rumah, aku mau melakukan apapun yang Bapak lakukan supaya disayang Ibuku.
Si pembawa acara menggenggam lubang kepala pada tali tambang yang menggantung. Ia naik ke atas speaker tinggi, dan menjatuhkan mic. “Mari kita akhiri mimpi buruk ini sekarang!” ucapnya lantang, mematahkan dadaku, menggetarkan agregat dan mortar dalam aspal. Rintihan-rintihan melengking terdengar bersahutan, menumpuk, menikam lapangan parkir ini secara bertubi-tubi. Kudengar suara pisau memotong kerongkongan berkali-kali hingga kepala itu hampir lepas, tubuh-tubuh jatuh namun suara rintihan masih terus bertiup di udara seperti mantra.
Kuberanikan diri, kukuatkan hatiku yang telah lama mati, demi hari ini. Sampai jumpa Ibu! Mata pisau menyobek ususku. Kutatap nanar pembawa acara. Ia terbata mengatakan, “Aku…berubah, berubah pikiran..berubah pikiran..”
Selasa 25 Juni 2013 [03:15]
Langganan:
Komentar (Atom)