Jumat, 05 Juli 2013

translation of LAPANGAN PARKIR SIANG ITU



A Parking Lot in the Afternoon
KEISHA AOZORA

“Check, check,” someone grabbed the microphone, “Get closer, make the rows tighter.”
It has been a very grey day, as if the clouds are going to drop at this large parking lot. A place with no trees that usually burns your skin, it chills today. If you inhale, the air will run to your lungs and rob a pocket of honey from there. A big stage stands strong, and the host looks masculine and graceful. A tall body with beautiful hollows that tempts us to lean our heads inside.

I walked closer to the stage, with a hundred of another heads, but their footsteps is almost noiseless. I could only hear my shoes stepping on the ground, and my breathing sounded so clear like an old music box inside my throat. My feet were wet by sweat. Every breathe I exhale felt  like pushing all my insides down to my toes.

“We are here today, my brothers, for our faith.” The ice-cold of a knive touched my hand. The speaker spoke for the air around the microphone that got sucked up by the host. This heavy breathing had never been heard before, on the phone, some times ago.
“Hello, am I speaking with Alexa?”
“Yes?”
 “Are you joined in the triple double you dot togetherwego dot net?”
“Yes, I’m in your mailing list.”
“Our event will take place in two weeks. There is no pressure, you can come or not. We’re here for you.”

I stared at the charming host and listened to the sound of heavy breathing around the microphone. This person looked like a hero near end time. A staple rope tied up tight on the stage ceiling, hanging still unblown by the wind. “We’re here not because we are weak, we are not losers!” A loud raspy voice hit the mic. I saw blood was dripping time to time, by my side. Looked like this anonymous had attacked the appetizer.
Me, my self… I was just holding this piece of a big garden scissor that was broken in two. I made it sharper this morning. My mom liked to garden alone, dressing up the bushes, cutting the wild branches, until one day I found her head hanged up on the mahogany tree. Not far from her body, I found this scissor. It was already broken in two, like my parents. Two knives that tied to one, is a scissor. Each of us here in the parking lot was a knife, that already wet with dog’s blood before the prayer sung [1] and this strong person on the stage was a round screw that tied a hundred of knives to hurt the dusk, for its orange to look braver.
“But we’re here ‘cause we know, that no value we could respect anymore. Love and inner piece is a great lie.”
“Oh mother of fuck!” someone behind my row shouted in shock. I looked back to witness a man down on the ground, his body was convulsing with foam out from his mouth. His face turned green and all the nerves showing up to the surface of his skin, slowly but sure. Since the leave of my mother, I had not felt anything. There was no hate, anger, or anything. Every feeling was perfectly buried down with her body.  This present moment was the first time I felt my heartbeat so lively… as if my eyes were going to roll out of their lids.

“Alexa, didn’t you hear your aunt? She asked you what do you want to be when you grow up,” my Mom looked at me like a gardener that puts so much hope in the flowers. My hands was holding on to her skirt, a behavior considered as misbehave for her. She said it shows to people that I am a chickenshit. Only a baby can grab her mom like that.
“I want to be Dad…”
Mom looked at me so angrily and her friend giggled, “Alexa, you’re a girl.. maybe you mean you want to be a mother?” I shook my head, slowly but continuous, “My mom loves my dad so much, she looks most beautiful when she’s in his arms, I want to be Dad!” A fast and painful slap landed on my cheek. Mom was angry, and she is always angry – to me, and always love – my Dad. I want to be Dad! I want to be a fugitive, I want to be the one whom the pregnant woman always seek, banging her hands on our gate. I want to do anything Dad did so I could be the one my Mom loves. 

The host’s hands hung on to the head hole of the staple rope, already standing on a tall speaker, and dropped the microphone. “Let’s end this nightmare now!” The voice was loud enough to break my chest, convulsing the mortar and aggregates in the asphalt. Canon of painful cries mounted up, stabbing this parking lot like meteor rain.  I could hear a sound of a knife cutting a throat again and again until the head almost fall. Bodies hit the ground but the cries sound still, blowing in the air like mantra. 

I strengthened my will, I woke up my heart that had been long dead, for today. See you, mother! The knive torn my intestines. I faintly stared to the host and that person said, with a voice that shakes, “I…I changed my mind…”

June 25, 2013 [03 AM]
Translated on July 6, 2013 [1 AM]


[1] In Islam, before we slay animal’s head for food, we pray out loud.

Rabu, 03 Juli 2013

sebuah igauan:

SEPASANG MATA JALANG
oleh: Keisha Aozora


Di café ini aku duduk, dengan kopi yang lebih gelap dari malam. Pukul enam pagi, aku pengunjung pertama. Kusuap pelayan dengan lembaran-lembaran rupiah, agar mengizinkanku masuk dan membiarkan aku meneguk penawar ini: kopi.  Badanku lemas sekali, rasanya aku hendak terjatuh di depan pintu café. Melirik ranselku yang hampir muntah dan tas kain berisi beberapa kanvas dan kuas, pelayan itu memicingkan telunjuknya ke arah hotel. Entah hotel, entah trotoar di depan hotel itu. Namun dengan uang suap aku bisa masuk. Pun setelah aku duduk di sofa café, gantungan pintu bertuliskan “SELAMAT DATANG” masih belum dibalik. Jam enam pagi. Terlalu pagi untuk mengetuk pintu rumah seorang tabib, terlalu pagi untuk menelepon siapapun, terlalu pagi untuk berbicara pada diri sendiri, sekalipun. Aku tak pernah melakukannya. Aku tahu, setiap orang pasti pernah berdialog dengan diri dalam pikirannya, namun aku, aku selalu memotong dialog itu secepat goresan kuas saat kau yakin dengan bisikan darahmu. Aku tidak pernah berpikir. Semua warna yang kugoreskan adalah semacam keputusan yang dibisikkan dari urat leher, dari batang lengan, dari darah.

Aku punya studio kecil-kecilan jauh dari café ini. Rumah terbengkalai yang kemudian kuhidupkan dengan kegiatan melukisku. Aku ini, kurasa, ahli dalam menghidupkan sesuatu yang mati. Kuhidupkan mesin penyimpan uang di kasir café ini saat masih seharusnya mati, aku melukis senyum pada wajah pelayan ngantuk yang menerima lembaran uang suap, kubuat tubuh kurus perempuan itu jadi hangat. Tidak dengan selimut, tapi dengan darahku. Kurasa darahku ini, dengan berbagai keputusan warna dan cara menggores kanvas, bisa mentransfer apapun, bahkan pada tubuh seorang penari.  

Udara dingin saat itu. Aku menghadiri pameran tunggal seorang kawan yang terpesona dengan mistifikasi kabut, maka ia memutuskan untuk mencari galeri di daerah pegunungan untuk pamerannya. Gadis itu menari di genangan air. Air yang bagiku sedingin es batu, malam itu. Kulitnya putih, dengan urat nadi hijau kebiruan, mungkin karena menahan tajamnya dingin. Namun matanya, aku terperangkap dengan tatapannya yang stagnan, tajam, seolah tak terpengaruh dengan gigitan air es dan udara malam di pegunungan.  Tatapan mata yang lebih jalang dari kejora itulah… pelabuhanku.

Ia tak pernah berbicara dengan asap berhembus dari mulutnya. Ia tak pernah terburu-buru dalam meneguk kopinya. Ia memberi waktu pada segala kenikmatan. Si jalang yang dingin. Ia tak pernah berkomentar tentang kegugupanku. Berada di dekatnya, aku tampak seperti orang gagap dan gugup. Aku menghisap rokok dan menghembuskannya dengan cepat, menyesap kopi yang masih mengepul asap dan membakar lidahku, bahkan mungkin nafasku pun terlalu cepat.

Pukul sembilan pagi. Rasa kantukku buyar dengan berita pembunuhan misterius yang kejam. Bagaimana mungkin tubuh korban utuh dan tidak terluka, namun kedua bola matanya lepas dari kepala si jasad tak berdaya itu. Sampai berhari-hari kemudian, tak ada berita tentang siapa pencongkel bola mata yang biadab itu. Biadab!

Sudah dua hari aku tidak tidur. Di samping jendela kamar hotel aku berhadapan dengan segelas kopi dan rokok. Aku mengecap busa dan rasa susu yang sangat halus di ujung lidahku. Busa cappucino itu bertuliskan “LIFE IS SHORT ENJOY YOUR COFFEE”. Cairan coklat berbuih menyapu permukaan meja. Akhiri saja hidupmu, barista. Hidup tidak bisa dinikmati dengan kopi coklat susu berbuih-buih ini. Aku duduk bengong, setelah mendorong cangkir itu hingga tumpah kopinya. Bibirku berbingkai busa dengan asap rokok yang bergerombol, melayang…mencemooh seluruh kedirianku. Pecundang yang lari dari segala – yang telah ia hidupkan kembali.

“Kau harus minum kopi hitam, sekali-kali,” Ia memegang cangkir kopinya, berdiri menghadapku.

“Kenapa?” tanyaku, dengan hembusan nafas yang terlalu cepat. Segera kualihkan tatapanku dari sepasang mata itu. Kuterjang visual genangan hitam pekat di dalam cangkir di tangannya.

“Pahitnya sejenak menghentikan detak jantungmu.”

Suara sirine ambulans bersahutan dengan sirine mobil polisi. Aku melongok ke luar jendela. Dari atas kusaksikan orang bergerombol di luar. Biadab! Pencongkel bola mata terus beraksi, kali ini korbannya seseorang yang berada di hotel ini. Entah tamu, atau pegawai hotel. Tiba-tiba aku merasa diikuti, didekati. Lokasi mutilasi terus mendekati tempat di mana aku berada. Kunyalakan TV. Sebuah adegan sinetron langsung dipotong dengan Buletin Siang. Setelah tiga kasus pencongkelan mata dengan satu korban yang bertahan hidup, warga dan keluarga korban mulai mendesak dan mendemo polisi karena belum juga menciduk pelaku. Terdengar ketukan dari balik pintu kamarku. Aku tersentak, lompat dari sofa, terjatuh. Kepalaku pening. Aku mengemasi barang-barangku.

“Katakan sesuatu, kau…jalang!” suaraku yang gemetar terdengar lebih tegas, berharap dapat menembus kabut menuju sepasang mata jalang.

“Aku kira kita ini sepasang… tapi ternyata bukan hanya di sini kau jadi binal!”

Baru malam itu, kurasakan hatiku. Mungkin, ternyata aku punya sesuatu di dalam dadaku ini, selain darah yang membisikkan warna. Sungguh kurasa dadaku hancur berkeping-keping. Kulihat lukisan tubuhnya telanjang di sebuah galeri.

Aku tidak tahu banyak tentang dia. Tatapan dinginnya seperti pelabuhan, dari situlah pinisi tak lulus uji berlayar. Aku dan dia. Jika kutanya tentang asal-usulnya, dia bilang dia itu penari, bukan pencerita. Dan aku pelukis, ia cukup menyaksikan segala kedirianku pada kanvas, sisanya pada setiap hari yang bergulir di studio, pada setiap ia menggerakkan tubuhnya. Di mataku, ia jadi lebih gelap dari malam, lebih luas dari ruang. Ketika suatu malam ia berani menginterupsi lukisanku dengan menari menutupi kanvas, merusak komposisi warna yang masih basah dan mengoyak tekstur cat, aku yakin dialah kekasih, belahan jiwa yang selalu kuanggap omong kosong. Kutatap dalam-dalam sepasang mata itu, tatapannya yang dingin, jalang, dan mencekam. Setelah kulihat tubuh jalangnya di kanvas pelukis lain, mungkin ia tak pernah bercerita tentang sejarahnya karena ia adalah pelacur yang naik pangkat jadi penari di kemudian hari. Brengsek!

Pagi yang cerah dan sempurna. Kuucapkan selamat tinggal. Kuantar ia sampai daun pintu tak bergagang. 
“Kurasa kita nggak usah bertemu lagi. Aku harap kamu mengerti.”

Aku terus berjalan. Teriknya matahari hanya membakar mataku, namun seluruh badanku berkeringat dingin, gemetar. Koran pagi mengabarkan, menurut pengakuan salah satu korban, si pembunuh adalah lekukan garis dengan goresan warna-warna cat minyak. Namun korban itu sudah dimutasi ke Rumah Sakit Jiwa, dan…pengakuan itu tidak dimuat di media lain.

“Aku nggak ngerti dengan orang yang nggak menghabiskan kopinya… suatu saat kopi itu akan menghabisi nyawanya. Aku yakin.”

“Sayang, obsesimu pada kopi hitam mungkin sudah melebihi batas…”

“Batas? Itu hanya milik jasad.. jiwa tak berbatas…”

Aku jatuh lemas di hadapan lukisanku yang belum selesai, di dinding studio. Tubuhku tremor. Dengan tanganku yang tak terkendali aku berusaha meraih kuas dan cat. Minggu lalu aku memproyeksikan momen terakhir saat kuantar ia menuju keenyahan dari hidupku. Namun aku tak bisa melupakan sepasang mata itu. Tatapan dinginnya yang jadi sayu, genangan di kelopak matanya – mungkin hanya darahku yang bisa melukiskan luapan itu. Hanya tinggal sepasang mata dan lukisan dinding ini selesai. Namun pada goresan pertama, serangan hebat dari dalam dadaku sendiri mengantarkanku pada kopi hitam di café dekat hotel, pukul enam pagi.
Rempoa, 4 Juli 2013. [04:15]