Selasa, 25 Oktober 2011

malam ini aku lewat pasar malam. 
di samping rel kereta ada carrousel berdempet dengan lapak sayur dan celana dalam.
anak perempuan tertidur di kuda-kudaan.
berjalan menyusuri kesumpekan, sepasang kekasih bergandeng tangan. mesra wajahnya.

kemarin aku kecelakaan. ayah dan aku jatuh menabrak mobil yang berhenti mendadak.
kaki kami sakit tapi aku tersenyum damai,
karena seorang bapak tua mengayuh sepeda sambil bersiul merdu,
seperti gairah anak muda.

Senin, 17 Oktober 2011

potret

Saya pernah berangan, sekali. 
Sekali, dengan dalam. Bahwa suatu saat saya akan menari di sebuah pertunjukkan. Tari kontemporer. Pertunjukkan perasaan, puisi gerak. Saya pernah berangan sedemikian rupa, sekali. Selanjutnya yang saya lakukan hanyalah membayangkan. 
Tapi tahun ini angan itu putar badan pasang wajah nakal pada saya, "Kalo gue datang beneran, lo berani?" dan saya mengangguk malu-malu.


Itu saya di kiri depan, menari bersama orang-orang yang berani menghadapi mimpi.

Sabtu, 08 Oktober 2011

memar

Jika kamu diberi hidup sekali lagi, dengan kesadaran bahwa ini adalah kesempatan kedua, akankah kamu menitip hati pada orang-orang yang sama?

Memar biru ini tampaknya, dimulai malam kamis, di mana saya punya janji ketemu dengan kawan yang datang dari jauh, tapi saya sedang flu. Saya tetap mau pergi ketemu dia, tapi dia malah pergi ke acara lain, dan saya diundang untuk bergabung - saja. Saya memilih pulang dan tidur. Lalu jumat malam, kami bertemu. Saya minum bir karena tidak ada kopi dalam daftar menu. Dua jam bersama wanita dari benua yang dingin, dia cerita bagaimana dia bertekuk lutut tak berdaya pada seorang pria ini, di mana kawan saya ini, ceritanya, adalah selingkuhannya. Saya muak dengar ceritanya. Saya juga tidak ingin minum bir malam itu, sebenarnya. Kecewa. Saya berharap banyak pada wanita Jerman. Saya kira, dari negara yang lebih maju secara pendidikan dan pengembangan karakter bangsa, saya akan ketemu dengan wanita yang tinggi harga.

Saya kecewa, bukan karena dia selingkuhan,
Tapi karena dia mengubur diri dalam lumpur stereotip:
I feel weak, I need him beside me.
Go fuck your self.