Jumat, 12 Oktober 2012

and the line begins to blur. susanna leinonen

Setelah memasukkan device komunikasi ke dalam kantung tas teddy bear dan bahkan berdeham - agar tidak berdeham lagi ketika pertunjukkan - di tengah ruang gelap yang berasap tipis-tipis, sesosok wanita blonde menari, dan nafasnya yang beradu terdengar jelas dari posisi kiri depan panggung ke tempat dudukku di kanan depan.
Sorotan lampu yang menguat membentuk segitiga tajam berpangkal-ujung kiri-kanan panggung Salihara yang flat. Plastis, seperti yang tertulis di repertoir pertunjukkan dan komentar-komentar di twitter, penari ini timbul-tenggelam di ruang segitiga.

And The Line Begins To Blur.... Tanpa membaca terlalu detil sinopsisnya, dan tanpa tahu keadaan sosial-politik Finlandia, dan di sela remas tangan Nindi yang terkagum-kagum di tangan kiri ku, Susanna Leinonen seolah bercerita dengan suara pelan di belakang telinga ku yang tuli. Bukan berarti aku tidak dengar, tapi....

Betapa horrornya masyarakat. Masyarakat hidup dengan kita, bukan kita yang hidup dengan masyarakat. Hahaha! Seperti adik-kakak yang hidup dengan kita, kita jadi bagian dari persaudaraan itu. Penari yang bermain di ruang segitiga tadi, pada akhirnya "didatangi" teman-temannya. Teman-temannya itu berjalan dengan gaya militer. Gerak jalan yang sangat teratur. Dimulai dengan langkah paintbrush, disusul dengan tumit mendarat di lantai, dan begitu seterusnya. Badan mereka condong ke depan, seperti menarik beban berat di balik punggungnya, atau mungkin seperti mengancam yang ada di depan mukanya. Society. 


Society, karakter mass yang judgemental dan mainstream. They will not let you play your solo for long duration. They are there, watching behind the blur line you create. Bercerita lah di belakang telinga kiri ku yang kurang dengar, dan bercerita lah dengan suara pelan. Mungkin dengan begitu aku harus memejamkan mata dan melupakan garis normal-abnormal, sakit-sehat, rejection-acceptance !

Susanna menunjukkan bahwa tidak akan pernah ada posisi balance antara individual dan masyarakat. Seorang penari "dihajar" lima lainnya, atau dua penari dihantui tiga lainnya.

Ada adegan khusus, dimana sepasang lelaki-perempuan menari bersama. Terhubung satu sama lain. Dari gerakan-gerakan mendekap, koneksi terus berkembang menjadi gerakan mengikat, dan kemudian melibas stau sama lain. Tarian ini diulang lagi, dengan arah gerak diagonal. What an effort. Susanna memberiku kesempatan untuk melihat lebih dari sudut pandang yang lebih dari satu. Pilihan disediakan, and the line begins to blur.

Jumat, 05 Oktober 2012

Jumat Malam Kemudian

Saat aku meneguk kopi hitam yang pahit ini, lidahku setengahnya mengecap asamnya red wine yang kunikmati dengan Sardono .W Kusumo, sebuah kemenangan yang tertunda.

Sebulan yang lalu di suatu siang, aku mengutarakan ingin dididik menari olehnya, tapi ia menepis harapan itu dengan cepat, mengungkapkan bahwa penulis haruslah fokus menulis. Namun malam itu di cafe bergaya Italia, ia yang mengundangku untuk berlatih tari di studionya, besok pagi, jam 10.

Hanya karena undangan dari mulutnya itu, red wine jadi terasa nikmat.

Tapi karena esoknya ia bangun kesiangan, peristiwa tari itu pun tertunda. Dan semua yang tertunda itu sebenarnya mendesir aliran adrenal, karena ia akan terjadi.

Petualang sejati bisa melihat mata yang ingin berjalan lebih jauh. Petualangan sejati adalah menikmati sunyi.

Saat kita membicarakan hujan, kita jadi hujan.
Saat bergerumul tentang benci, kitalah kebencian.
Saat berbicara tentang tari, menjadilah.

"Cheers, untuk Jepang tanpa bunuh diri" -Sardono W Kusumo, ATavola Kemang, Jumat, September 2012.

Rabu, 03 Oktober 2012

apa yah judulnya

kenapa sih gue harus nulis?
kenapa sekarang?! kenapa hari ini? sumpah ni alam ye, konspirasi... gue dateng ke Mumos, eh dipake kelas vokal padahal kata Ande "okay~" pas gue SMS mau nyewa jam 3.
Gue ke New Body, kaga bisa pake laptop padahal gue udah download lagu-lagu magnificent. Lalat. Dan gue end up nongkrong di My Padz cafe, gak lupa mampir ke toilet untuk ngelepas sport bra. Lega. Yael Naim. Lalat. Parah (Paket Murah): es teh dan single pancake pake mini scoop es krim vanilla. Gue pengen jalan jauh. Jalan yang jauh...sekali. Gue nggak suka sesuatu yang nanggung.

Ini apaan lagi perusahaan game Capcom buka pabrik daging manusia.

Tiba-tiba latihan interlude diundur jam 8. Dan Mumos sudah bisa dipakai jam 17:30. Cabcus. Alam selalu punya kejutan yes?

Selasa, 02 Oktober 2012

Insufficient Dosage of Everything

Installation of Disease Evaporation. Insane Dance Erection, or anything, you name it. IDE.
Untuk bertemu  sesuatu yang diluar jangkauan, kau harus sampai pada titik muak.
Aku muak mengais-ais uluran tangan untuk dibawa menyusuri jalan setapak yang gelap: tari.

Aku bertemu mereka saat tanganku berhenti memohon. Aku bertemu IDE saat kakiku mulai berjalan mencari jalan, saat aku mulai sok tahu dan nggak tahu malu. Hahaha, ternyata sikap itu diterima oleh alam dan dipertemukanlah aku dengan hari ini.

Apapun yang terjadi hari ini, sayangku, adalah hasil panen dari butir-butir aksi yang kau tabur di hari-hari sebelumnya. Karena sudah nekat bikin anak orang menggerakkan rangkaian tambal sulam ku dengan lagu Hometown Glory Adele, karena sudah berani malu melihat diri sendiri menari tanpa arah di depan kaca, dan karena sudah seperti binatang yang menyalurkan hasrat menari di jembatan trans jakarta,

alam memberiku hadiah eksplorasi tubuh di bawah arahan Yola malam ini.

Setiap hari adalah bingkisan hadiah, entah apa isinya. Satu-satunya yang harus kulawan adalah pikiranku sendiri, dan satu-satunya yang harus kudengarkan adalah tubuhku sendiri. I'm a fuckin writer, how the fuck I could do that? Well, prepare for a marvelous switch, like from day life to dream, atau seperti nada polifonik ke gema pentatonik.

Gila itu nasib, tapi mengikuti kegilaan itu pilihan.