Minggu, 22 Juli 2012

air mata

air mata ada
mungkin untuk membasuh penglihatan yang buram. setelah menangis mungkin seseorang bisa melihat ikan yang berenang dalam genangan air di telapak kakinya,
mungkin setelah menangis ia bisa melihat indahnya hujan, dan menerobos sekat-sekat yang mungkin ia buat sendiri.
itulah kenapa namanya "air mata" bukan "tai mata"
air menjernihkan, dan membasuh seperti seorang pengasuh, ibu.

Selasa, 17 Juli 2012

berbagi kepala

Ini mengenai pengalaman saya dengan kawan-kawan terdekat. Pukul 4:27 dini hari ini, saya baru menyadari, yang mengaitkan saya dengan mereka bukanlah kesukaan yang sama, tapi kami suka bertukar pikiran. Lebih dari sekedar mengutarakan pendapat, secara terselubung kami sama-sama menawarkan pola pikir otentik khas diri sendiri pada sahabat, semata-mata karena ingin menerangi jalannya yang mati lampu, atau malah mengebor tembok dan membuatkan jalan baru.

Menawarkan pola pikir tidak semudah mengutarakan pendapat. Dan usaha ini tak jarang: gagal. Acapkali pemikiran saya tidak diterima, dan sering juga para sahabat gagal meletakkan pola pikirnya di frame kepala saya.
Seiring berjalannya waktu, saya terus mengamati, bagaimana cara menawarkan template baru pada seseorang. Ternyata, template pemikiran saya banyak di re-adjust oleh film, pertunjukan tari, lirik lagu, dan puisi. Ya, justru jarang yang dari dialog panjang. Dan gaya ceramah bisa saya bilang 99% gagal total.  Saya juga melakukan kesalahan ini, dan terdengar seperti ibu-ibu menceramahi anaknya:

"Daru, kamu kan nyetirnya jauh. Pake helm dong."

"Berdoa, Ru, beneran deh, Tuhan pasti membantu."
"Come on! Dulu waktu lo ga kenal dia juga hidup lo indah-indah aja, begitu putus, ya kembalikan keindahan hidup seperti sblm kalian kenal. Susah amat!"

Gaya penyampaian seperti itu gagal saat saya terapkan, pula gagal diterapkan sahabat pada saya. Gaya ceramah itu maksa, dan nggak empati. Pernah juga seorang sahabat meminta dan menunggu sampai saya mengikuti sarannya: SMS orangtua saya panjang lebar menjelaskan perasaan saya. Saran yang gagal total. Gatot Subroto. Why? Because I simply don't live that way! Sementara itu, sahabat yang satu ini memang biasa mengungkapkan segala gundah gulana lewat SMS, BBm, atau bertatap muka langsung. Both parents and her are communicative. Jadi, saya sarankan hindari membawa family value dalam bertukar pikiran, karena aturan main keluargamu belum tentu ada di kehidupan sahabatmu.

Hal yang lain, jika kamu tidak menerapkan apa yang kamu transfer, most likely gagal. Doing isn't as easy as talking. Prove it to yourself first. Ada satu pola pikir yang berhasil diterima sahabat saya yang mengeluh, akhir-akhir ini dia sial terus. Banyak yang membuatnya sakit hati, dan mood nya makin berantakan dari hari ke hari. Sekali lagi, bertukar pola pikir lebih dari sekedar memberi saran, tapi memberi cara menganalisa dan merespon sebuah keadaan. Saya meminta dia memperhatikan sekitarnya, teman-teman yang sering bersamanya, apakah mereka orang-orang yang hobi mengeluh? Ternyata iya. Saya meminta ia menjauh untuk beberapa lama dari mereka dan mencari orang-orang yang suka tersenyum, tertawa, dan jarang membicarakan keburukan orang lain. Lepas dari berhasil tidaknya cara demikian, tapi dia benar-benar menerapkannya. Berarti transfer berhasil. Tentu saja template ini saya lakukan juga pada diri saya. Tahun 2009 akhir, saya memprogram otak saya, terus-terusan menanamkan bahwa "Tahun 2010 saya akan bertemu dengan orang-orang hebat dalam bidangnya" dan itu benar-benar terjadi. Berada di lingkungan orang-orang yang progressive membuat saya ikutan preogressive. Tidak ada waktu untuk menganalisa keburukan orang lain, atau menangisi kejadian-kejadian pahit di masa lalu. Jadi, dalam pola pikir saya, lingkungan sangat mempengaruhi. Dan lingkungan bisa dipilih.

Sahabat yang saya ceritakan ini juga berhasil menawarkan pola pikirnya pada saya waktu saya harus meninggalkan seorang pria dan segala hasrat saya untuk bersamanya. Tidak mudah menawarkan solusi pada orang yg sedang patah hati, apalagi usia belasan tahun. Kawan saya ini bilang "Sama aja kayak gini Kei, tujuan user masuk rumah rehabilitasi apa? Buat berhenti ngobat kan? User itu orang yang suka sama drugs, tapi dia masuk rumah rehab buat stop all the drugs-using. Because he knows it's doing him bad."

Sebetulnya ada juga sih, seorang sahabat yang banyak berhasil dala menukarkan template pada saya, tanpa saya tahu/yakin apakah ia menerapkan template yang ia tawarkan atau tidak. Saat saya meninggalkan comfort zone saya (mantan), tentu ada masa-masa terpahit dimana saya memutuskan untuk... kembali padanya. Sahabat saya ini bilang "Terangnya fajar itu datang setelah kegelapan malam yang paling pekat." Dan sepenggal kalimat ini mengubah keputusan saya, seperti supir yang banting setir, membelok tajam. Pemikiran yang ia tawarkan itu masuk akal, dan menantang. Ya, ya, fajar nggak datang jam 10 malam, tapi jam setengah empat pagi, setelah gelap yang paling gelap. Saya menangis dimana-mana saat itu, di bus kota, di halte, dimana-mana, air mata terus saja jatuh tanpa distimulus. Sampai saya pura-pura sakit mata. Dan template yang ia tawarkan berhasil, maksud saya, benar-benar berhasil. Saya seperti terlahir kembali setelah masa itu. Saya menulis banyak hal, dan bahkan berkenalan dengan dunia tari. Amazing. 






Jadi begitulah, kisah saya dan para sahabat, kumpulan orang sotoy. Kalau dianalogikan kami ini kayak penjual obat deh, beberapa penjual obat di pasar malam yang sama. Hahaha! Selamat mencoba! (kalau berminat :D )

G.F.Y . Rica O Darmawan

Tanggal 10 juli 2012, hari Selasa, saya nyengir girang melihat kartu undangan dan denah tempat duduk karya G.F.Y

Saya diundang nonton rehearsal , di mana undangannya hanya empat penonton. Siapapun pasti setuju, ini sesuatu yang spesial. Dan di bangku yang ditandai no.4 saya akan duduk, di jok tengah sementara 3 penonton lainnya di belakang. Jantung saya sudah berdebar sejak di rumah. Undangan jam delapan malam. Jam setengah tujuh saya terburu-buru menunggu metromini 74 menuju blok m.
Angka.
10 2012 4 3 7 8 74
Saya tidak suka angka. Angka punya bentuk yang tidak luwes, sekalipun 8. 8 punya ruang yang mengurungmu di dalamnya. Tapi sejak hidup di Jakarta, angka jadi makin penting bagi saya. Saya berkejaran dengan waktu, dan menghafal nomor bus kota.
Saya selalu ingat ekspresi wajah dan tubuh saya ketika harus berhadapan dengan akuntansi, matematika, fisika. Boleh berbagi cerita, saat les privat fisika di rumah waktu SMA, saya:
  • berdiri di atas kursi
  • tengkurap di atas kursi dan berubah jadi pesawat, berputar-putar dengan kursi yg beroda.
I couldn't handle it. Fuck my self, go.
Begitu berkenalan dengan bus kota, ternyata saya bukan orang ter-aneh di dunia seperti yang dikatakan orang-orang saat saya SMA. Kernet bus adalah koreografer ajaib, yang bisa memasukkan sebanyak-banyaknya penari ke dalam bus. Ia kenal posisi, percaya pada possibility, dan dia bisa bergelantungan dengan banyak pose di ambang pintu bus. Ini bukan fiksi, bukan, percayalah, saya naik bus kota selama lima tahun, hanya sebagai penumpang sih. Sebagai penumpang saja saya kenal betul gerak-gerik ini, gimana si kernet? Keirngat dan jiwa raganya nempel di atap dan besi-besi bus yang berkarat itu. Pasti!

Datang ke Cikini, saya disuruh standby di lokasi undangan oleh Rica, tidak boleh ikut nongkrong sama dia dan penari-penarinya! Surprise was on the making. Buka handphone, membaca lagi SMS Rica:

" lokasi: parkiran depan planetarium. ada avanza hitam no B**** cari tanda segitiga, itu tempat berdiri penonton."

Oke, saya ketawa ketiwi berdiri di segitiga rambu parkir.

Di samping saya, kira-kira sejauh tiga lencang kanan, ada rambu segitiga lagi dan di situ berdiri seorang wanita berjilbab, namanya Inda, dia juga undangan. Aheey asiik seruu senangnya diundang! BRAK! Para penari lari dari belakang kami dan menabrak mobil sekuat-kuatnya. Brak! Bruk! Rizki Suharlin Putri, yang bersandar di pintu mobil dihimpit oleh para penari lainnya, hingga ia berteriak.

Teriak.
Itulah awal luapan emosi, saat kamu merasa tidak kuat lagi. Tapi terjebak, tak bisa melepaskan diri. Mau apa?

Sequence penganiayaan mobil ini terus berjalan. Lompat-lompat di atap, dsb. Saya kini bebas, saya adalah penonton yang bebas. Saya kini tak terhimpit seperti dalam bus kota, tapi saya bebas melihat berkeliling. Ini adalah pengalaman menonton pertunjukkan tari dari sudut 360 derajat. Saya bisa memperhatikan kaki, rambut, dengan sedekat-dekatnya.

Setelah puas berkeliling, pintu dibuka dan penonton dipersilahkan masuk. Kaki Ratri Anindya yang menggantung di atap naik perlahan memberi jalan untuk saya masuk ke mobil. Rica mengendarai mobil dengan penari yang masih bergelantungan di berbagai sisi luar mobil.


Konsep pertunjukkan yang beyond standard ini silahkan para pembaca telaah sendiri. What's the point for me is, saya boleh nyengir tengil pada Immanuel Kant, filsuf Russia, yang bilang "The thing in itself can not be known." Saya memegang sepenggal pernyataan itu, saya aplikasi dalam setiap apresiasi maupun karya saya. Kita hanya bisa melihat dari satu sisi, itulah kenapa kita tidak bisa berpendapat terlalu jauh, atau menghakimi, bahasa langsungnya.
But Kant, hey, this choreographer brings me to the very core of the venue, the property, the reason why the piece is born! What can I ask for more?

Di dalam mobil ada rongga-rongga, seperti tubuh kita. Di rongga belakang ada para pengamat, di rongga kedua ada saya, diserang, dihimpit, dan dilalui tubuh para penari G.F.Y. Kini keterpisahan panggung-penonton itu tidak ada lagi. Terima kasih.

Bagi saya, semua yang mereka lakukan adalah sebuah teriakkan dan usaha melepaskan diri dari himpitan, dari sesuatu yang mereka ingin saya rasakan juga saat itu! Himpitan tidak selalu berarti derita sih, get the best out of everything! Mereka bermain gelembung sabun, bahkan kembang api, dan player mobil melantunkan lagu ceria ber-lirik optimis.

Seperti kernet bus, saya rasa Rica kenal betul dengan setiap lekuk mobilnya. Segala alter ego dan tumpahan emosi berceceran di mobil itu, tentu. Dugaan saya bahwa karya ini cenderung spontan dan jauh dari koreografi ternyata di-iyakan oleh koreografer, namun menari untuk G.F.Y bukan butuh teknik kepenarian setinggi pohon kelapa, tapi mentalitas se-raksasa pohon akasia. Rica, Ery Yovan, Rizki Suharlin, Sita Tyasutami, dan Ratri Anindya saya  masukkan dalam daftar penari batu karas, dari patahan tebing di gunung yang mendarat di hiruk pikuk Jakarta.

Satu lagi, IKJ harus bangga dengan G.F.Y
G.F.Y secara mengagetkan mengembalikan saya pada kenangan dimana kampus itu masih berasa rumah bagi saya, dimana saya diajarkan mencari kemungkinan-kemungkinan bahkan dalam keadaan paling mustahil.

Yeah, G.F.Y,
The world fucks me from top, under, right, left, front, and back. But Rica .O Darmawan along with the dancers agree with me to tell the world that we can fuck ourselves! And we create good times in the worst.