Minggu, 19 Januari 2014

20 januari 2014 jam 1 pagi

pantai homme.
ada di belakang rumah cilandak. ketemu kak angky, kak lita, om ifin. setelah salam-salaman, aku tetap berjalan, tanpa tujuan. setelah semak-semak, kulihat deburan ombak itu. di sebelahku ada seorang cewek yang baru kukenal on the pot dan langsung jadi teman. dia menjelaskan ini pantai homme. langit mendung. pasirnya coklat muda. disediakan bangunan kecil untuk ganti baju dan mandi. aku heran kok sudah lumayan terstruktur sementara aku baru tau pantai ini. kamar mandinya pun bersih. aku melepas semua yang kupakai, jadi telanjang. saat aku keluar dari kamar mandi itu baru kusadari, nggak sepatutnya aku telanjang. minimal pakai bikini. kenapa aku kok kayak manusia purba begini. aku pun balik lagi untuk pakai celana dalam dan kaus, terus ke luar nemu lapak sport bra. aku pilih yang ukuran 64, sambil ngobrol-ngobrol dengan mbak penjual. Aku bilang sungguh aku tidak tahu ada pantai ini, dan sejak kecil aku sering berkeliaran di daerah Cilandak. Tapi dia jawabnya nggak nyambung, dia bilang toko bikini dia juga ada di pintu masuk, tepatnya di rumah Cilandak, nama tokonya "Mawar". Saat kami berbincang, kulihat ombak makin besar dan makin besar. hempasan ombak sampai dekat ke lapak padahal kami berada jauh dari bibir pantai. Lalu kulihat ombak sangat tinggi kira-kira tingginya seperti tiga orang setinggi aku disusun vertikal. aku pun teriak dan lari.

mimpi.

Rabu, 15 Januari 2014

bunga tidur

selasa jam satu pagi

aku ada di rumah tua di daerah pegunungan. rumah itu kecil dan sangat sederhana, furniturnya dihinggapi jaring laba-laba. Ada Mama dan Ayah. Setting waktunya malam hari. Tampaknya kami menginap di situ, entah siapa tuan rumahnya. Ada seorang bapak ngajak kami ke luar, dan di jalan terlihat tanda berwarna kuning fosfor, seperti tiga lingkaran, dan dia bilang di situ Mbak Luluk meninggal dunia.Terus Mbak Luluk datang, beliau kelihatan sehat, pakai jilbab warna putih Dia datang bersama beberapa orang lainnya yang terasa sangat familiar, mungkin di masa kecilku. Kami duduk di beranda rumah itu dan ngobrol. Aku ngobrol sambil nangis karena rindu

rabu jam tiga pagi

laut. laut biru dengan ombak yang memukul-mukul, tapi terbelah beberapa meter dari pesisir pantai ke tengahnya, ada gay-gay temannya Lian minta tolong aku fotoin.

rabu jam sebelas malam

aku sudah kerja di FFTV IKJ jadi sekprodi nya Matius. Di ruangan kaprodi yang kecil aku dengar musik, seperti tetabuhan alat musik tradisional. Aku joget asal-asalan, kemudian berhenti, khawatir ada kamera CCTV. Saat aku keluar ruangan kulihat dua mahasiswa musik sedang latihan dengan gitar masing-masing, dan di tembok terpajang poster-poster konser akbar, oh jadi sekarang gedung FFTV dicampur dengan jur.musik, pikirku. Orang-orang itu mukanya seperti umur 30an, mungkin mahasiswa Pasca Sarjana. Aku menemui mahasiswa-mahasiswa nya mas Matius untuk mendaftar siapa saja yang akan ikut ujian. Ada Dedi Error. Aku duduk satu meja dengan mahasiswa-mahasiswa ini, kebanyakan angkatan 2007. Aku ngobrol dan ketawa-ketawa sama mereka sampai tanpa kusadari buku absenku hilang. Aku panik nyariin tapi berusaha tampak tenang.

Aku sekarang ada di alam terbuka, seperti padang rumput yang berbukit-bukit, ada banyak orang. Ini seperti acara workshop atau semacamnya dan aku merasa tidak enak badan. Terus ada cowok yang jagain aku. Aku malas sama dia karena mukanya tua dan pokoknya nggak menggairahkan tapi dia baik. Aku main tarot dan sampai tiga kali ambil kartu, sama terus. Kartu "Gay Hand" gambar muka cewek dan tangan menengadah ke atas. Kata orang itu pertanda yang sangat buruk, aku mungkin akan jadi makin sakit atau mati. Aku tidak merasakan ketakutan sama sekali. Mood ku dalam mimpi itu adalah santai dan malas.

Senin, 13 Januari 2014

13 januari 2014 jam 12 malam

aku ada di sebuah toko komik dan mainan bersama ayah dan kak topan. kakak ingin belikan aku barang, aku disuruh milih. aku pilih komik bergambar Crash Bandicoot, lalu kami masuk ke mobil. sepertinya kami sedang dalam perjalanan panjang.

aku ada di sebuah sekolah di mana aku bersekolah di situ. aku jalan dengan seorang teman, Ms.Shinta, melewati kerumunan dan aku bercerita betapa gobloknya orang-orang ini -- tipikal Indonesia, mudah dialihkan perhatiannya, dan mudah ikut-ikutan. tanpa kusadari temanku itu berubah jadi Nindi, dan wajah-wajah di sekolah itu jadi wajah-wajah IKJ tanpa berubah setting tempat. aku masih membicarakan topik yang sama -- tanpa banyak bicara lagi, hanya tertawa-tawa bersama Nindi. Nindi bilang aku nggak akan pernah bisa berbaur dengan orang-orang ini, kubilang "Kamu salah. They invited me to dance" dan aku langsung joget-joget sama Bulan dan beberapa orang lagi, ada Ully. Aku menjelaskan lagi ke Nindi kalau mereka sepenuhnya menerimaku dan mengajakku bergabung dan aku sudah melakukannya, tapi lama-lama bosan dan nggak dapat di mana pentingya ada di antara mereka. Tanpa kusadari orang yang kuajak bicara ganti jadi Irin. Sedari tadi aku merasa aku punya teman tercerdas, terbaik, and very sophisticated. Di lapangan, kami melihat Ully ngajak ngobrol seorang penjaga stand dan dia nyerocos cerita tanpa ada balasan dari orang itu. Dia cerita betapa gaul dan uniknya dia, sampai-sampai ada cowok yang ngajak kenalan dan langsung ngajak ngopi. "Neng, kopi yuk di mana," begitu kata Ully menirukan cowok yang tertarik pada keunikannya.Aku ketawa tanpa bersuara keras, seperti berusaha nahan ketawa, sambil lihat temanku -- yang sudah berubah dari Nindi jadi Irin. Tiba-tiba Irin menimpali cerita Ully itu, Irin cerita dia pernah sampe merasa bersalah karena pulang dari ITC Ambassador nggak keluar duit sama sekali, karena tiba-tiba ada cowok yang mau bayarin semua belanjaannya -- saking attractivenya dia. Aku mulai menyadari ada yang nggak beres, tadi kan aku sedang menertawakan orang-orang ini bersama seorang teman, seperti dua orang yang berada di luar lingkaran, outsiders. Aku menimpali cerita mereka lagi, aku bilang, juga pernah keluar dari toko kaset dan buku, ada cowok yang tiba-tiba mau bayarin apapun yang aku beli dan aku nggak pake rasa bersalah sama sekali, malah senang. Ully dan Irin mendengarkan cerita singkatku dengan seksama. Tiba-tiba aku ada di lantai dua bersama Sonang, dan dua orang lagi yang aku nggak ingat. Aku tahu sekarang aku sedang berada di lingkaran mereka, dan kami sedang bercanda tawa, dengan gaya kami yang dulu pernah kualami. Aku dan sonang pura-pura membicarakan orang. Sonang bilang dia pernah dengar Ome bla-bla-bla. Aku dan Sonang main bisik-bisikan dan aku bisikin dia "suwisuwaswiswus" yang penting kelihatan lagi bisik-bisik nggosipin orang. Tapi Sonang bilang, "Ih Keisha, orang lagi serius," dan ternyata dia benar serius. Dia cerita Ome punya sebutan-sebutan untuk aku dan orang-orang outsider. Dia bilang aku Miss Narkoba. Ada rasa merinding mendengar julukan itu diberikan kepadaku. Bukannya mereka yang akrab dengan narkoba ya? Gumamku dalam hati tapi tidak memungkiri aku pun pernah coba. Lalu muncul foto-foto seorang anak gaul kampus, yang sudah meninggal dunia, yang nggak pernah kukenal, panggilannya Keke, namanya Nengke atau siapalah.. dan nama itu tertulis di fotonya. Dia cewek, manis, berponi tebal, dalam foto itu rambut belakangnya nya disasak tinggi, dan dia adalah the real miss narkoba pada zamannya, di kampus ini. Aku dan Irin diam mendengarkan cerita. Di depan kita ada sebongkah potongan kayu, dan menancap gunting yang sudah karatan.

Sonang mencabut gunting itu dan aku melarangnya tapi tidak didengarkan. Ia main-main menggoda kami dengan gunting itu, dia nawarin aku juga mau pegang gunting itu nggak, aku nggak mau, aku benar-benar menolak, tapi gunting itu udah dilempar ke aku, udah kupegang -- untuk kulempar lagi jauh-jauh dari aku. Tapi aku tahu ini hal buruk, gunting itu udah body contact sama aku -- dan benar saja, saat kami lagi saling melempar gunting, dua orang cewek berbaju hitam ketat datang, membawa potongan gunting yang tajam. Dia tanya siapa yang main-main dengan gunting tua itu, aku langsung nunjuk Sonang. Tapi tampaknya dua cewek itu mau menyakiti semua di antara kami, semuanya. Salah satu dari cewek itu langsung mengambil kedua tangan Sonang, disatukan di belakang punggung, seperti posisi istirahat di tempat (upacara) dan Sonang tertawa-tawa, dia kira this is a joke. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukan cewek itu, ya, dia mengiris tangan Sonang dengan pisau kecil di tangannya. Cewek yang satu lagi, berambut panjang lurus, bermata besar dengan garis yang tajam, langsung menyergapku. Aku berusaha kabur tapi dia sudah dapat satu tanganku. Aku merasakan irisan itu di punggung tangan kiriku, tepatnya di kubu tengah jari, paling terasa di telunju, jari tengah, dan jari manis. Walau dia sudah berhasil mengiris tanganku, aku nggak nyerah. Kubanting cewek itu dan aku langsung loncat dari lantai dua. Kusadari bahwa bangunan kampus ini adalah MIN Malang 1.

Aku lari keluar, dengan mendorong angin supaya makin cepat. Sekarang aku ada di dekat SPBU Jl.Bandung, sembunyi di semak-semak. Aku merasa dikejar. Dua cewek itu memang tidak kelihatan, tapi aku lihat seorang cowok exterminator, dan aku merasa dia tim-nya dua cewek berbaju ketat itu. Tiba-tiba aku ingat the art of stalking yang mungkin aka menyelamatkanku. Aku tiba-tiba merasa harus bergaya seperti laba-laba, dan aku pun bersembunyi dalam posisi plank, beberapa lama, kemudian lari ke jalan raya berusaha memberhentikan taksi. Bluebird dan Express terus ngebut tidak menghiraukan lambaian tanganku. Aku merasa ini daerah yang familiar denganku, dan tidak familiar dengan dua iblis berbaju hitam ketat itu. Aku berencana untuk kabur dengan taksi, kubawa ke pelosok-pelosok dalam kota Malang, tapi sampai aku terbangun tidak ada taksi yang berhenti, dan aku merasa angin begitu beratnya seperti air, punya arus dan kepadatan yang susah dijelaskan. Kurasakan dengan tanganku.

*Note: Ini mimpi, bukan fiksi tapi juga bukan benar-benar terjadi di kehidupan sehari-hari

Selasa, 12 November 2013

I saw the body

Today I experienced a peculiar feeling, when I woke up on hands of those who carried me. I saw my body, from chest to toes, bare skin to shoes, and I could not feel them. I saw faces, mostly chins and necks. I felt dizzy but as if it was not my head.

I ever passed out before, but usually once I woke up all the bodily sensations emerge to the surface of my skin, all painful yet so real. This afternoon I was more like a mannequin. I didn't know which part of my body I should feel. It was just a body, under clothes and shoes, and I don't know if any pain and pleasure this body ever experienced could act as a memory, bringing it back to life, but then I also asked, what is life?

Is life a series of sensations? Is it a sequence of temporary pain and pleases, if so then I don't know what to treasure.

My body was put down on a surface and I saw eyes staring at me. But which one is me? Is it my eyes that have the feeling of being me? I felt like getting the first clue. My eyes! I should try to feel them, where are those features? This attempt failed. Even if I tried to explain more here about how I felt when I saw the body,  that effort will fail too. I saw those people being so concerned about the body. Somebody held the hand, another one taking off the shoes and the rest of the people kept staring at the eyes. But that body was not me. I don't know where I was. I was there near my body, yet I was not in a place. I lost any spacial sensation. The image of a body, people, and furnitures felt so dull like a drawing, an unfinished one.

Sabtu, 26 Oktober 2013

This Cycle We're In. Andara Moeis

Malam ini untuk kali pertama saya menjejakkan kaki di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru. Sebuah gedung tua berdiri dengan megah layaknya Istana Negara, walau mungkin miniaturnya. Berbeda dengan Teater Salihara yang eksentrik dengan sebuah tembok tinggi penuh graffiti dan lantai abu-abu, Gedung Kesenian Jakarta memproyeksikan sebuah kemewahan ortodoks. Begitu memasuki ruang pertunjukan, kalimat pertama saya adalah "Wah seperti di luar negeri ya!" Suasananya mengingatkan saya akan film Moulin Rouge.

Pertunjukan dibuka dengan tiga sling kain, dan tiga penari (dua perempuan, satu laki-laki). Sling biru untuk penari perempuan dan sling merah untuk penari laki-laki. Dengan background visual kelap-kelip cahaya dan suara jangkrik yang mendominasi, kedua penari wanita (Dilli, Mariska) tampak terbungkus dalam kain sling sementara penari laki-laki (David) tampak berputar-putar secara vertikal, berotasi pada slingnya.

SUMBER FOTO: THE JAKARTA POST

Perputaran David yang teramat lembut menghadirkan kesan sebuah fetus di dalam rahim, didukung dengan para penari lainnya yang mulai mengintip dari dalam kain, dan mulai menampakkan diri. Kaki mereka lalu perlahan menyentuh lantai, badan mereka berayun dengan pasrah, dan akhirnya lepas dari sling masing-masing. Kesan kehidupan sebelum kelahiran pada babak ini didukung dengan kostum mereka yang sangat minimal, sementara itu pada babak selanjutnya tampak mereka membawa baju dan mengenakannya di atas panggung. Adegan ini tidak ditarikan, namun secara harafiah benar-benar proses memakai baju. Setelah itu, yang saya ingat adalah David memulai gerakan dengan mengeksplorasi bentuk-bentuk dengan tangan, Mariska dengan kaki, dan Dilli memulainya dengan pinggul. Perlahan, ketiga penari ini melakukan interaksi gerak yang cepat dan rumit. Yang tidak bisa dilupakan adalah banyaknya gerakan lifting yang saya pun tidak paham interaksi apa yang berusaha disampaikan dalam rangkaian adegan ini.

Dari keseluruhan karya, saya paling terkesan dengan adegan Dilli dan David. Menurut saya adegan itu yang terasa nyata, di mana emosi kedua penari itu sampai pada kursi saya di barisan ke-8. Dari rangkaian babak yang berusaha "bercerita", baru babak ini yang terasa lebih dari bercerita, namun "mengungkapkan". Isu-isu keraguan pada pasangan yang bergejolak dari dalam diri masing-masing penari menghadirkan konflik yang seolah seperti konflik hubungan, tapi sebenarnya konflik dalam diri masing-masing! Berusaha hadir untuk orang yang kita cintai; namun usaha itu selalu gagal, sebelum kita berhasil hadir untuk diri kita sendiri. Hempasan dan langkah Dilli yang tampak lelah makin membuat saya lupa bahwa ini sebuah koreografi; tampak nyata dan sedih sekali.

Namun sayangnya, saya merasakan lompatan yang terlalu jauh dari babak ini ke babak berikutnya. Dengan tirai yang menampilkan visual gedung-gedung Jakarta, sekitar tujuh penari termasuk penari utama lai-laki (David) bergerak secara rapi, mondar-mandir dalam baris, menghadirkan suasana sibuknya warga Jakarta dalam kotak-kotak pekerjaan mereka, sementara Dilli tampak melakukan gerakan-gerakan yang lentur, tidak terpengaruh dengan keseragaman. Dilli berlari ke berbagai sudut melewati barisan orang-orang yang bergerak kaku tersebut, dan sesekali ia diam memperhatikan mereka. Kembali datang pengulangan adegan lifting di mana Dilli "dipindahkan" dari satu tempat ketempat lain, seolah tidak ada tempat bagi orang yang tidak mau ikut seragam. Babak ini diakhiri dengan mundurnya Dilli ke sisi belakang panggung.

Memang sinopsis karya ini menjelaskan bahwa This Cycle We're In bercerita tentang tahapan-tahapan kehidupan. Tentu kita semua tahu secara umum tahapan kehidupan adalah lahir, tumbuh, berperan dalam sosial, tua, dan mati; namun saya percaya setiap koreografer punya cara yang berbeda-beda dalam menyampaikan siklus ini melalui karya tari.

Tentu saja semua tulisan ini adalah pendapat pribadi, dan saya tidak mengenyam pendidikan seni pertunjukan, melainkan sebatas penikmat. Dari kaca mata saya, adegan interaksi, konflik hubungan yang kemudian di-emphasize dengan visual tarian solo oleh pemeran wanita -- adalah adegan yang paling kuat dan merengkuh penonton (saya) secara personal.

Senin, 19 Agustus 2013

Sebuah lamunan dalam teriknya siang:



CARILAH, CARI!
oleh Keisha Aozora

Aku membuka kitab tua ku. Kitab ini sudah ada lama sekali, namun tak pernah usang. Tak ada lembar yang tercabik, terlipat, kusut; hanya sering berubah tulisannya. Namun mataku ini masih jeli, sampai pada usia tuaku kini. Tanpa kaca mata, tanpa perlu menjauhkan mataku atau mendekatkan batang hidungku pada himpunan aksara ini, kusadari siapa yang tidak hadir malam ini. “Ksatria!” Prajuritku itu segera berhenti dan berlutut di hadapanku. “Di mana Cari? Ini sudah terlalu lama, dan namanya belum lagi tertera di sini.”

“Cari? Kau masuk dari mana?” tanya Sofia, masih memegang kunci pintu perpustakaan. Sofia tampak jauh lebih dewasa dari Cari. Penampilannya sederhana namun selalu rapih, tubuhnya ramping namun lebih berisi. Ini tahun keduanya sebagai pustakawan di sebuah universitas yang besar. Perpustakaan ini terbuka untuk umum, dan mungkin inilah kerajaan buku di negara ini. Ia lebih besar dari perpustakaan nasional, lebih diminati dari toko buku manapun, namun tak secuilpun barang dari perpustakaan ini bisa kau miliki. Ia hanya untuk kau alami sesaat. Tidak bisa kau beli bukunya, ruangnya, atmosfirnya, ataupun Sofia nya.

 “Oh, nggak, nggak,nggak… Kamu bermalam di sini?” Tersungging senyum kuda di wajah Cari. Tubuhnya ramping dan tak begitu tinggi. Sofia terheran-heran bagaimana mungkin Cari memanfaatkan figurnya yang tidak mudah disadari mata itu – untuk bersembunyi di perpustakaan.  Sofia merendahkan tubuhnya, melihat buku yang dipegang si mahasiswi baru. ‘Sleep Paralysis’. “Hey, kamu belum dengar cerita tentang hantu perpustakaan ya?” ujar Sofia, berusaha menakuti. Gadis itu mengernyitkan dahi, sekilas tampak sedang berpikir. “Apa hantu itu menyeramkan?”  Sofia mengamati rambut panjang Cari yang tak tertata rapi, seolah ia melihat buku-buku berserakan yang harus segera dibuatkan klasifikasi. “Kalau hantu itu adalah hantu  buku, aku mungkin nggak akan menyadarinya, karena terlalu banyak buku di sini. Aku mungkin nggak akan bisa membedakan mana buku dan mana hantu,” lanjutnya.  “Sosoknya sangat mencekam, Cari. Matanya melotot, rambutnya panjang dan berantakan. Ia suka muncul tiba-tiba di dekat kamar mandi. Ini perpustakaan tua!”  

Cari mengangkat tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Sofia, “Yang kau ceritakan hanyalah sebuah sosok. Keadaan mencekam itu hadir ketika kau memejamkan mata sebelum tertidur!” Sofia tersentak dan segera bangkit, ia melihat Cari sekilas, namun segera pergi. ‘Anak aneh. Pantas nggak punya teman!’ gumam Sofia dalam hati. ‘Kurus nggak terurus, cocok kalau ditemukan di sarang narkoba.  Tapi ia bersarang di serat-serat kertas. Ada-ada saja mahasiswa seperti ini...’

Dengan pandangan mata yang bias antara mencermati atau menerawang, Cari duduk di ruang kelas. Dosen masih menggambar skema yang rumit dan panjang, di papan tulis yang putih dan luas. Pemetaan kesadaran manusia, ah bagai menggambar denah samudra.  Tangan dosen itu telah sampai pada batas papan tulis. Ia menarik satu garis lagi dengan spidol hitamnya, memaksakan ruang....

Buk! Kepala Cari menghantam lantai putih polos tak berpola, tak bergaris. “Ugh...”  Ia berusaha bangkit.  Seorang wanita muda, dua puluh tahunan usianya, tampak cantik dan rapi, seperti Sofia. Namun tidak seperti baju Sofia yang selalu formal, bajunya tampak nyaman dan indah. “Cari... kan sudah Ibu bilang, hati-hati. Jangan lari-lari terus,” ujarnya. Setitik darah kental menetes ke lantai putih. Cari mengkerutkan badan, ia menoleh ke belakang, mencari pintu. Dari mana tadi ia jatuh? Tak ada pintu, hanya tembok. Ia mendorong tembok putih itu kuat-kuat. Matanya seperti menabrak hamparan putih yang menyakitkan. Sekali lagi Cari harus berusaha bangkit. Ia mengangkat kepalanya yang berat. Ah, ternyata bangku kuliah, meja putih yang sempit itu.

“Ah, dia pergi lagi?” tanyaku kecewa dan khawatir, pada Ksatria. “Ya, baginda, gadis itu mendorong-dorong badan saya dengan kuat sekali, saat saya mengawalnya menuju kemari.” Tak sengaja aku tertawa, ah, dasar anak kecil. Sebenarnya, ada atau tak ada dia, negaraku ini aman-aman saja. Nanti jika semua manusia sudah mati, barulah negaraku ini juga berakhir. Jika manusia sudah benar-benar tertidur, ia sampai ke hadapanku. Mereka singgah dan pergi secara rutin. Terkadang ada yang mati saat berada di sini. Prajuritku hanya satu, ia mengawal satu persatu manusia, menuju lelap. Mereka butuh berada di hadapanku, untuk keberlangsungan hidup di dunianya. Sungguh aku dan Ksatria bukan tokoh-tokoh yang suka menyakiti... namun Cari...

Ia memegangi kepalanya yang sakit. ‘Sial, seram sekali ruangan ini... Luas, putih, dan dingin. Bangku-bangku kosong...’ Cari segera mengarahkan matanya ke papan tulis, agar ia tak melulu melihat putih dan kekosongan. Ia ingat dosen menggambar skema penuh dengan spidol hitam di papan itu, namun ternyata papan tulis pun telah dibersihkan. ‘Kenapa nggak ada yang membangunkan aku? Bagaimana jika aku bertemu hantu yang diceritakan Sofia?’ Cari berjalan keluar kelas. Koridor kampus pun kosong. Jam dinding mengatakan bahwa Sofia sudah pulang, kerajaan buku sudah dikunci. . Perasaan Cari makin buruk. Terkadang kesendirian membuatnya kewalahan. Sepi itu menyesakkan dada dan mencekik lehernya. Di beranda swalayan, Cari memegang kopinya yang masih mendidih. Pramusaji tampak ngeri melihat kelopak matanya yang menghitam karena lelah. ‘Jahat sekali, tak ada yang membangunkanku,’ pikirnya.  ‘Mengapa tidur kini terasa sebagai sesuatu yang beresiko? Bagaimana cara membunuh tidur? Tidur ingin membunuhku, aku ingin membunuh tidur!!!’

Ksatria memandang wajah Cari di permukaan air yang menggenang di batas ruang. Wajahnya tenggelam dalam ruang Ksatria, sementara tubuhnya masih berada di alam sadar. Ksatria memegang wajah Cari dengan lembut dan ragu, haruskan ia tarik perlahan wajah ini?

Mengemban dendam terhadap tidur, Cari jatuh terlelap. Cari yakin ia menggenggam senapan. Ia, atau tidur yang akan mati. Cari mendapati dirinya duduk di atas kasur putih. Ia kenal kasur ini. Kenal namun lupa; paham, namun tak bisa jadi kata! Dengan gugup ia sematkan telunjuknya pada pelana. Ia akan menembak apa saja. Langit, tembok, apapun! Namun yang muncul adalah wanita itu lagi, ia terbaring lemah, dadanya hancur, terkoyak. Cari kembali melihat daging dan urat leher, mungkin juga detak jantung. Mata wanita itu nanar melihat Cari, jemarinya berusaha meraih dengan sayang. “Ibu, sudahlah, Ibu,” ucap Cari berlinang. ‘Tidur, aku lelah. Kau perangkap gila. Kau ingin membawaku ke masa ini lagi, dan lagi.’  Ia arahkan senapan itu pada kepalanya sendiri. “Ah, Cari, aku tidak seperti itu!” rintihku, walau ku tahu Cari tak dapat mendengarku. 

Aku iba padanya, namun tak bisa berbuat apa-apa. Cari mengira aku penjagal yang keji, walau sebenarnya ia dihabisi semestanya sendiri…

19 Agustus 2013

Jumat, 05 Juli 2013

translation of LAPANGAN PARKIR SIANG ITU



A Parking Lot in the Afternoon
KEISHA AOZORA

“Check, check,” someone grabbed the microphone, “Get closer, make the rows tighter.”
It has been a very grey day, as if the clouds are going to drop at this large parking lot. A place with no trees that usually burns your skin, it chills today. If you inhale, the air will run to your lungs and rob a pocket of honey from there. A big stage stands strong, and the host looks masculine and graceful. A tall body with beautiful hollows that tempts us to lean our heads inside.

I walked closer to the stage, with a hundred of another heads, but their footsteps is almost noiseless. I could only hear my shoes stepping on the ground, and my breathing sounded so clear like an old music box inside my throat. My feet were wet by sweat. Every breathe I exhale felt  like pushing all my insides down to my toes.

“We are here today, my brothers, for our faith.” The ice-cold of a knive touched my hand. The speaker spoke for the air around the microphone that got sucked up by the host. This heavy breathing had never been heard before, on the phone, some times ago.
“Hello, am I speaking with Alexa?”
“Yes?”
 “Are you joined in the triple double you dot togetherwego dot net?”
“Yes, I’m in your mailing list.”
“Our event will take place in two weeks. There is no pressure, you can come or not. We’re here for you.”

I stared at the charming host and listened to the sound of heavy breathing around the microphone. This person looked like a hero near end time. A staple rope tied up tight on the stage ceiling, hanging still unblown by the wind. “We’re here not because we are weak, we are not losers!” A loud raspy voice hit the mic. I saw blood was dripping time to time, by my side. Looked like this anonymous had attacked the appetizer.
Me, my self… I was just holding this piece of a big garden scissor that was broken in two. I made it sharper this morning. My mom liked to garden alone, dressing up the bushes, cutting the wild branches, until one day I found her head hanged up on the mahogany tree. Not far from her body, I found this scissor. It was already broken in two, like my parents. Two knives that tied to one, is a scissor. Each of us here in the parking lot was a knife, that already wet with dog’s blood before the prayer sung [1] and this strong person on the stage was a round screw that tied a hundred of knives to hurt the dusk, for its orange to look braver.
“But we’re here ‘cause we know, that no value we could respect anymore. Love and inner piece is a great lie.”
“Oh mother of fuck!” someone behind my row shouted in shock. I looked back to witness a man down on the ground, his body was convulsing with foam out from his mouth. His face turned green and all the nerves showing up to the surface of his skin, slowly but sure. Since the leave of my mother, I had not felt anything. There was no hate, anger, or anything. Every feeling was perfectly buried down with her body.  This present moment was the first time I felt my heartbeat so lively… as if my eyes were going to roll out of their lids.

“Alexa, didn’t you hear your aunt? She asked you what do you want to be when you grow up,” my Mom looked at me like a gardener that puts so much hope in the flowers. My hands was holding on to her skirt, a behavior considered as misbehave for her. She said it shows to people that I am a chickenshit. Only a baby can grab her mom like that.
“I want to be Dad…”
Mom looked at me so angrily and her friend giggled, “Alexa, you’re a girl.. maybe you mean you want to be a mother?” I shook my head, slowly but continuous, “My mom loves my dad so much, she looks most beautiful when she’s in his arms, I want to be Dad!” A fast and painful slap landed on my cheek. Mom was angry, and she is always angry – to me, and always love – my Dad. I want to be Dad! I want to be a fugitive, I want to be the one whom the pregnant woman always seek, banging her hands on our gate. I want to do anything Dad did so I could be the one my Mom loves. 

The host’s hands hung on to the head hole of the staple rope, already standing on a tall speaker, and dropped the microphone. “Let’s end this nightmare now!” The voice was loud enough to break my chest, convulsing the mortar and aggregates in the asphalt. Canon of painful cries mounted up, stabbing this parking lot like meteor rain.  I could hear a sound of a knife cutting a throat again and again until the head almost fall. Bodies hit the ground but the cries sound still, blowing in the air like mantra. 

I strengthened my will, I woke up my heart that had been long dead, for today. See you, mother! The knive torn my intestines. I faintly stared to the host and that person said, with a voice that shakes, “I…I changed my mind…”

June 25, 2013 [03 AM]
Translated on July 6, 2013 [1 AM]


[1] In Islam, before we slay animal’s head for food, we pray out loud.