Rabu, 28 November 2012

surat curhat


di lantai kayu dan di ruang-ruang sidang
di tempat-tempat menawar cara dan ajar
aku merayakanmu, tuhan

kubakar muasalku yang dingin dan gelap
menerjang batas mungkin-mustahil
kuberanikan melepas pelindung lutut yang buruk rupa
karna cukuplah ku taruh percaya

saat sabar dibutuhkan untuk ornamen-ornamen kecil
kubuka kotak aksaraku, kucari dia di sana
semalam saat aku menggigil pucat
barulah kucari dimana nafas
ia bersembunyi dari gegap gempita
dan kacaulah pagelaran itu

mencari nafas membuka lembar-lembar sejarah
kembali pada muasal dan nostalgia kelam

ah, betapa jauhnya kusebrangi jurang
dan di tebing seberang aku melongo pada kedirian



Jumat, 12 Oktober 2012

and the line begins to blur. susanna leinonen

Setelah memasukkan device komunikasi ke dalam kantung tas teddy bear dan bahkan berdeham - agar tidak berdeham lagi ketika pertunjukkan - di tengah ruang gelap yang berasap tipis-tipis, sesosok wanita blonde menari, dan nafasnya yang beradu terdengar jelas dari posisi kiri depan panggung ke tempat dudukku di kanan depan.
Sorotan lampu yang menguat membentuk segitiga tajam berpangkal-ujung kiri-kanan panggung Salihara yang flat. Plastis, seperti yang tertulis di repertoir pertunjukkan dan komentar-komentar di twitter, penari ini timbul-tenggelam di ruang segitiga.

And The Line Begins To Blur.... Tanpa membaca terlalu detil sinopsisnya, dan tanpa tahu keadaan sosial-politik Finlandia, dan di sela remas tangan Nindi yang terkagum-kagum di tangan kiri ku, Susanna Leinonen seolah bercerita dengan suara pelan di belakang telinga ku yang tuli. Bukan berarti aku tidak dengar, tapi....

Betapa horrornya masyarakat. Masyarakat hidup dengan kita, bukan kita yang hidup dengan masyarakat. Hahaha! Seperti adik-kakak yang hidup dengan kita, kita jadi bagian dari persaudaraan itu. Penari yang bermain di ruang segitiga tadi, pada akhirnya "didatangi" teman-temannya. Teman-temannya itu berjalan dengan gaya militer. Gerak jalan yang sangat teratur. Dimulai dengan langkah paintbrush, disusul dengan tumit mendarat di lantai, dan begitu seterusnya. Badan mereka condong ke depan, seperti menarik beban berat di balik punggungnya, atau mungkin seperti mengancam yang ada di depan mukanya. Society. 


Society, karakter mass yang judgemental dan mainstream. They will not let you play your solo for long duration. They are there, watching behind the blur line you create. Bercerita lah di belakang telinga kiri ku yang kurang dengar, dan bercerita lah dengan suara pelan. Mungkin dengan begitu aku harus memejamkan mata dan melupakan garis normal-abnormal, sakit-sehat, rejection-acceptance !

Susanna menunjukkan bahwa tidak akan pernah ada posisi balance antara individual dan masyarakat. Seorang penari "dihajar" lima lainnya, atau dua penari dihantui tiga lainnya.

Ada adegan khusus, dimana sepasang lelaki-perempuan menari bersama. Terhubung satu sama lain. Dari gerakan-gerakan mendekap, koneksi terus berkembang menjadi gerakan mengikat, dan kemudian melibas stau sama lain. Tarian ini diulang lagi, dengan arah gerak diagonal. What an effort. Susanna memberiku kesempatan untuk melihat lebih dari sudut pandang yang lebih dari satu. Pilihan disediakan, and the line begins to blur.

Jumat, 05 Oktober 2012

Jumat Malam Kemudian

Saat aku meneguk kopi hitam yang pahit ini, lidahku setengahnya mengecap asamnya red wine yang kunikmati dengan Sardono .W Kusumo, sebuah kemenangan yang tertunda.

Sebulan yang lalu di suatu siang, aku mengutarakan ingin dididik menari olehnya, tapi ia menepis harapan itu dengan cepat, mengungkapkan bahwa penulis haruslah fokus menulis. Namun malam itu di cafe bergaya Italia, ia yang mengundangku untuk berlatih tari di studionya, besok pagi, jam 10.

Hanya karena undangan dari mulutnya itu, red wine jadi terasa nikmat.

Tapi karena esoknya ia bangun kesiangan, peristiwa tari itu pun tertunda. Dan semua yang tertunda itu sebenarnya mendesir aliran adrenal, karena ia akan terjadi.

Petualang sejati bisa melihat mata yang ingin berjalan lebih jauh. Petualangan sejati adalah menikmati sunyi.

Saat kita membicarakan hujan, kita jadi hujan.
Saat bergerumul tentang benci, kitalah kebencian.
Saat berbicara tentang tari, menjadilah.

"Cheers, untuk Jepang tanpa bunuh diri" -Sardono W Kusumo, ATavola Kemang, Jumat, September 2012.

Rabu, 03 Oktober 2012

apa yah judulnya

kenapa sih gue harus nulis?
kenapa sekarang?! kenapa hari ini? sumpah ni alam ye, konspirasi... gue dateng ke Mumos, eh dipake kelas vokal padahal kata Ande "okay~" pas gue SMS mau nyewa jam 3.
Gue ke New Body, kaga bisa pake laptop padahal gue udah download lagu-lagu magnificent. Lalat. Dan gue end up nongkrong di My Padz cafe, gak lupa mampir ke toilet untuk ngelepas sport bra. Lega. Yael Naim. Lalat. Parah (Paket Murah): es teh dan single pancake pake mini scoop es krim vanilla. Gue pengen jalan jauh. Jalan yang jauh...sekali. Gue nggak suka sesuatu yang nanggung.

Ini apaan lagi perusahaan game Capcom buka pabrik daging manusia.

Tiba-tiba latihan interlude diundur jam 8. Dan Mumos sudah bisa dipakai jam 17:30. Cabcus. Alam selalu punya kejutan yes?

Selasa, 02 Oktober 2012

Insufficient Dosage of Everything

Installation of Disease Evaporation. Insane Dance Erection, or anything, you name it. IDE.
Untuk bertemu  sesuatu yang diluar jangkauan, kau harus sampai pada titik muak.
Aku muak mengais-ais uluran tangan untuk dibawa menyusuri jalan setapak yang gelap: tari.

Aku bertemu mereka saat tanganku berhenti memohon. Aku bertemu IDE saat kakiku mulai berjalan mencari jalan, saat aku mulai sok tahu dan nggak tahu malu. Hahaha, ternyata sikap itu diterima oleh alam dan dipertemukanlah aku dengan hari ini.

Apapun yang terjadi hari ini, sayangku, adalah hasil panen dari butir-butir aksi yang kau tabur di hari-hari sebelumnya. Karena sudah nekat bikin anak orang menggerakkan rangkaian tambal sulam ku dengan lagu Hometown Glory Adele, karena sudah berani malu melihat diri sendiri menari tanpa arah di depan kaca, dan karena sudah seperti binatang yang menyalurkan hasrat menari di jembatan trans jakarta,

alam memberiku hadiah eksplorasi tubuh di bawah arahan Yola malam ini.

Setiap hari adalah bingkisan hadiah, entah apa isinya. Satu-satunya yang harus kulawan adalah pikiranku sendiri, dan satu-satunya yang harus kudengarkan adalah tubuhku sendiri. I'm a fuckin writer, how the fuck I could do that? Well, prepare for a marvelous switch, like from day life to dream, atau seperti nada polifonik ke gema pentatonik.

Gila itu nasib, tapi mengikuti kegilaan itu pilihan.

Minggu, 09 September 2012

communication attempt: transjakarta

Transjakarta adalah usaha revolusioner dalam memperbaiki infrastruktur.
Dengan alur asimetris dan warna putih konsisten,
jembatannya seperti menghadirkan liku dunia fantasi yang berdiri superior di atas tanah yang terlalu asam dan menggantung inferior di bawah pucuk-pucuk gedung pencakar langit.

Di hiruk pikuk teriakan kernet bus kota dan angkutan umum yang berhenti di mana saja ia mau,
transjakarta jadi satu-satunya transportasi umum yang punya standard operation procedure.
Fatamorgana akan kehidupan yang lebih baik pun menghinggapi warga Jakarta, di awal kemunculannya.
Menabur benih, Sutiyoso menuai puji dan maki.

Dengan cepat, transjakarta jadi musuh supir kopaja, metromini, ojek, bahkan taksi.
"Ya gimana mbak, sekarang kalo udah ada bus yang nyaman kayak gitu, pemberhentiannya juga banyak, orang jadi lebih milih naik bus daripada taksi. Itu kan ngambil rejeki saya,mbak," celoteh curhat supir taksi sekitar tahun 2007.

Aku sendiri pendatang,
anak kos dan mahasiswa saat itu. Tentu transjakarta tampil seperti pahlawan bagi anak desa yang stress menghadapi infrastruktur ibukota.
Dari Kebon Sirih ke Kota pun terasa dekat karena duduk saja, atau transit bus tanpa bayar lagi sampai di pemberhentian yang dituju.
Penjaga pintu dengan ketat membatasi jumlah penumpang demi kenyamanan tiga ribu lima ratus rupiah, awalnya.
Transjakarta benar-benar jalur bebas hambatan, awalnya.
Jembatannya bersih dari pedagang dan pengemis sehingga leluasa untuk dilalui, awalnya.
Semua awalan menghidupkan kata dasar.
Awalan apapun jika bertemu kata dasar "Jakarta", akan berubah fungsi. Berproses keluar jalur.
Transjakarta, terima kasih telah hadir sebagai fatamorgana keteraturan
di tengah Jakarta yang tetap sebuah nekropolitan.

10 September 2012 01:44

Senin, 13 Agustus 2012

short story: ugly faerie


when I saw a globe in the laboratory,
I saw my self sitting alone on the top.
at evening when I was walking home,
I was wondering what she might be doing
was she walking around the globe, hunting a bacteria,
was she trying to spin the globe for fun

night came and my thought of her got stronger
the lab must have been dark,
as dark as my room after imaginary good night kisses
from imaginary parents

one day I found this boy who was crying
he was separated from his mother
he didn't know what to do. I walked him to the information center
it didn't take a long time for the boy to be in his mother's hug
I imagined that girl who sat behind the microphone could get me my mother
but I didn't even know her name
I just knew that girl on the globe in the laboratory

now everyone has died.
there were just me,that boy, and his mother in this world
from him I learned to get a help
he taught me how to hug, showed me what it feels to be hugged

then I am now a very different person
I say "I need you" from time to time
I hug him from time to time

but I feel the same
the warmth of hug doesn't change anything
then I found out I said I needed him just because

the girl on the globe didn't  know how it feels to be weak
the girl on the globe knew nothing about surrender
but she tells me

I want to feel what people call 'security'

Minggu, 22 Juli 2012

air mata

air mata ada
mungkin untuk membasuh penglihatan yang buram. setelah menangis mungkin seseorang bisa melihat ikan yang berenang dalam genangan air di telapak kakinya,
mungkin setelah menangis ia bisa melihat indahnya hujan, dan menerobos sekat-sekat yang mungkin ia buat sendiri.
itulah kenapa namanya "air mata" bukan "tai mata"
air menjernihkan, dan membasuh seperti seorang pengasuh, ibu.

Selasa, 17 Juli 2012

berbagi kepala

Ini mengenai pengalaman saya dengan kawan-kawan terdekat. Pukul 4:27 dini hari ini, saya baru menyadari, yang mengaitkan saya dengan mereka bukanlah kesukaan yang sama, tapi kami suka bertukar pikiran. Lebih dari sekedar mengutarakan pendapat, secara terselubung kami sama-sama menawarkan pola pikir otentik khas diri sendiri pada sahabat, semata-mata karena ingin menerangi jalannya yang mati lampu, atau malah mengebor tembok dan membuatkan jalan baru.

Menawarkan pola pikir tidak semudah mengutarakan pendapat. Dan usaha ini tak jarang: gagal. Acapkali pemikiran saya tidak diterima, dan sering juga para sahabat gagal meletakkan pola pikirnya di frame kepala saya.
Seiring berjalannya waktu, saya terus mengamati, bagaimana cara menawarkan template baru pada seseorang. Ternyata, template pemikiran saya banyak di re-adjust oleh film, pertunjukan tari, lirik lagu, dan puisi. Ya, justru jarang yang dari dialog panjang. Dan gaya ceramah bisa saya bilang 99% gagal total.  Saya juga melakukan kesalahan ini, dan terdengar seperti ibu-ibu menceramahi anaknya:

"Daru, kamu kan nyetirnya jauh. Pake helm dong."

"Berdoa, Ru, beneran deh, Tuhan pasti membantu."
"Come on! Dulu waktu lo ga kenal dia juga hidup lo indah-indah aja, begitu putus, ya kembalikan keindahan hidup seperti sblm kalian kenal. Susah amat!"

Gaya penyampaian seperti itu gagal saat saya terapkan, pula gagal diterapkan sahabat pada saya. Gaya ceramah itu maksa, dan nggak empati. Pernah juga seorang sahabat meminta dan menunggu sampai saya mengikuti sarannya: SMS orangtua saya panjang lebar menjelaskan perasaan saya. Saran yang gagal total. Gatot Subroto. Why? Because I simply don't live that way! Sementara itu, sahabat yang satu ini memang biasa mengungkapkan segala gundah gulana lewat SMS, BBm, atau bertatap muka langsung. Both parents and her are communicative. Jadi, saya sarankan hindari membawa family value dalam bertukar pikiran, karena aturan main keluargamu belum tentu ada di kehidupan sahabatmu.

Hal yang lain, jika kamu tidak menerapkan apa yang kamu transfer, most likely gagal. Doing isn't as easy as talking. Prove it to yourself first. Ada satu pola pikir yang berhasil diterima sahabat saya yang mengeluh, akhir-akhir ini dia sial terus. Banyak yang membuatnya sakit hati, dan mood nya makin berantakan dari hari ke hari. Sekali lagi, bertukar pola pikir lebih dari sekedar memberi saran, tapi memberi cara menganalisa dan merespon sebuah keadaan. Saya meminta dia memperhatikan sekitarnya, teman-teman yang sering bersamanya, apakah mereka orang-orang yang hobi mengeluh? Ternyata iya. Saya meminta ia menjauh untuk beberapa lama dari mereka dan mencari orang-orang yang suka tersenyum, tertawa, dan jarang membicarakan keburukan orang lain. Lepas dari berhasil tidaknya cara demikian, tapi dia benar-benar menerapkannya. Berarti transfer berhasil. Tentu saja template ini saya lakukan juga pada diri saya. Tahun 2009 akhir, saya memprogram otak saya, terus-terusan menanamkan bahwa "Tahun 2010 saya akan bertemu dengan orang-orang hebat dalam bidangnya" dan itu benar-benar terjadi. Berada di lingkungan orang-orang yang progressive membuat saya ikutan preogressive. Tidak ada waktu untuk menganalisa keburukan orang lain, atau menangisi kejadian-kejadian pahit di masa lalu. Jadi, dalam pola pikir saya, lingkungan sangat mempengaruhi. Dan lingkungan bisa dipilih.

Sahabat yang saya ceritakan ini juga berhasil menawarkan pola pikirnya pada saya waktu saya harus meninggalkan seorang pria dan segala hasrat saya untuk bersamanya. Tidak mudah menawarkan solusi pada orang yg sedang patah hati, apalagi usia belasan tahun. Kawan saya ini bilang "Sama aja kayak gini Kei, tujuan user masuk rumah rehabilitasi apa? Buat berhenti ngobat kan? User itu orang yang suka sama drugs, tapi dia masuk rumah rehab buat stop all the drugs-using. Because he knows it's doing him bad."

Sebetulnya ada juga sih, seorang sahabat yang banyak berhasil dala menukarkan template pada saya, tanpa saya tahu/yakin apakah ia menerapkan template yang ia tawarkan atau tidak. Saat saya meninggalkan comfort zone saya (mantan), tentu ada masa-masa terpahit dimana saya memutuskan untuk... kembali padanya. Sahabat saya ini bilang "Terangnya fajar itu datang setelah kegelapan malam yang paling pekat." Dan sepenggal kalimat ini mengubah keputusan saya, seperti supir yang banting setir, membelok tajam. Pemikiran yang ia tawarkan itu masuk akal, dan menantang. Ya, ya, fajar nggak datang jam 10 malam, tapi jam setengah empat pagi, setelah gelap yang paling gelap. Saya menangis dimana-mana saat itu, di bus kota, di halte, dimana-mana, air mata terus saja jatuh tanpa distimulus. Sampai saya pura-pura sakit mata. Dan template yang ia tawarkan berhasil, maksud saya, benar-benar berhasil. Saya seperti terlahir kembali setelah masa itu. Saya menulis banyak hal, dan bahkan berkenalan dengan dunia tari. Amazing. 






Jadi begitulah, kisah saya dan para sahabat, kumpulan orang sotoy. Kalau dianalogikan kami ini kayak penjual obat deh, beberapa penjual obat di pasar malam yang sama. Hahaha! Selamat mencoba! (kalau berminat :D )

G.F.Y . Rica O Darmawan

Tanggal 10 juli 2012, hari Selasa, saya nyengir girang melihat kartu undangan dan denah tempat duduk karya G.F.Y

Saya diundang nonton rehearsal , di mana undangannya hanya empat penonton. Siapapun pasti setuju, ini sesuatu yang spesial. Dan di bangku yang ditandai no.4 saya akan duduk, di jok tengah sementara 3 penonton lainnya di belakang. Jantung saya sudah berdebar sejak di rumah. Undangan jam delapan malam. Jam setengah tujuh saya terburu-buru menunggu metromini 74 menuju blok m.
Angka.
10 2012 4 3 7 8 74
Saya tidak suka angka. Angka punya bentuk yang tidak luwes, sekalipun 8. 8 punya ruang yang mengurungmu di dalamnya. Tapi sejak hidup di Jakarta, angka jadi makin penting bagi saya. Saya berkejaran dengan waktu, dan menghafal nomor bus kota.
Saya selalu ingat ekspresi wajah dan tubuh saya ketika harus berhadapan dengan akuntansi, matematika, fisika. Boleh berbagi cerita, saat les privat fisika di rumah waktu SMA, saya:
  • berdiri di atas kursi
  • tengkurap di atas kursi dan berubah jadi pesawat, berputar-putar dengan kursi yg beroda.
I couldn't handle it. Fuck my self, go.
Begitu berkenalan dengan bus kota, ternyata saya bukan orang ter-aneh di dunia seperti yang dikatakan orang-orang saat saya SMA. Kernet bus adalah koreografer ajaib, yang bisa memasukkan sebanyak-banyaknya penari ke dalam bus. Ia kenal posisi, percaya pada possibility, dan dia bisa bergelantungan dengan banyak pose di ambang pintu bus. Ini bukan fiksi, bukan, percayalah, saya naik bus kota selama lima tahun, hanya sebagai penumpang sih. Sebagai penumpang saja saya kenal betul gerak-gerik ini, gimana si kernet? Keirngat dan jiwa raganya nempel di atap dan besi-besi bus yang berkarat itu. Pasti!

Datang ke Cikini, saya disuruh standby di lokasi undangan oleh Rica, tidak boleh ikut nongkrong sama dia dan penari-penarinya! Surprise was on the making. Buka handphone, membaca lagi SMS Rica:

" lokasi: parkiran depan planetarium. ada avanza hitam no B**** cari tanda segitiga, itu tempat berdiri penonton."

Oke, saya ketawa ketiwi berdiri di segitiga rambu parkir.

Di samping saya, kira-kira sejauh tiga lencang kanan, ada rambu segitiga lagi dan di situ berdiri seorang wanita berjilbab, namanya Inda, dia juga undangan. Aheey asiik seruu senangnya diundang! BRAK! Para penari lari dari belakang kami dan menabrak mobil sekuat-kuatnya. Brak! Bruk! Rizki Suharlin Putri, yang bersandar di pintu mobil dihimpit oleh para penari lainnya, hingga ia berteriak.

Teriak.
Itulah awal luapan emosi, saat kamu merasa tidak kuat lagi. Tapi terjebak, tak bisa melepaskan diri. Mau apa?

Sequence penganiayaan mobil ini terus berjalan. Lompat-lompat di atap, dsb. Saya kini bebas, saya adalah penonton yang bebas. Saya kini tak terhimpit seperti dalam bus kota, tapi saya bebas melihat berkeliling. Ini adalah pengalaman menonton pertunjukkan tari dari sudut 360 derajat. Saya bisa memperhatikan kaki, rambut, dengan sedekat-dekatnya.

Setelah puas berkeliling, pintu dibuka dan penonton dipersilahkan masuk. Kaki Ratri Anindya yang menggantung di atap naik perlahan memberi jalan untuk saya masuk ke mobil. Rica mengendarai mobil dengan penari yang masih bergelantungan di berbagai sisi luar mobil.


Konsep pertunjukkan yang beyond standard ini silahkan para pembaca telaah sendiri. What's the point for me is, saya boleh nyengir tengil pada Immanuel Kant, filsuf Russia, yang bilang "The thing in itself can not be known." Saya memegang sepenggal pernyataan itu, saya aplikasi dalam setiap apresiasi maupun karya saya. Kita hanya bisa melihat dari satu sisi, itulah kenapa kita tidak bisa berpendapat terlalu jauh, atau menghakimi, bahasa langsungnya.
But Kant, hey, this choreographer brings me to the very core of the venue, the property, the reason why the piece is born! What can I ask for more?

Di dalam mobil ada rongga-rongga, seperti tubuh kita. Di rongga belakang ada para pengamat, di rongga kedua ada saya, diserang, dihimpit, dan dilalui tubuh para penari G.F.Y. Kini keterpisahan panggung-penonton itu tidak ada lagi. Terima kasih.

Bagi saya, semua yang mereka lakukan adalah sebuah teriakkan dan usaha melepaskan diri dari himpitan, dari sesuatu yang mereka ingin saya rasakan juga saat itu! Himpitan tidak selalu berarti derita sih, get the best out of everything! Mereka bermain gelembung sabun, bahkan kembang api, dan player mobil melantunkan lagu ceria ber-lirik optimis.

Seperti kernet bus, saya rasa Rica kenal betul dengan setiap lekuk mobilnya. Segala alter ego dan tumpahan emosi berceceran di mobil itu, tentu. Dugaan saya bahwa karya ini cenderung spontan dan jauh dari koreografi ternyata di-iyakan oleh koreografer, namun menari untuk G.F.Y bukan butuh teknik kepenarian setinggi pohon kelapa, tapi mentalitas se-raksasa pohon akasia. Rica, Ery Yovan, Rizki Suharlin, Sita Tyasutami, dan Ratri Anindya saya  masukkan dalam daftar penari batu karas, dari patahan tebing di gunung yang mendarat di hiruk pikuk Jakarta.

Satu lagi, IKJ harus bangga dengan G.F.Y
G.F.Y secara mengagetkan mengembalikan saya pada kenangan dimana kampus itu masih berasa rumah bagi saya, dimana saya diajarkan mencari kemungkinan-kemungkinan bahkan dalam keadaan paling mustahil.

Yeah, G.F.Y,
The world fucks me from top, under, right, left, front, and back. But Rica .O Darmawan along with the dancers agree with me to tell the world that we can fuck ourselves! And we create good times in the worst. 

Selasa, 05 Juni 2012

Bertemu dengan Yola. Situasi Ambigu

Tulisan ini tidak layak diberi judul "Payau #2.Yola Yulfianti" seperti "Beat. Danang Pamungkas" karena saya sering datang ke latihan dan mengobrol cukup dengan Yola jauh hari sebelum pementasan.

Jika elemen-elemen rasa seperti rindu, kecewa, dan sebagainya datangnya dari manusia, elemen utama dalam karya Yola murni dari alam: air, sesuatu yang sangat sehari-hari. Tidak se-abstrak udara, air bisa dilihat, disentuh, dan berkomunikasi langsung dengan kita. Perbincangan personal dengan koreografer membuat saya mengerti judul "payau" sebenarnya kaitannya dengan perasaan ragu dan abu-abu yang dialami Yola sekitar tahun 2004, menjelang kelulusannya dari S-1 Seni Tari IKJ.

Bertemu dengan karya "Payau #2" ini jadi lucu, karena kebetulan saya baru saja mengambil keputusan ekstrim: resign dari kantor tanpa alternatif mata pencaharian pasti yang menunggu setelahnya. Situasi payau yang dijelaskan Yola kurang lebih sama dengan perasaan saya menjelang resign nya saya dari kantor. Lepas dari regulasi perusahaan yang kacau, saya merasa badan saya tidak pas di situ. Uang tersedia pasti, setiap bulan pasti masuk sekian rupiah, bisa dikelola untuk ini-itu, tapi badan saya jadi milik kantor selama delapan jam Senin sampai Jumat. Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam situasi aman terkendali.

Boleh berbagi cerita sedikit, Yola pernah mengutarakan kebimbangannya di dunia tari kontemporer, bukan tentang perihal dunia tari, tapi di mana posisi dia, sampai kapan hingga belantara ini jadi terang dan tampak jelas jenis dedaunan dan binatang-binatang yang menggelayut di pepohonan. Cinta tapi bimbang, tak mau lepas tapi merasa tidak aman.

Kagum saya pada Yola karena judul karya dia bukan "ambigu" , "galau" , "bimbang" , tapi "payau". Dia seolah berusaha melihat dari jauh permasalahannya sendiri, lalu masuk ke lapisan kedua. Dalam kebimbangannya, ia memilih elemen alam yang bisa menggambarkan situasi.


Lepas dari sekedar judul, ia benar-benar menghadirkan air dalam karyanya. Saya menonton video "Payau" yang dipentaskan sebagai ujian akhir akademis, kemudian mengikuti proses latihan "Payau #2" yang terpilih sebagai main performance Indonesian Dance Festival 2012. Dalam karya gubahan ini kepedulian Yola menjadi sosial, yaitu air sebagai permasalahan Jakarta.






Tanpa meninggalkan suasana "Payau" (2004), Yola menghadirkan Shinta Maulita, alumni baru seni tari IKJ, Rizki Suharlin Putri, ekstrimis dari Bangka yang kabur dari rumah demi program S-1 seni tari IKJ, Meitha Nindya, penari muda yang keras ditempa Jecko's Dance Company sekaligus mahasiswa aktif seni tari IKJ, dan Rica .O Darmawan, wanita dewasa yang matang sebagai penari dan model di berbagai pertunjukan dan videoklip, wirausahawan sukses di bidang make up, namun memutuskan untuk masuk S-1 seni tari IKJ!
Diam-diam saya meneliti, bertanya dalam hati, merasa penari tidak mungkin dipilih random. Saya rasa, masa transisi dan keadaan-keadaan tidak aman fit dengan suasana "Payau" (2004). Lalu dihadirkan juga Luluk, penari senior dari Solo, dengan warna kostum yang berbeda.

"Kenapa mas Luluk beda sendiri warna kostumnya?"
"Ehm.... gue butuh kehadiran gue di karya itu.."
"Okesip."

Pada tanggal 4 Juni 2011, hari Senin mendung jam 4 sore, saya pun masuk venue untuk menuai hasil latihan berhari-hari yang mereka lakukan. Itulah sebabnya, saya tidak bisa menulis dengan obyektif di sini, karena, berbeda dengan karya-karya yang saya hadiri untuk menyaksikan, dalam "Payau #2" saya seperti hendak memetik buah saja. Ya, ya, ya, saya sudah tahu nanti akan ada selang-selang bergelantungan sebagai instalasi hasil kolaborasinya dengan Unank Ramdani, tapi begitu saya masuk....

Goddamnit, Yola, kamu membawa saya ke dalam dunia saya, ke dalam situasi saya saat ini. Apa-apaan ini, gelap, sampai-sampai mas Seno ngesot saat turun tangga takut jatuh. Salah melangkah, kakimu akan tersandung selang. Di pinggir kanan kiri tempat duduk penonton adalah bongkahan-bongkahan meja lapak berdiri miring dan terbalik, besi tua, dan segala macam benda keras. Di fence dekat pintu utama menggantung handuk-handuk mandi.





Bisa diperhatikan, foto di atas, dimana ada dirigen-dirigen mengapung sembarangan, itu adalah tempat duduk penonton. Penonton yang duduk di instalasi kesemerawutan pinggir panggung diusir oleh project manager. Ya iyalah, itu instalasi gitu loh bo! Lagian, kenapa anda memilih duduk di atas kesemerawutan yang gelap? Mending di atas dirigen kecil, pas seukuran pantat anda.

Cerdiknya Unank Ramdani dan Yola Yulfianti, yang membuat kaki penonton terendam air selama pertunjukan berlangsung. Bukankah air itu sifatnya konduktif?

Cold, cold water surrounds me now...
And all I've got is your hand


Lord, can you hear me now?
Lord, can you hear me now?
Lord, can you hear me now?
Or am I lost?


(Cold Water, Damien Rice)



Minggu, 03 Juni 2012

tiga performans , satu kejutan


Minggu, 3 Juni 2012
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
20:00 - 22:20

Malam ini aku relakan Rp100.000 untuk tiga karya tari, yang harusnya bisa setengah harga kalau pesan jauh-jauh hari atas nama siswa Gigi Art of Dance tapi ya sudahlah. Ruang pertunjukkan penuh, petugas tiket menyambutku dengan pesimis. "Udah tinggal kursi-kursi ngga enak mbak. Yang tengah udah full." "Ya rekomendasi aja deh mbak," jawabku, "Pilihin dong kira-kira yang enak dimana." Lumayan juga, memberi kepercayaan pada petugas tiket, dia memilihkan alternatif tempat duduk terbaik dari yang tersisa. Aku lalu kembali ke front desk untuk minta buklet sinopsis eh mereka nggak punya, tapi mereka memberiku buku berisi kumpulan main performances IDF 2012 beserta tetek bengek kata sambutan, daftar kru, alhamdulillah! Padahal mereka bilang "Ini sebetulnya untuk pers lho, terbatas." "O ya? Aduh makasih yaa!"

Malam itu pakaianku kayak tabrak lari, kaus biru celana hijau tas merah. Yah, soalnya mau nonton iBody nya Miss Andara. Entah kenapa orang itu meninggalkan kesan warna-warna neon di benakku. 

Panggung dinyalakan oleh performance Hafiz Dhaou dari Tunisia. Sinopsisnya ngeri, tentang mistifikasi kopi. Tapi postingan kali ini adalah tentang pengalamanku menonton My Space (Ruangku) karya Nur Hasanah 


Oke, saya berusaha tidak puitis di sini. Jujur dan langsung saja, karya Hasan ini berhasil menyentuh. Ditarikan solo oleh sang koreografer sendiri, karya ini membuat sinopsisnya berhasil. Ya, maksudnya sinopsis berfungsi benar jadi pengantar penonton untuk menghayati karya, dan penghayatan itu harusnya melebihi yang penghantarnya.

Sinopsis yang tertulis di buku IDF untu My Space:

Ketika seseorang pernah kehilangan asa, ruang pun menjadi sepi. 
Berusaha mencoba menerima kekecewaan, dan membawa diri untuk tetap bergerak di ruang
yang baru.

Tentu antisipasi penonton (baca: saya), Hasan akan tampil melankolis, dengan alur yang menggambarkan keputus-asaan, disusul dengan ekspresi optimisme. Tapi puji syukur ke hadirat kekuatan karakter, bagi saya Hasan berbicara lebih dari itu di panggung. 

Dengan kesederhanaan bohlam gantung dan sofa tua, properti sofa ia gunakan maksimal, seperti kostum, bagi saya. Dimulai dengan sofa yang membelakangi penonton, dia berbaring di situ, invisible.  Gerakan pembuka yang saya nggak bisa lupa: jemari. Gerakan kecil yang mampu mengkomunikasikan sesuatu. Akan terlalu bertele-tele kalau saya sebutkan satu persatu gerakan dia yang nempel di memori. Intinya, menurut saya Nur Hasanah berbicara tentang comfort zone. Sofa itu ia putar balik berbagai posisi. Betapa ia mencintai sofa itu dan berlindung di baliknya. Hasan merangkak di bawah sofa seolah penonton adalah serdadu-serdadu musuh. Namun akibatnya, ia tertimpa sofa. Comfort zone itu jadi benalu untuknya sendiri. Terjadilah adegan yang cukup ngeri dimana Hasan dengan tubuh telentang berusaha keluar dari sofa yang terbalik. Dijembatani dengan fall to rise yang mengalir, ia pun bangkit. Kemudian, dengan ekspresi "I can't watch this" , ia memutar balik sofa hingga berdiri 90 derajat di atas tanah. Maka sofa itu tak lagi bisa ditiduri; tapi hanya dengan memanfaatkan sisi kiri sofa (ruang sempit. Ia bisa saja moving kanan kiri depan belakang) , Hasan berhasil loh... menunjukkan attachment pada sofa itu, seolah berat hati meninggalkan comfort zone. Saat ia menari tanpa sofa, tak ada gerakan akrobatik heboh spektakuler, tapi terasa sungguh personal. Banyak gerakan menoleh yang kuat, menghentak. Just like normal people, we always look back to good memories, to the past. 

Penutup performance Hasan cukup akrobatik dan mengejutkan. Dia lompat ke atas sofa yang berdiri terbalik itu. Dia duduk dengan nyaman di atas comfort zone nya dan tersenyum. Saya nggak bisa berpura-pura, karakter Xena, The Warrior Princess tampil dalam sosok mungil Nur Hasanah pada adegan akhir ini. Bahwa.... pada akhirnya, orang yang menang bukanlah yang berlindung di dalam zona nyamannya, bukan pula yang insecure tanpa comfort zone; tetapi dia yang berhasil mengontrol emosi,cinta,nafsu... zona nyamannya!

Sabtu, 25 Februari 2012

Beat. Danang Pamungkas

Pukul setengah sebelas malam aku sampai di rumah, baru dari Salihara nonton karya tari Danang Pamungkas, judulnya Beat. Danang adalah salah satu seniman penerima Hibah Seni dari Yayasan Kelola, jadi mungkin karya yang dipertunjukkannya tadi adalah bentuk tanggung jawab karya untuk hibah dari Kelola.
Sebuah potongan kalimat di lembar sinopsis untuk Beat seperti ini: "dan sesekali, karya ini juga mencoba “melepaskan diri” dari musik dan membuatnya mengalir lewat tubuh sang penari.". Itu adalah kalimat terakhir, namun justru kata kunci "melepaskan diri" itu yang membuatku datang jauh-jauh ke Salihara walaupun sebenarnya masih harus istirahat.
Sebagai awam di dunia tari, demikian yang terbesit di otakku: Jika maksud Danang adalah untuk membuktikan dan memberi penekanan bahwa tubuh memiliki ritme, rhytm, atau mungkin bahkan rhyme, ia sudah berhasil dari menit-menit awal resital. Musik pengantar tidur terdengar kontras dengan gerak tubuh penari yang cepat namun matang, dengan tempo yang presisi. Namun pertunjukkan terus berjalan, seperti tak ada habisnya.
Di ruang gelap teater Salihara, di mana pandanganku hanya mengarah pada panggung yang membumi, nafasku tersengal-sengal. Karena pilek. Hmm, maksudku, ada scene yang membuat nafasku tersengal, Breathtaking bahasa kerennya; yaitu saat Danang menari begitu fluid, cair, mengalir, sadar, dan tidak berhenti! Sementara itu, seorang penari lainnya berjalan begitu lambat, cair, sadar. Saat adegan itu nyaji di panggung, terjadi peristiwa dimensi waktu di benakku. Seperti yang pernah ada di percakapan aku dan Nikma setelah kami membaca terjemahan pemikiran Descartes, seperti yang pernah ada di kelas Estetika Mas Matius Ali, maaf aku lupa dasar pemikiran siapa yang sedang beliau bahas waktu itu, tapi tentang konsep waktu. Bahwa sedikitnya ada dua realita waktu. Yang berdetak, yang dijadikan kesepakatan bersama. Satu lagi, yang ada di alam kesadaran kita sendiri-sendiri.