Selasa, 12 November 2013

I saw the body

Today I experienced a peculiar feeling, when I woke up on hands of those who carried me. I saw my body, from chest to toes, bare skin to shoes, and I could not feel them. I saw faces, mostly chins and necks. I felt dizzy but as if it was not my head.

I ever passed out before, but usually once I woke up all the bodily sensations emerge to the surface of my skin, all painful yet so real. This afternoon I was more like a mannequin. I didn't know which part of my body I should feel. It was just a body, under clothes and shoes, and I don't know if any pain and pleasure this body ever experienced could act as a memory, bringing it back to life, but then I also asked, what is life?

Is life a series of sensations? Is it a sequence of temporary pain and pleases, if so then I don't know what to treasure.

My body was put down on a surface and I saw eyes staring at me. But which one is me? Is it my eyes that have the feeling of being me? I felt like getting the first clue. My eyes! I should try to feel them, where are those features? This attempt failed. Even if I tried to explain more here about how I felt when I saw the body,  that effort will fail too. I saw those people being so concerned about the body. Somebody held the hand, another one taking off the shoes and the rest of the people kept staring at the eyes. But that body was not me. I don't know where I was. I was there near my body, yet I was not in a place. I lost any spacial sensation. The image of a body, people, and furnitures felt so dull like a drawing, an unfinished one.

Sabtu, 26 Oktober 2013

This Cycle We're In. Andara Moeis

Malam ini untuk kali pertama saya menjejakkan kaki di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru. Sebuah gedung tua berdiri dengan megah layaknya Istana Negara, walau mungkin miniaturnya. Berbeda dengan Teater Salihara yang eksentrik dengan sebuah tembok tinggi penuh graffiti dan lantai abu-abu, Gedung Kesenian Jakarta memproyeksikan sebuah kemewahan ortodoks. Begitu memasuki ruang pertunjukan, kalimat pertama saya adalah "Wah seperti di luar negeri ya!" Suasananya mengingatkan saya akan film Moulin Rouge.

Pertunjukan dibuka dengan tiga sling kain, dan tiga penari (dua perempuan, satu laki-laki). Sling biru untuk penari perempuan dan sling merah untuk penari laki-laki. Dengan background visual kelap-kelip cahaya dan suara jangkrik yang mendominasi, kedua penari wanita (Dilli, Mariska) tampak terbungkus dalam kain sling sementara penari laki-laki (David) tampak berputar-putar secara vertikal, berotasi pada slingnya.

SUMBER FOTO: THE JAKARTA POST

Perputaran David yang teramat lembut menghadirkan kesan sebuah fetus di dalam rahim, didukung dengan para penari lainnya yang mulai mengintip dari dalam kain, dan mulai menampakkan diri. Kaki mereka lalu perlahan menyentuh lantai, badan mereka berayun dengan pasrah, dan akhirnya lepas dari sling masing-masing. Kesan kehidupan sebelum kelahiran pada babak ini didukung dengan kostum mereka yang sangat minimal, sementara itu pada babak selanjutnya tampak mereka membawa baju dan mengenakannya di atas panggung. Adegan ini tidak ditarikan, namun secara harafiah benar-benar proses memakai baju. Setelah itu, yang saya ingat adalah David memulai gerakan dengan mengeksplorasi bentuk-bentuk dengan tangan, Mariska dengan kaki, dan Dilli memulainya dengan pinggul. Perlahan, ketiga penari ini melakukan interaksi gerak yang cepat dan rumit. Yang tidak bisa dilupakan adalah banyaknya gerakan lifting yang saya pun tidak paham interaksi apa yang berusaha disampaikan dalam rangkaian adegan ini.

Dari keseluruhan karya, saya paling terkesan dengan adegan Dilli dan David. Menurut saya adegan itu yang terasa nyata, di mana emosi kedua penari itu sampai pada kursi saya di barisan ke-8. Dari rangkaian babak yang berusaha "bercerita", baru babak ini yang terasa lebih dari bercerita, namun "mengungkapkan". Isu-isu keraguan pada pasangan yang bergejolak dari dalam diri masing-masing penari menghadirkan konflik yang seolah seperti konflik hubungan, tapi sebenarnya konflik dalam diri masing-masing! Berusaha hadir untuk orang yang kita cintai; namun usaha itu selalu gagal, sebelum kita berhasil hadir untuk diri kita sendiri. Hempasan dan langkah Dilli yang tampak lelah makin membuat saya lupa bahwa ini sebuah koreografi; tampak nyata dan sedih sekali.

Namun sayangnya, saya merasakan lompatan yang terlalu jauh dari babak ini ke babak berikutnya. Dengan tirai yang menampilkan visual gedung-gedung Jakarta, sekitar tujuh penari termasuk penari utama lai-laki (David) bergerak secara rapi, mondar-mandir dalam baris, menghadirkan suasana sibuknya warga Jakarta dalam kotak-kotak pekerjaan mereka, sementara Dilli tampak melakukan gerakan-gerakan yang lentur, tidak terpengaruh dengan keseragaman. Dilli berlari ke berbagai sudut melewati barisan orang-orang yang bergerak kaku tersebut, dan sesekali ia diam memperhatikan mereka. Kembali datang pengulangan adegan lifting di mana Dilli "dipindahkan" dari satu tempat ketempat lain, seolah tidak ada tempat bagi orang yang tidak mau ikut seragam. Babak ini diakhiri dengan mundurnya Dilli ke sisi belakang panggung.

Memang sinopsis karya ini menjelaskan bahwa This Cycle We're In bercerita tentang tahapan-tahapan kehidupan. Tentu kita semua tahu secara umum tahapan kehidupan adalah lahir, tumbuh, berperan dalam sosial, tua, dan mati; namun saya percaya setiap koreografer punya cara yang berbeda-beda dalam menyampaikan siklus ini melalui karya tari.

Tentu saja semua tulisan ini adalah pendapat pribadi, dan saya tidak mengenyam pendidikan seni pertunjukan, melainkan sebatas penikmat. Dari kaca mata saya, adegan interaksi, konflik hubungan yang kemudian di-emphasize dengan visual tarian solo oleh pemeran wanita -- adalah adegan yang paling kuat dan merengkuh penonton (saya) secara personal.

Senin, 19 Agustus 2013

Sebuah lamunan dalam teriknya siang:



CARILAH, CARI!
oleh Keisha Aozora

Aku membuka kitab tua ku. Kitab ini sudah ada lama sekali, namun tak pernah usang. Tak ada lembar yang tercabik, terlipat, kusut; hanya sering berubah tulisannya. Namun mataku ini masih jeli, sampai pada usia tuaku kini. Tanpa kaca mata, tanpa perlu menjauhkan mataku atau mendekatkan batang hidungku pada himpunan aksara ini, kusadari siapa yang tidak hadir malam ini. “Ksatria!” Prajuritku itu segera berhenti dan berlutut di hadapanku. “Di mana Cari? Ini sudah terlalu lama, dan namanya belum lagi tertera di sini.”

“Cari? Kau masuk dari mana?” tanya Sofia, masih memegang kunci pintu perpustakaan. Sofia tampak jauh lebih dewasa dari Cari. Penampilannya sederhana namun selalu rapih, tubuhnya ramping namun lebih berisi. Ini tahun keduanya sebagai pustakawan di sebuah universitas yang besar. Perpustakaan ini terbuka untuk umum, dan mungkin inilah kerajaan buku di negara ini. Ia lebih besar dari perpustakaan nasional, lebih diminati dari toko buku manapun, namun tak secuilpun barang dari perpustakaan ini bisa kau miliki. Ia hanya untuk kau alami sesaat. Tidak bisa kau beli bukunya, ruangnya, atmosfirnya, ataupun Sofia nya.

 “Oh, nggak, nggak,nggak… Kamu bermalam di sini?” Tersungging senyum kuda di wajah Cari. Tubuhnya ramping dan tak begitu tinggi. Sofia terheran-heran bagaimana mungkin Cari memanfaatkan figurnya yang tidak mudah disadari mata itu – untuk bersembunyi di perpustakaan.  Sofia merendahkan tubuhnya, melihat buku yang dipegang si mahasiswi baru. ‘Sleep Paralysis’. “Hey, kamu belum dengar cerita tentang hantu perpustakaan ya?” ujar Sofia, berusaha menakuti. Gadis itu mengernyitkan dahi, sekilas tampak sedang berpikir. “Apa hantu itu menyeramkan?”  Sofia mengamati rambut panjang Cari yang tak tertata rapi, seolah ia melihat buku-buku berserakan yang harus segera dibuatkan klasifikasi. “Kalau hantu itu adalah hantu  buku, aku mungkin nggak akan menyadarinya, karena terlalu banyak buku di sini. Aku mungkin nggak akan bisa membedakan mana buku dan mana hantu,” lanjutnya.  “Sosoknya sangat mencekam, Cari. Matanya melotot, rambutnya panjang dan berantakan. Ia suka muncul tiba-tiba di dekat kamar mandi. Ini perpustakaan tua!”  

Cari mengangkat tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Sofia, “Yang kau ceritakan hanyalah sebuah sosok. Keadaan mencekam itu hadir ketika kau memejamkan mata sebelum tertidur!” Sofia tersentak dan segera bangkit, ia melihat Cari sekilas, namun segera pergi. ‘Anak aneh. Pantas nggak punya teman!’ gumam Sofia dalam hati. ‘Kurus nggak terurus, cocok kalau ditemukan di sarang narkoba.  Tapi ia bersarang di serat-serat kertas. Ada-ada saja mahasiswa seperti ini...’

Dengan pandangan mata yang bias antara mencermati atau menerawang, Cari duduk di ruang kelas. Dosen masih menggambar skema yang rumit dan panjang, di papan tulis yang putih dan luas. Pemetaan kesadaran manusia, ah bagai menggambar denah samudra.  Tangan dosen itu telah sampai pada batas papan tulis. Ia menarik satu garis lagi dengan spidol hitamnya, memaksakan ruang....

Buk! Kepala Cari menghantam lantai putih polos tak berpola, tak bergaris. “Ugh...”  Ia berusaha bangkit.  Seorang wanita muda, dua puluh tahunan usianya, tampak cantik dan rapi, seperti Sofia. Namun tidak seperti baju Sofia yang selalu formal, bajunya tampak nyaman dan indah. “Cari... kan sudah Ibu bilang, hati-hati. Jangan lari-lari terus,” ujarnya. Setitik darah kental menetes ke lantai putih. Cari mengkerutkan badan, ia menoleh ke belakang, mencari pintu. Dari mana tadi ia jatuh? Tak ada pintu, hanya tembok. Ia mendorong tembok putih itu kuat-kuat. Matanya seperti menabrak hamparan putih yang menyakitkan. Sekali lagi Cari harus berusaha bangkit. Ia mengangkat kepalanya yang berat. Ah, ternyata bangku kuliah, meja putih yang sempit itu.

“Ah, dia pergi lagi?” tanyaku kecewa dan khawatir, pada Ksatria. “Ya, baginda, gadis itu mendorong-dorong badan saya dengan kuat sekali, saat saya mengawalnya menuju kemari.” Tak sengaja aku tertawa, ah, dasar anak kecil. Sebenarnya, ada atau tak ada dia, negaraku ini aman-aman saja. Nanti jika semua manusia sudah mati, barulah negaraku ini juga berakhir. Jika manusia sudah benar-benar tertidur, ia sampai ke hadapanku. Mereka singgah dan pergi secara rutin. Terkadang ada yang mati saat berada di sini. Prajuritku hanya satu, ia mengawal satu persatu manusia, menuju lelap. Mereka butuh berada di hadapanku, untuk keberlangsungan hidup di dunianya. Sungguh aku dan Ksatria bukan tokoh-tokoh yang suka menyakiti... namun Cari...

Ia memegangi kepalanya yang sakit. ‘Sial, seram sekali ruangan ini... Luas, putih, dan dingin. Bangku-bangku kosong...’ Cari segera mengarahkan matanya ke papan tulis, agar ia tak melulu melihat putih dan kekosongan. Ia ingat dosen menggambar skema penuh dengan spidol hitam di papan itu, namun ternyata papan tulis pun telah dibersihkan. ‘Kenapa nggak ada yang membangunkan aku? Bagaimana jika aku bertemu hantu yang diceritakan Sofia?’ Cari berjalan keluar kelas. Koridor kampus pun kosong. Jam dinding mengatakan bahwa Sofia sudah pulang, kerajaan buku sudah dikunci. . Perasaan Cari makin buruk. Terkadang kesendirian membuatnya kewalahan. Sepi itu menyesakkan dada dan mencekik lehernya. Di beranda swalayan, Cari memegang kopinya yang masih mendidih. Pramusaji tampak ngeri melihat kelopak matanya yang menghitam karena lelah. ‘Jahat sekali, tak ada yang membangunkanku,’ pikirnya.  ‘Mengapa tidur kini terasa sebagai sesuatu yang beresiko? Bagaimana cara membunuh tidur? Tidur ingin membunuhku, aku ingin membunuh tidur!!!’

Ksatria memandang wajah Cari di permukaan air yang menggenang di batas ruang. Wajahnya tenggelam dalam ruang Ksatria, sementara tubuhnya masih berada di alam sadar. Ksatria memegang wajah Cari dengan lembut dan ragu, haruskan ia tarik perlahan wajah ini?

Mengemban dendam terhadap tidur, Cari jatuh terlelap. Cari yakin ia menggenggam senapan. Ia, atau tidur yang akan mati. Cari mendapati dirinya duduk di atas kasur putih. Ia kenal kasur ini. Kenal namun lupa; paham, namun tak bisa jadi kata! Dengan gugup ia sematkan telunjuknya pada pelana. Ia akan menembak apa saja. Langit, tembok, apapun! Namun yang muncul adalah wanita itu lagi, ia terbaring lemah, dadanya hancur, terkoyak. Cari kembali melihat daging dan urat leher, mungkin juga detak jantung. Mata wanita itu nanar melihat Cari, jemarinya berusaha meraih dengan sayang. “Ibu, sudahlah, Ibu,” ucap Cari berlinang. ‘Tidur, aku lelah. Kau perangkap gila. Kau ingin membawaku ke masa ini lagi, dan lagi.’  Ia arahkan senapan itu pada kepalanya sendiri. “Ah, Cari, aku tidak seperti itu!” rintihku, walau ku tahu Cari tak dapat mendengarku. 

Aku iba padanya, namun tak bisa berbuat apa-apa. Cari mengira aku penjagal yang keji, walau sebenarnya ia dihabisi semestanya sendiri…

19 Agustus 2013

Jumat, 05 Juli 2013

translation of LAPANGAN PARKIR SIANG ITU



A Parking Lot in the Afternoon
KEISHA AOZORA

“Check, check,” someone grabbed the microphone, “Get closer, make the rows tighter.”
It has been a very grey day, as if the clouds are going to drop at this large parking lot. A place with no trees that usually burns your skin, it chills today. If you inhale, the air will run to your lungs and rob a pocket of honey from there. A big stage stands strong, and the host looks masculine and graceful. A tall body with beautiful hollows that tempts us to lean our heads inside.

I walked closer to the stage, with a hundred of another heads, but their footsteps is almost noiseless. I could only hear my shoes stepping on the ground, and my breathing sounded so clear like an old music box inside my throat. My feet were wet by sweat. Every breathe I exhale felt  like pushing all my insides down to my toes.

“We are here today, my brothers, for our faith.” The ice-cold of a knive touched my hand. The speaker spoke for the air around the microphone that got sucked up by the host. This heavy breathing had never been heard before, on the phone, some times ago.
“Hello, am I speaking with Alexa?”
“Yes?”
 “Are you joined in the triple double you dot togetherwego dot net?”
“Yes, I’m in your mailing list.”
“Our event will take place in two weeks. There is no pressure, you can come or not. We’re here for you.”

I stared at the charming host and listened to the sound of heavy breathing around the microphone. This person looked like a hero near end time. A staple rope tied up tight on the stage ceiling, hanging still unblown by the wind. “We’re here not because we are weak, we are not losers!” A loud raspy voice hit the mic. I saw blood was dripping time to time, by my side. Looked like this anonymous had attacked the appetizer.
Me, my self… I was just holding this piece of a big garden scissor that was broken in two. I made it sharper this morning. My mom liked to garden alone, dressing up the bushes, cutting the wild branches, until one day I found her head hanged up on the mahogany tree. Not far from her body, I found this scissor. It was already broken in two, like my parents. Two knives that tied to one, is a scissor. Each of us here in the parking lot was a knife, that already wet with dog’s blood before the prayer sung [1] and this strong person on the stage was a round screw that tied a hundred of knives to hurt the dusk, for its orange to look braver.
“But we’re here ‘cause we know, that no value we could respect anymore. Love and inner piece is a great lie.”
“Oh mother of fuck!” someone behind my row shouted in shock. I looked back to witness a man down on the ground, his body was convulsing with foam out from his mouth. His face turned green and all the nerves showing up to the surface of his skin, slowly but sure. Since the leave of my mother, I had not felt anything. There was no hate, anger, or anything. Every feeling was perfectly buried down with her body.  This present moment was the first time I felt my heartbeat so lively… as if my eyes were going to roll out of their lids.

“Alexa, didn’t you hear your aunt? She asked you what do you want to be when you grow up,” my Mom looked at me like a gardener that puts so much hope in the flowers. My hands was holding on to her skirt, a behavior considered as misbehave for her. She said it shows to people that I am a chickenshit. Only a baby can grab her mom like that.
“I want to be Dad…”
Mom looked at me so angrily and her friend giggled, “Alexa, you’re a girl.. maybe you mean you want to be a mother?” I shook my head, slowly but continuous, “My mom loves my dad so much, she looks most beautiful when she’s in his arms, I want to be Dad!” A fast and painful slap landed on my cheek. Mom was angry, and she is always angry – to me, and always love – my Dad. I want to be Dad! I want to be a fugitive, I want to be the one whom the pregnant woman always seek, banging her hands on our gate. I want to do anything Dad did so I could be the one my Mom loves. 

The host’s hands hung on to the head hole of the staple rope, already standing on a tall speaker, and dropped the microphone. “Let’s end this nightmare now!” The voice was loud enough to break my chest, convulsing the mortar and aggregates in the asphalt. Canon of painful cries mounted up, stabbing this parking lot like meteor rain.  I could hear a sound of a knife cutting a throat again and again until the head almost fall. Bodies hit the ground but the cries sound still, blowing in the air like mantra. 

I strengthened my will, I woke up my heart that had been long dead, for today. See you, mother! The knive torn my intestines. I faintly stared to the host and that person said, with a voice that shakes, “I…I changed my mind…”

June 25, 2013 [03 AM]
Translated on July 6, 2013 [1 AM]


[1] In Islam, before we slay animal’s head for food, we pray out loud.

Rabu, 03 Juli 2013

sebuah igauan:

SEPASANG MATA JALANG
oleh: Keisha Aozora


Di café ini aku duduk, dengan kopi yang lebih gelap dari malam. Pukul enam pagi, aku pengunjung pertama. Kusuap pelayan dengan lembaran-lembaran rupiah, agar mengizinkanku masuk dan membiarkan aku meneguk penawar ini: kopi.  Badanku lemas sekali, rasanya aku hendak terjatuh di depan pintu café. Melirik ranselku yang hampir muntah dan tas kain berisi beberapa kanvas dan kuas, pelayan itu memicingkan telunjuknya ke arah hotel. Entah hotel, entah trotoar di depan hotel itu. Namun dengan uang suap aku bisa masuk. Pun setelah aku duduk di sofa café, gantungan pintu bertuliskan “SELAMAT DATANG” masih belum dibalik. Jam enam pagi. Terlalu pagi untuk mengetuk pintu rumah seorang tabib, terlalu pagi untuk menelepon siapapun, terlalu pagi untuk berbicara pada diri sendiri, sekalipun. Aku tak pernah melakukannya. Aku tahu, setiap orang pasti pernah berdialog dengan diri dalam pikirannya, namun aku, aku selalu memotong dialog itu secepat goresan kuas saat kau yakin dengan bisikan darahmu. Aku tidak pernah berpikir. Semua warna yang kugoreskan adalah semacam keputusan yang dibisikkan dari urat leher, dari batang lengan, dari darah.

Aku punya studio kecil-kecilan jauh dari café ini. Rumah terbengkalai yang kemudian kuhidupkan dengan kegiatan melukisku. Aku ini, kurasa, ahli dalam menghidupkan sesuatu yang mati. Kuhidupkan mesin penyimpan uang di kasir café ini saat masih seharusnya mati, aku melukis senyum pada wajah pelayan ngantuk yang menerima lembaran uang suap, kubuat tubuh kurus perempuan itu jadi hangat. Tidak dengan selimut, tapi dengan darahku. Kurasa darahku ini, dengan berbagai keputusan warna dan cara menggores kanvas, bisa mentransfer apapun, bahkan pada tubuh seorang penari.  

Udara dingin saat itu. Aku menghadiri pameran tunggal seorang kawan yang terpesona dengan mistifikasi kabut, maka ia memutuskan untuk mencari galeri di daerah pegunungan untuk pamerannya. Gadis itu menari di genangan air. Air yang bagiku sedingin es batu, malam itu. Kulitnya putih, dengan urat nadi hijau kebiruan, mungkin karena menahan tajamnya dingin. Namun matanya, aku terperangkap dengan tatapannya yang stagnan, tajam, seolah tak terpengaruh dengan gigitan air es dan udara malam di pegunungan.  Tatapan mata yang lebih jalang dari kejora itulah… pelabuhanku.

Ia tak pernah berbicara dengan asap berhembus dari mulutnya. Ia tak pernah terburu-buru dalam meneguk kopinya. Ia memberi waktu pada segala kenikmatan. Si jalang yang dingin. Ia tak pernah berkomentar tentang kegugupanku. Berada di dekatnya, aku tampak seperti orang gagap dan gugup. Aku menghisap rokok dan menghembuskannya dengan cepat, menyesap kopi yang masih mengepul asap dan membakar lidahku, bahkan mungkin nafasku pun terlalu cepat.

Pukul sembilan pagi. Rasa kantukku buyar dengan berita pembunuhan misterius yang kejam. Bagaimana mungkin tubuh korban utuh dan tidak terluka, namun kedua bola matanya lepas dari kepala si jasad tak berdaya itu. Sampai berhari-hari kemudian, tak ada berita tentang siapa pencongkel bola mata yang biadab itu. Biadab!

Sudah dua hari aku tidak tidur. Di samping jendela kamar hotel aku berhadapan dengan segelas kopi dan rokok. Aku mengecap busa dan rasa susu yang sangat halus di ujung lidahku. Busa cappucino itu bertuliskan “LIFE IS SHORT ENJOY YOUR COFFEE”. Cairan coklat berbuih menyapu permukaan meja. Akhiri saja hidupmu, barista. Hidup tidak bisa dinikmati dengan kopi coklat susu berbuih-buih ini. Aku duduk bengong, setelah mendorong cangkir itu hingga tumpah kopinya. Bibirku berbingkai busa dengan asap rokok yang bergerombol, melayang…mencemooh seluruh kedirianku. Pecundang yang lari dari segala – yang telah ia hidupkan kembali.

“Kau harus minum kopi hitam, sekali-kali,” Ia memegang cangkir kopinya, berdiri menghadapku.

“Kenapa?” tanyaku, dengan hembusan nafas yang terlalu cepat. Segera kualihkan tatapanku dari sepasang mata itu. Kuterjang visual genangan hitam pekat di dalam cangkir di tangannya.

“Pahitnya sejenak menghentikan detak jantungmu.”

Suara sirine ambulans bersahutan dengan sirine mobil polisi. Aku melongok ke luar jendela. Dari atas kusaksikan orang bergerombol di luar. Biadab! Pencongkel bola mata terus beraksi, kali ini korbannya seseorang yang berada di hotel ini. Entah tamu, atau pegawai hotel. Tiba-tiba aku merasa diikuti, didekati. Lokasi mutilasi terus mendekati tempat di mana aku berada. Kunyalakan TV. Sebuah adegan sinetron langsung dipotong dengan Buletin Siang. Setelah tiga kasus pencongkelan mata dengan satu korban yang bertahan hidup, warga dan keluarga korban mulai mendesak dan mendemo polisi karena belum juga menciduk pelaku. Terdengar ketukan dari balik pintu kamarku. Aku tersentak, lompat dari sofa, terjatuh. Kepalaku pening. Aku mengemasi barang-barangku.

“Katakan sesuatu, kau…jalang!” suaraku yang gemetar terdengar lebih tegas, berharap dapat menembus kabut menuju sepasang mata jalang.

“Aku kira kita ini sepasang… tapi ternyata bukan hanya di sini kau jadi binal!”

Baru malam itu, kurasakan hatiku. Mungkin, ternyata aku punya sesuatu di dalam dadaku ini, selain darah yang membisikkan warna. Sungguh kurasa dadaku hancur berkeping-keping. Kulihat lukisan tubuhnya telanjang di sebuah galeri.

Aku tidak tahu banyak tentang dia. Tatapan dinginnya seperti pelabuhan, dari situlah pinisi tak lulus uji berlayar. Aku dan dia. Jika kutanya tentang asal-usulnya, dia bilang dia itu penari, bukan pencerita. Dan aku pelukis, ia cukup menyaksikan segala kedirianku pada kanvas, sisanya pada setiap hari yang bergulir di studio, pada setiap ia menggerakkan tubuhnya. Di mataku, ia jadi lebih gelap dari malam, lebih luas dari ruang. Ketika suatu malam ia berani menginterupsi lukisanku dengan menari menutupi kanvas, merusak komposisi warna yang masih basah dan mengoyak tekstur cat, aku yakin dialah kekasih, belahan jiwa yang selalu kuanggap omong kosong. Kutatap dalam-dalam sepasang mata itu, tatapannya yang dingin, jalang, dan mencekam. Setelah kulihat tubuh jalangnya di kanvas pelukis lain, mungkin ia tak pernah bercerita tentang sejarahnya karena ia adalah pelacur yang naik pangkat jadi penari di kemudian hari. Brengsek!

Pagi yang cerah dan sempurna. Kuucapkan selamat tinggal. Kuantar ia sampai daun pintu tak bergagang. 
“Kurasa kita nggak usah bertemu lagi. Aku harap kamu mengerti.”

Aku terus berjalan. Teriknya matahari hanya membakar mataku, namun seluruh badanku berkeringat dingin, gemetar. Koran pagi mengabarkan, menurut pengakuan salah satu korban, si pembunuh adalah lekukan garis dengan goresan warna-warna cat minyak. Namun korban itu sudah dimutasi ke Rumah Sakit Jiwa, dan…pengakuan itu tidak dimuat di media lain.

“Aku nggak ngerti dengan orang yang nggak menghabiskan kopinya… suatu saat kopi itu akan menghabisi nyawanya. Aku yakin.”

“Sayang, obsesimu pada kopi hitam mungkin sudah melebihi batas…”

“Batas? Itu hanya milik jasad.. jiwa tak berbatas…”

Aku jatuh lemas di hadapan lukisanku yang belum selesai, di dinding studio. Tubuhku tremor. Dengan tanganku yang tak terkendali aku berusaha meraih kuas dan cat. Minggu lalu aku memproyeksikan momen terakhir saat kuantar ia menuju keenyahan dari hidupku. Namun aku tak bisa melupakan sepasang mata itu. Tatapan dinginnya yang jadi sayu, genangan di kelopak matanya – mungkin hanya darahku yang bisa melukiskan luapan itu. Hanya tinggal sepasang mata dan lukisan dinding ini selesai. Namun pada goresan pertama, serangan hebat dari dalam dadaku sendiri mengantarkanku pada kopi hitam di café dekat hotel, pukul enam pagi.
Rempoa, 4 Juli 2013. [04:15]

Selasa, 25 Juni 2013

sebuah cerita panjang:

Hujan Turun Juga
oleh: Keisha Aozora


Beginilah bagaimana semua itu dimulai, Delta tak bisa tidur, sudah empat hari. Benar-benar tidak terlelap. Mungkin ia berbaring dan matanya terpejam, namun ia terjaga. Tak ada musik yang berhasil menghantarnya pada -- bahkan genangan terdangkal dalam tidur. Cukup sudah empat hari ia mendengar decitan tikus yang berusaha keras memasuki apartemennya, decitan tikus sebelum akhirnya terlindas ban mobil, dan terkadang, jika beruntung, bisa mendengar langkah sandal ber-hak tinggi penghuni seberang. Hari ke lima itu, fajar merayap perlahan di balik jendela kamar Delta, dan ia masih memejamkan mata pura-pura tidur. Lalu ia sadar ia hanya berpura-pura pada dirinya sendiri. Tak ada satu orang pun untuk dikelabui; bahkan tidak hewan peliharaan. Delta pun bangun, mematikan pendingin ruangannya, membuka jendela dan duduk di bingkainya, menikmati pagi yang masih terlalu dini. Ia menyalakan sebatang rokok, dan melihat tujuh lembar kertas yang tersusun rapi di atas mejanya. Delta selalu ingin menulis sebuah novel. Sudah dua tahun dan hanya tujuh lembar kertas itu yang ia hasilkan. Ia juga tidak benar-benar tahu apa yang mau ia tuangkan pada novel itu. Ia hanya terinspirasi perkataan beberapa orang tiga tahun lalu tentang mimpi-mimpinya. Mereka mengatakan itu pertanda ajal sudah dekat, tertulis di kitab suci. Delta hanya mengangkat bahu dan tak ambil pusing.

“Kelihatannya kitab sucimu itu tahu semua yang akan terjadi, ya”, ucap Delta seperti mencibir, tiga tahun lalu.
“Kitab suciku? Jadi sekarang kamu punya kitab suci yang lain, Ta?”
“Hm. Enggak. Oke, kitab suci kita.”
“Lagipula, kitab suci itu firman Tuhan. Tentu saja Dia tahu semua yang akan terjadi. Ah, please, masa sih mimpimu seperti itu seminggu ini?”, seorang teman itu tampak khawatir.
Delta mengangguk, “Itu masuk kategori mimpi indah, Nan. Yang bikin menarik adalah mimpi yang sama setiap malam. Itu saja. Nggak ada hal buruk.”
Nan, teman kuliah Delta yang baru dikenalnya enam bulan lalu itu, makin tampak khawatir. “Ya, tertulis juga di kitab suci, mereka akan terpesona dengan tanda yang Kami tunjukkan dan tak sadar akan hal buruk yang akan menimpanya.” Nan terdengar agak terbata-bata, “Maaf, Delta. Bukan aku menakut-nakutimu, ta – tapi, sebagai penganut aku harus mewartakan ini. Ini perintah agama kita, sampaikanlah walau hanya satu ayat!”
“Santai aja, Nan”, jawab Delta nyengir, dan bersiap bangkit dari duduknya.
“Ta, kalau kamu cari aku, kamu tahu, aku selalu berada di sana”, ucap Nan menunjuk sebuah bangunan peribadatan di dekat kampus. Delta tersenyum dan bangkit, berjalan pergi. “Aku harap kamu sering mampir, Ta!”, teriak Nan dari jauh. Delta menyalakan rokok dan ditengah hisapannya ia berbisik pelan, “freak.”

‘Apa yang dia tahu tentang kematian?’ gumam Delta, ‘Tanpa mimpi apapun tiba-tiba aku sangat dekat dengan maut dan tanpa ancang-ancang apapun ia tampak jauh lagi dariku’.
Delta memeluk kedua lututnya dan menidurkan kepalanya di atas kedua lutut itu. Ia menguap, dan memperhatikan kamarnya. Tidak kekurangan apapun. Bagi wanita lajang yang belum menikah, apartmentnya cukup mewah. Delta lalu takjub sendiri bagaimana ia mendapatkan semua ini. Setelah bengong beberapa saat, barulah ia ingat ayah ibunya yang tak pernah lagi ia temui. Ia juga tidak pernah memperhatikan ATMnya yang terus terisi, saat ia bekerja atau hanya berkuliah. Ia menopang dagunya, tertegun bahwa tak ada jejak ibu bapaknya sama sekali di kamar itu, di flatnya itu. Tidak ada foto mereka. Dan semua barang hingga hiasan terkecil yang ada di flat itu semua pilihan Delta. Ya, ibunya tidak suka melihat Delta tinggal di kos-kosan jelek dan berbagi kamar mandi dengan penghuni lain yang tak sedikit jumlahnya. Maka flat itu adalah hadiah ulang tahun ke-19, dan mimpi-mimpi buruk dimulai di kamar ini.


Mentari merayap naik membangunkan warga kota, kecuali Delta, yang belum semenitpun tertidur. Pagi itu, ya, hari itu, mentari merangkak dengan kehangatan yang bertambah sedikit demi sedikit. Namun, kamar Delta tetap dingin dan langit kelabu. Delta berjalan keluar kamar menuju ruang tengah.

Seorang gadis kecil duduk di sofa di depan sebuah cermin hias. Ia mengenakan seragam putih-merah dan rambutnya dikepang dua dan berkaus kaki. Pembantu rumah tangga yang sudah tua tampak tergesa membawakan sepatu nona kecil itu dengan jalan membungkuk. Mata nona kecil yang masih bening telaga menatap bayangnya sendiri di cermin hias. Pada suatu hari dalam hidup nona kecil itu, pertanyaan yang menakutinya, yang ia simpan dalam-dalam, tak berani ia keluarkan, bahkan untuk keluar di otaknya saja – dengan bunyi “pop!” seperti di film kartun – tak ia izinkan, akhirnya menonjok sudut kepalanya, tanpa bunyi “pop!”
‘Apakah hidupku ini akan begini terus? Apakah hidup ini hanya begini saja? Bangun jam enam, mandi lalu sarapan, berangkat ke sekolah, pulang, makan siang, mengerjakan pe-er, main dengan toys-set, mandi sore, les matematika, makan malam, lalu tidur? Akankah aku tetap memakai seragam ini seumur hidupku dalam setiap hari kecuali hari minggu, Mas Budi yang gila akan tetap gila dan anak-anak kampung akan mengganggunya terus menerus, Mbok Ris akan tetap membungkuk membawakan sepatuku setiap hari kecuali hari minggu, dan boneka yang nggak pernah kumainkan akan terus bertambah setiap bulan?’ Delta menutup mata, ‘Lihat, aku sangat hafal setiap detil jalan menuju sekolah. Gerak-gerik pak satpam dan apa saja yang kulihat dalam perjalanan menuju kelasku, dan kelas tahun-tahun lalu. Aku hafal. Apakah tidak akan ada jalan lain menuju sekolah dan tak ada suasana lain di lapangan upacara? Aku tahu anak-anak yang mengangkat dagunya saat perayaan hari nasional dimana kita memakai kostum selain seragam sekolah, hari itu Ibu akan lelah menarik stagen di pinggangku dan aku akan kesakitan. Ibu akan marah jika aku bilang sakit, dan setelah selesai ia akan memanggilku “cantik” seharian’. “Non, bangun! Ayo cepat berangkat, nanti Ibu marah lho!”, Mbok Ris mengguncang paha Delta pelan. Delta membuka mata dan terkejut. Terkejut bahwa akhirnya pertanyaan sialan itu keluar juga, muncrat ke kepalanya! Pula, tak ada bunyi “pop!” seperti yang diharapkannya.

Delta membuka laci dapur yang penuh makanan ringan dan minuman instan. Ia membuat kopi dan mengambil sebungkus cracker, lalu menaruhnya di meja makan. Ia membuka jendela lebar-lebar. Ia berdiri di sana sejenak, untuk merasakan hangat mentari. Hanya sejenak saja, ia sudah berjalan malas ke meja makan. Karena mentari ternyata tidak hangat dan tak bisa membuat langit tampak biru sedikit!
Badannya terasa letih dan matanya agak berat. Delta mencoba tertidur di meja makan. Gagal. Ia tidak tertidur semenitpun, dan tidak tercengang. Sudah lima hari begini. Badan lelah dan mata berat hanyalah efek tidak tidur, bukan berarti pertanda ia akan tertidur. Dering telepon genggamnya berbunyi, pertanda satu pesan masuk. Tawaran rutin antar-jemput -- dari penggemar yang gigih berjuang, hingga penggemar yang putus asa dan memutuskan untuk percaya bahwa Delta lesbian; makan siang dengan teman-teman, semua – akan berjalan seperti biasa, tidak mendapat dan tidak kehilangan apapun. Maka kalimat “Esok adalah hari yang baru” perlu dipertanyakan, apakah memang ada hal yang benar-benar baru selain titik baru dalam periodik waktu.

Gadis kecil berambut kepang dua itu duduk sendirian di salah satu dari bangku-bangku mini di pinggir lapangan upacara sebuah sekolah dasar – saat jam istirahat pertama; dimana mentari masih belum mendidih dan belaian angin digemari para siswi untuk memamerkan rambut indah mereka. Di hadapannya, adalah lapangan dimana teman-temannya sedang bermain, lalu sebuah masjid mewah yang menjulang atapnya. Atap masjid itu berderak pelan, sangat pelan hampir tidak terdengar; lalu kemudian teman-temannya sudah terkapar bersimbah darah seperti nyamuk-nyamuk mati di tembok. “Delta, awas!” Buk! Kepala Delta terkena lemparan bola. Delta jatuh dengan mata terpejam. Terdengar suara panik anak-anak kecil; disusul gumaman tuduh-menuduh antar siswa lelaki, lalu banyak topang menopang betis, pinggang, dan punggungnya – gadis berkepang dua melayang. Ia bisa mendengar jelas tiap kata dari komat-kamit kawan-kawan dan gurunya; gadis kecil itu hanya menutup mata dan mereka-reka apakah begini rasanya berhenti secara tiba-tiba dan digotong orang-orang diiringi komat-kamit. ‘Apa yang akan terjadi selanjutnya? Jika masih teringat semua akan kucatat dan kubagikan pada yang sekarat di rumah sakit’, pikirnya. Ternyata tidak terjadi apa-apa. Namun gadis itu menikmatinya; rasanya seperti… sekali dalam hidupnya ia merasa begitu tak terlibat, begitu tak wajib bertanggung jawab. Beberapa menit kemudian ia membuka mata dan seorang anak lelaki meminta maaf padanya. Kembali Delta harus mengatakan “Iya”, “Nggak pa-pa”, kembali harus berbahasa.

Delta si gadis berkepang dua duduk di atas ranjang UKS Sekolah Dasar, namun ruangan itu sepi, dan di luar tak ada suara sama sekali. Ia duduk merapatkan kedua kakinya ke dada, dan termangu di situ menikmati sunyi. Lama-lama ia mulai heran kenapa tidak ada orang, kenapa dia di tempat ini, dan mengapa dia berkepang dua saat seingatnya rambutnya sudah tidak lagi cukup panjang untuk dikepang dua. Dia pun mulai gelisah dan kedinginan tanpa sebab. Ia memutuskan turun ranjang dan mencari jalan keluar. Ya, ya, dia harus keluar. ‘Keluar, dan semuanya akan baik-baik saja’. Maka Delta keluar ruangan UKS dan menyusuri koridor sekolah. Ia menggigil; ia tak yakin apa yang akan terjadi di depan dan merasa ada yang mengikuti di belakang. Koridor itu panjang dan di atapnya menempel lampu setiap beberapa langkah kaki. Namun malam itu, hanya dua-tiga lampu yang menyala sepanjang koridor. Delta berjalan sambil meraba-raba dinding. Walau minim cahaya tapi hampir segala hal yang biasa seperti belokan, tekstur lantai, jendela, semua masih terlihat jelas. Delta berjalan terus, perlahan. Sebenarnya ia ingin berlari. Tapi menurut pengalamannya, setiap ia berlari, perasaan dikejar akan makin menjadi. Perasaan diikuti. Blap! Gelap. Semua lampu mati. Delta dapat merasakan detak jantungnya seperti hendak merobek kulit dada karena kuatnya. Seekor kupu-kupu terbalik terbang di depan. Dia ungu menyala. Tak ada cahaya selain dia; maka Delta terpaksa mengikutinya tanpa tahu akan dibawa kemana. Terlalu gelap dan Delta mendadak tidak hafal belok-belokan sekolahnya. Maka ia berjalan cepat terkadang berlari mengejar si kupu ungu. Hingga akhirnya kupu itu terbang di tempat sebelum akhirnya blap! Hilang. Kedua kaki Delta pun memaku. Di hadapannya berdiri seorang gadis kecil membelakanginya. Di depan anak itu ada sebuah cermin; dan gadis kecil itu sedang melepas jalinan rambut kepangnya perlahan-lahan, menyusuri setiap kelokannya. Di cermin itu Delta melihat wajahnya – yang pucat, kering, dengan mata membelalak seolah urat-urat matanya begitu kekeringan untuk mata itu berkedip. Gadis kecil dalam cermin itu tampak berhenti memainkan rambutnya dan ia menoleh perlahan. Delta berharap hal itu tidak terjadi; ‘Jangan, jangan menoleh padaku dengan wajah burukmu yang menyeramkan itu. Aku tidak akan tahan. Jangan!’

“Ya kan, Ta? Si Nan itu kan pernah nembak Mita pake puisi bahasa Arab! Hahahaha… doi ngga tau tampang arab begini si Mita kan cina!” Delta diam. Jantungnya berdegup kencang. Delta menarik nafas dalam berusaha menenangkan degup jantungnya. Ia berada di jok belakang mobil yang sedang melaju, dari night club menuju sebuah panggung teater terbuka; karena stok minuman mereka masih satu setengah botol dan sedang tidak ada yang bersedia menjadi tuan rumah untuk para pemabuk yang pasti meninggalkan rumah itu keesokan hari tanpa bertanggung jawab membersihkan tumpahan atau meletakkan kembali sebuah barang di tempatnya. Mereka sampai. Mobil diparkir sekenanya. Mereka berjalan ke arah bangku penonton yang terbuat dari kayu; yang membentuk lintasan-lintasan setengah lingkar bertingkat, beratap langit malam. “Woi Ta!” Dennis melempar sebotol Absolute Vodka yang ditangkap dengan baik oleh Delta. “Gile lo Den, itu bukan botol plastik kale!”, ujar teman yang lain. Dan Delta sejujurnya gentar juga tadi, saat menangkap botol itu. Ia tak yakin bisa menangkap botol itu, walau akhirnya berhasil. Ia juga tak yakin jika botol itu meleset dari tangannya, apakah hanya akan jatuh pecah di tanah, atau pecah di kepalanya yang sudah pening. Dan ia benci lemparan. Delta duduk menghadap panggung yang kosong. ‘Apakah Zeus dan saudara-saudarinya suka minum anggur di langit, sambil menikmati sandiwara manusia?’ Delta butuh tidur, setidaknya, ia ingin memberi tahu temannya bahwa ia belum tidur cukup lima hari. Tapi Delta tidak terbiasa mengeluh. Seperti Tuhan, ia terbiasa mendengar keluh kesah dan sumpah serapah kawan-kawannya. Delta tersenyum sekilas menertawakan pemikirannya yang ngelantur kemana-mana. Jujur saja, Delta bukan Tuhan, ia hanya tidak yakin kawan-kawannya itu peduli pada penderitaannya. Jadi daripada nanti sakit hati, diam jadi solusi.

“Datang pada Tuhan, Ta, hatimu akan tenang. Itu janjiNya! Ingatlah Aku maka tenang jiwamu,” kata Nan beberapa waktu lalu, saat Delta iseng duduk-duduk di teras tempat peribadatan Nan; dan Nan yang tadinya berseri-seri kecewa ketika mengetahui ternyata Delta tidak habis sembahyang, tapi hanya duduk-duduk santai menikmati sore.
“Aku sedang menikmati sore, Nan,” jawab Delta santai.
“Apa yang kau nikmati? Keindahan? Semua keindahan di dunia ini fana, Ta, fana. Coba kau cari di kamus perpustakaan fakultas kita yang lengkap itu, apa arti fana.”
Delta tertawa kecil. Nan. Nan memang kadang menyebalkan, tapi ia selalu membuat Delta tertawa walau tak pernah berniat melucu.
Dan Nan terus nyerocos, “Jangan terlena, Ta, kita di sini cuma singgah..”
“O ya? Oo.. Singgah dalam keterlupaan ya, Nan?”
“Itu karna kau sudah terlena dan jadi sangat duniawi, Ta, jadi kau lupa rumahmu, rumah kita.”
Delta mengernyitkan keningnya pada Nan sambil mengangguk-angguk. Seusai percakapan singkat itu Delta menulis di kamarnya:
Hai kertas, kau masih ingat dengan kawan baikku si Nan itu kan?
Sore ini aku berkesempatan secara tak terduga lagi – berbincang dengannya.
Kau tahu apa yang kusukai darinya? Tatapannya lurus, tajam, dan yakin, Tas,
tak seperti pandanganku yang limbung. Aku penuh tanya dan dia penuh jawaban,
walau tak pernah kuiyakan jawabannya.
Sore ini, dia bilang aku sudah sangat duniawi. Kalau benar kalimatnya, maka
Aku pernah tidak duniawi. Kapan itu, aku tak tahu. Kebalikan dari duniawi yang Nan
maksud pun aku tak tahu apa itu.
Sejak aku lahir di dunia ini, maka aku duniawi bukan?
Misalnya, kau, Kertas, kau tak pernah makan daging, minum alkohol, tak pernah
shopping,tetap saja kau itu duniawi.
Bagaimana pendapatmu, Tas? Apa kau bisa berpendapat?
Kalau kamu punya mulut, seperti kucing, anjing, dan aku, apakah kau akan berbahasa?

Delta bersama dua kawan lelaki dan tiga perempuan. Andre, salah seorang dari mereka, berjalan limbung menuruni tangga dan lalu berdiri di panggung. Delta menenggak botol dalam genggamannya. Andre membungkuk memberi hormat. Kawan-kawan yang lain tertawa. Tak jauh di luar area panggung, masih menyala sebuah lampu tinggi yang besar. Andre menari-nari di bawah sinaran cahaya sehingga bayangan tubuhnya seperti bermain di dinding. Dari ajojing disko hingga gerakan menyerupai wu shu. Gelak tawa merebak lagi.
“Aaaah…cauuur!”, teriak Eva.
“Hei kalian!”, teriak Andre kemudian, berusaha berdiri tegak, “Siapa di antara kalian yang tidak menikmati permainan bayangan? Hmm? Bayangan tarianku yang indah tadi!” Gelak tawa meredup, tergantikan oleh senyum yang bertahan di wajah mereka.
“Tentu kalian suka bayang-bayang. Wayang main bayang, UKM Teater gue juga hobinya bebayang boy, pas adegan mesum”
“Betuuul!”, teriak Silvia yang juga aktif di UKM Teater.
“Nah, bayang-bayang itu, kawan,” lanjut Andre, lalu ia mengeluarkan lipatan kertas dari dalam saku celananya, “Anjing, contekan ujian tadi siang..kikikik…”, bisik Dennis.
“Bayang-bayang adalah sebuah antara. Ia sebenarnya kehadiran yang bukan kehadiran…1”
Delta menunduk, mencoba mencari bayangannya yang tentu tak akan tampak karena ia duduk jauh dari sinar lampu. Dan ia tahu ia tak akan menemukan antara itu. Delta menyipitkan matanya, tak percaya akan apa yang dilihatnya. Bayangan tubuhnya yang duduk begitu jelas seperti di bawah sinaran sepia lampu jalan. Bayangan itu panjang sampai menyentuh ujung panggung. Lalu di ujung panggung itu, ia melihat dirinya duduk mengenakan pakaian yang sama, di tempat duduk yang sama, seperti hasil proyeksi saja. Delta merasa tubuhnya mulai gemetar. Yang membedakan dirinya dengan yang ia lihat adalah kembarannya itu tampak agak kemerahan: seluruh badan dan kedua matanya. Mungkin lebih baik ia melihat kuntilanak, pocong, tuyul, daripada dirinya sendiri! Ia menatap si proyeksi dan si proyeksi – yang Delta yakini punya nama yang sama dengan namanya – menatapnya balik. Delta merapatkan bibir dan menajamkan pandangannya lagi. Si Delta di ujung panggung itu nyungging tawa kecil. Delta tercekat, ia merasa ada yang menariknya kuat-kuat ke bawah. Ia tercebur ke dalam laut dalam dan tiba-tiba ia sudah berada dalam lemari kaca penuh air laut. Pintu lemari itu terikat lilitan rantai berat dari luar. Delta tidak bisa nafas. Ia menggedor-gedor dari dalam. Ia bisa merasakan lemari itu semakin jatuh tenggelam, perlahan. Lalu ia lihat si Delta yang kemerahan itu menyelam dan membuka pintu lemari – dengan cepat. Delta bisa bernafas normal lagi. Kini ia duduk di balik punggung seseorang yang baru lagi – kembarannya lagi, tanpa warna kemerahan; hanya saja tatapannya selalu tajam seperti Nan. Delta mengoles kuas pada pallete cat yang sudah tersedia; dan meneruskan melukis sayap di punggung kembarannya itu. Kembarannya ini mengingatkannya pada seseorang, yaitu dirinya empat – lima tahun lalu, ya, empat – lima tahun lalu saat orang tuanya baru saja bercerai, ia sering memakai kaus hitam bergambar sayap itu, dan potongan rambutnya, ya, seperti gadis yang sedang ia hadapi ini. Apakah ia memang dirinya empat – lima tahun lalu? Apa yang ia lakukan di sini? Adonan cat habis, lukisan sayap di punggungnya belum selesai. Lalu ia berdiri di sebuah padang ilalang saat senja sedang merah-merahnya. Jauh, jauh di depannya ia kembali melihat pemandangan yang berkali-kali tampil di mimpinya: pohon besar yang indah sekali. Tinggi namun tak menjulang, kokoh namun tak berkuasa. Ketika angin berhembus, hanya satu atau dua daun saja yang gugur. Pula gugurnya daun itu tampak indah di lihat dari tempat di mana Delta berdiri.

Pukul tiga dini hari. Delta membuka kedua matanya perlahan, dan ia melihat atap kamarnya. Ia terbaring di atas ranjang dengan sepatu masih membungkus kakinya. Ia lalu duduk bersandar pada tembok yang dingin – dan ia kembali kedinginan. Alkohol sudah tak menyisakan hangatnya lagi, dan ia merasakan dingin yang menjalar dari punggung lalu berusaha menguasai relung-relung dadanya, berusaha menjangkau pelosok-pelosok terdalam. Ia akrab dengan dingin ini. Oh, Ibu mana yang tak akan marah melihat anak gadisnya tidur di ranjang mengenakan sepatu boots?

Jauh dari kamar itu, seorang Nan menyelipkan nama Delta di sela lirih doa menghambanya. Lalu Delta kembali teringat kembarannya yang duduk di ujung panggung sandiwara itu. Mungkin ia akan membicarakannya dengan Nan. Bukan karena menurutnya Nan arif dan bijaksana, tapi tak ada yang menanggapi segala sesuatu dengan serius – yang bahkan bukan urusannya, selain Nan. Mungkin Nan itu lebih hangat dan penuh perhatian padanya daripada mereka yang memilikinya sebagai darah daging. Dari kecil Delta sering mimpi buruk, tak jarang ia bisa – dalam mimpinya – mengetahui bahwa itu mimpi. Butuh usaha keras untuk bangun. Ketika ia mengeluhkan hal ini pada ibunya, beliau hanya mengatakan, “Kau terlalu banyak nonton film horror” dan Delta pun tak pernah menanyakan hal itu lagi. Ia tidak pernah suka film horror – sejak balita ia merasa hidup ini horror. Telepon genggamnya berdering. Satu pesan masuk: TRANSFER BERHASIL – REK.00****** DELTARA FABIAN – Rp******* -UANG BULANAN

Setelah dihujani canda-ejek-dan tanya saat makan siang dengan teman-teman yang kemarin, sore itu Delta duduk-duduk santai sambil menghisap rokok di teras rumah ibadah. Tak lama kemudian Nan keluar dari dalam, dan ia seperti menarik nafas lalu menahannya saat melihat punggung Delta dan kepulan asap. “Delta!”, panggilnya dengan nada seolah Delta adalah anak hilang yang sudah lama dicarinya – domba yang tersesat. “Oh, hai Nan.” Nan berjalan ke arah Delta sambil tersenyum mengangguk-angguk, “Aku memang memanggilmu.” Delta hanya menaikkan alis tidak mengerti.
“Nan, kapan terakhir kali kita ngobrol?”
“Hampir sebulan lalu. Dan… kau masih dapat mimpi yang sama?”
“Ya. Kali ini ditambah sosok seperti kembaranku, dalam bermacam warna.”
Nan menggeleng-gelengkan kepala sambil menunduk.

Dari rumah ibadah itu Delta berjalan menuju parkiran mobil. Tiba-tiba ia mimisan. Delta diam di tempat dan menengadah sejenak kemudian berjalan lagi. Tapi ternyata mimisannya itu belum juga mau berhenti. Maka Delta duduk di salah satu bangku kayu yang masing-masing tidak seragam bentuknya. Bangku kayu itu dibuat oleh mereka yang hobi pahat-memahat, dan beberapa tergabung dalam UKM Pecinta Alam. Bangku-bangku itu mereka atur berserakan asimetris di bawah rimbun pepohonan kampus. Ia menyandarkan kepalanya menengadah. Cahaya matahari yang sudah kalem membuat kilau-kilauan di dedaunan.
“Ngapain di sini Ta? Aku kira kamu langsung pulang”, terdengar suara Nan.
“Menikmati sore.”
Nan tersenyum kecil. Lalu ia menaruh sesuatu di pangkuan Delta, “Hadiah kecil buatmu.” Nan kembali berjalan.

Delta telah berada di kamarnya. Ia duduk di meja belajar dan membuka sebuah kado kecil yang dibungkus dengan kertas putih – rapih. Sebuah kartu ucapan yang dibuat sendiri, juga dari kertas putih. Tertulis,

Agar hangat jiwamu

Teruntuk sahabatku: Deltara

Di bawah kartu itu adalah kitab suci. Delta tersenyum kecil. Ia terkesan pada usaha Nan untuk memperkenalkan Tuhannya. Mungkin Nan mengira Delta berbincang dengannya dan datang ke tempatnya karena merasa butuh bantuan, dan tahu Nan lah pertolongan yang tepat. Padahal tak mustahil Delta memilihnya hanya karena ia merasa dipedulikan. Bagaimanapun, Delta merasakan setitik kehangatan saat jemarinya meraba relief cetakan pada sampul kitab. Ini bukan hadiah yang sia-sia, karena Delta memang tak punya buku ini. Beberapa pria memberi kado buku yang sudah dimilikinya. Maka sering ia menghibahkan buku-buku kembaran itu pada salah seorang temannya, Joanna. Antologi puisi, kumpulan cerpen, novel-novel, catatan perjalanan wisata. Joan kini sudah menikah dan jarang bertemu atau sekedar ngobrol di telepon dengan Delta. Delta teringat suatu masa di mana Joan mengeluh ia tak lagi bisa merasakan kenikmatan makanan – bahkan yang selalu jadi favoritnya, bangun pagi tanpa harapan apapun untuk hari itu, dan sedih untuk setiap tarik-hembusan nafasnya tanpa sebab. Delta hanya mendengarnya tanpa banyak berkomentar, memegang tangan Joan atau meletakkan tangan di pundak Joan sebentar saja – karena Delta sadar tangannya dingin, tidak menghangatkan. Sementara kenyamanan identik dengan hangat: berendam air hangat, pelukan hangat, senyuman hangat. Delta membiarkan bahunya yang sempit basah oleh banjir air mata Joan, sekali lagi tanpa berkata-kata. Pada saat-saat seperti itu tanpa ia ketahui alasannya, ia merasa sebagai sesuatu yang penuh namun tak hendak tumpah. Ia malah merasa mendapat pemakluman. Lalu Joan mengatakan empat atau lima hari ke depan ia tak akan mengganggu Delta. Ia merasa butuh bepergian sendiri. Delta sangat setuju, dan kali itu menepuk pundak Joan. Hal itu jarang terjadi. Seminggu kemudian, Joan kembali menemui Delta. Wajahnya sudah tidak tampak kuyu dan nada bicaranya stabil. Mereka duduk di warung lesehan langsung di bawah langit sore menjelang petang. Delta tersenyum melihat Joan yang tampak sehat.
“Kau pergi ke salah satu tempat yang ada di buku itu?”, tanya Delta memulai pembicaraan.
Joan menggeleng, “Aku ikut retreat seminggu.”
“Ooh.. Gimana? Menyenangkan?”
“Ta,” Joan meletakkan telapaknya di atas punggung tangan Delta. Tangan Joan terasa hangat.
“Yang kemarin itu rupanya siksaan karena aku menjauh dari Tuhan. Aku hanya perlu datang padaNya, itu aja kok,Ta.”
Kepenuhan yang dirasakan Delta rontok seperti tembok semen yang gopal sedikit demi sedikit hingga bolong di sana-sini. Delta sadar Joan memakai kaus yang belum pernah Delta lihat sebelumnya. Kaus itu berbunyi demikian:

LIFE IS A MAYBE
DEATH IS FOR SURE
SIN IS THE CAUSE
GOD IS THE CURE

“Suara hati nggak cukup, Ta, kita butuh Tuhan”, ucap Joanna lagi. Maka jelaslah angin petang itu melubangi dinding semen yang lemah. Ia ingat sepulang dari warung lesehan itu Delta membeli pena baru yang masih hitam pekat tintanya, lalu menulis di kertas:

Betapa beruntungnya manusia setelah zaman pra-sejarah
yang sudah akrab dengan Tuhan.
Semua masalah dan hal-hal tentang dirinya berakar pada Tuhan,
dan semua jawaban datang dari Tuhan.
Tuhan pangkal-ujung.
Seperti aksioma, detik ditarik garis jadi abad,
dan kami semua hanyalah kepingan makhluk-makhluk sejarah
Kecil dan tak berarti, oh Tuhan yang abadi.

Darah menetes di atas kitab suci itu. Kali ini darah mimisan itu banyak keluar dan tidak kunjung berhenti. Delta merasa demam dan sakit kepala. Maka ia pun urung membaca kado dari Nan itu dan langsung naik ke tempat tidur.

Gadis belia berseragam putih-biru berjalan pulang. Saat itu jam sebelas pagi. Para murid dipulangkan lebih awal karena para guru akan melaksanakan rapat persiapan EBTANAS siswa-siswi kelas tiga SMP. Seperti biasa, Delta memilih berjalan kaki daripada naik angkutan umum. Matahari tidak terik, pohon pun tinggi-tinggi. Delta berjalan tanpa melamunkan apapun. Lalu ia mulai memperhatikan langkahnya: kanan-kiri-kanan-kiri. Ia melihat seragamnya yang masih rapih. Ia mendengar detak jantungnya yang setia memompa darah dan mengirimkan sinyal ke otaknya bahwa ia sebuah tubuh yang hidup. Delta mempercepat jalannya untuk mengubah ketukan musik monoton di dadanya.

Waktu berjalan seperti bekicot
Bekicot jalan seperti waktu
Di tanah kering pecah-pecah
Terpanggang mentari yang beku

Dari tanah rumput
Yang subur dengan parasit
Hingga sawah yang sedang panen
Di atas tanah gambut

Delta semakin mempercepat langkahnya, kemudian ia berlari. Setelah ini adalah jalan raya yang lebar. Sebaiknya memperlambat kecepatan dan akhirnya berhenti di ujung jalur aman ini untuk memperhatikan laju kendaraan di jalan raya. Ia berlari memasuki wilayah jalan raya sambil menutup mata. Sepeda motor melintas dan membelok dengan ekstrim menghindari Delta. “Orang gila!” teriak marah pengemudinya. Delta tidak berhenti berlari. Saat sebuah mobil lewat dengan kecepatan tinggi, ia berhenti tepat di tengah jalan, kembali memejamkan mata.

Kamar hotel yang dingin. Delta baru selesai mandi. Gadis kecil yang menggigil itu segera dibalut handuk oleh si pembantu rumah tangga yang ikut diajak minggat oleh Ibu. “Baju yang mana, Bu?” tanya Mirah. “Tuh, yang baru,” Ibu menunjuk kantung belanja yang tergeletak berserakan di atas ranjang. Mirah yang nggak ngerti Bahasa Inggris pun mengandalkan warna untuk mencari mana yang berisi baju baru Delta. Delta yang sudah menggigil kedinginan mengambilkan kantung plastik yang dimaksud Ibu untuk Mirah. Warna kantung itu biru tua dengan font formal berwarna putih. Ibu duduk di sofa dekat jendela sambil memindah-mindah channel TV. Akhirnya Ibu menghentikan kegiatan itu begitu layar TV menampilkan acara Tom&Jerry. Delta mengira Ibu sengaja memilih acara TV itu untuknya. Walau ia tidak jatuh hati dengan Tom&Jerry, ia pun duduk di atas ranjang, mengenakan pakaian yang cocok untuk jalan-jalan di Zhao Jia Bang Road di mana sebuah gedung teater tua berdiri diapit café-café modern. Sesekali ibu menghela tawa kecil saat adegan Tom dan Jerry saling menjahili satu sama lain. Tom mengejutkan Jerry secara ekstrim hingga Jerry terkena serangan jantung dan mati. Tom panik, namun terlambat, nyawa Jerry sudah melayang. Malam itu menjadi malam yang mencekam bagi kucing malang itu. Delta merasa iba pada Tom. Ia hanya bermaksud untuk bercanda seperti hari-hari lainnya. Malam itu Tom bermimpi ia masuk neraka. Tampak kobaran api dan penyiksaan-penyiksaan yang menyeramkan. Delta mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Film selesai. Ibu mematikan TV dan menelepon resepsionis hotel minta dipanggilkan taksi. Di dalam taksi Delta merasa sulit bernafas. Hidungnya sakit setiap kali ia menarik nafas, karena AC taksi terlalu dingin. Tapi ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan selain diam. Maka dalam kesakitan itu, takut-takut Delta mengatakan pada Ibunya,
“Bu, Delta takut masuk neraka…”
“Delta, It was just a movie,” Ibu menurunkan jendela dan menyalakan sebatang rokok. Akhirnya Delta bisa bernafas lebih lega, walau ia tidak pernah suka bau asap rokok Ibu.

Delta tidak bisa tidur. Mimisannya sudah berhenti, sakit kepalanya belum. Delta duduk menelungkup di atas ranjang. Ia menggigil. Dipeluknya erat-erat kedua kakinya. Delta mencari-cari bau asap rokok Ibu.

Delta sedang duduk di dalam ruang kelas membaca kitab suci pemberian Nan. Seorang dosen sedang menjelaskan struktur bahasa Saussure dan Levi-Strauss. Walau terlihat jauh, Delta dapat melihat seorang anggota UKM Pecinta Alam sedang membuat meja kayu, dan di kamar mandi wanita si Eva sedang membeli kokain, dan Nan sedang melipat sarung dan sajadah. Semua terlihat, karena tak ada tembok. Tak ada pilar, tiang listrik, pohon tinggi, tak ada. Ini adalah sebuah horizon telanjang. Lalu seorang pria datang. Ia menepuk pundak orang-orang, semuanya, hingga akhirnya sampai ke Delta. “Ayo bangun, ketemu Tuhan,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu Delta. “Bangun, bangun, ketemu Tuhan,” pria itu menepuk bahu Eva, Nan, dosennya, semua orang tanpa terkecuali. Dan mereka semua berdiri. Ada yang tampak mengerti ada yang bertanya-tanya. Delta merasakan desiran kuat yang menggores tajam di dadanya. Ia ketakutan, seperti akan digilas roda api, seperti Tom. Mereka semua berdiri dan meninggalkan barang apapun yang sedang dibawanya. Eva menjatuhkan kokain nya, Delta menaruh kitab sucinya terbuka begitu saja. Mereka semua lalu berkumpul di satu ruang lemari pakaian yang luas. Mereka harus memilih pakaian yang indah di dalam lemari itu, untuk bertemu Tuhan. Delta melihat kawan-kawan sekolah dasarnya, almarhum-almarhum saudara dan tetangganya, tapi tak ada yang saling menyapa. Semua sibuk memilih baju. Dan mereka semua tampak bergairah. Delta tidak. Delta memutuskan untuk mengenakan baju yang sedang dikenakannya saja, kaus hitam bertuliskan “live like there’s no hell”. Kemudian mereka semua membentuk barisan panjang di depan sebuah pintu. Delta mencari-cari ibunya, tapi tidak menemukannya. Di depan Delta adalah seorang wanita seumurannya yang tentu saja tak dikenalnya. Barisan terus berkurang. Delta semakin dekat dengan pintu. Keringat dingin membasahi tangan dan punggung Delta. Ia ingin pasrah tapi tak bisa. Akhirnya gadis di depan Delta adalah orang yang berdiri persis di muka pintu yang tertutup itu. Delta makin gelisah. Ia berharap padang pasir ini punya titik-titik lumpur hisap, berharap yang diinjaknya adalah bagian lumpur hisap dan sebentar lagi ia akan lenyap ditelan bumi, daripada masuk pintu misteri itu. Tapi tidak. Derak pintu mulai terdengar, pertanda gadis di depannya akan masuk. Delta terbangun dengan kasar. Ia hampir melompat dari bangku kuliahnya. Kemudian ia melihat gadis dalam mimpinya itu duduk di sebelahnya. Pada Delta ia berkata,“Kalau ku tahu begitu pedih siksanya, aku berharap tak pernah dilahirkan.” Delta tersentak. Matanya membelalak sampai kekeringan seperti gadis kecil yang melepas jalinan rambut kepangnya. Dan ia terbangun lagi. Dosen dan mahasiswa mengelilinginya. Meja bangku kuliah yang ia tiduri bersimbah darah. Delta kembali melihat tembok dan atap. Tidak ada kitab suci pemberian Nan. Delta berdiri hendak ke kamar mandi namun ia merasa lemas dan semua yang dilihatnya menggelap hilang.

Delta terbangun di rumah sakit. Yang dilihatnya adalah seorang dokter, Dennis, dan seorang pria berambut panjang ikal – pria ini adalah salah satu dari mereka yang hobi memahat. Rupanya Dennis meminjam mobil pria ini tadi. Delta langsung direkomendasikan untuk secepatnya tes darah. Jam setengah empat sore itu, di dalam rumah ibadah, dalam sujudnya Nan tersedu berlinang air mata – tanpa tahu kenapa. Dokter menganjurkan Delta opname. Serta merta Delta menolak. Hasil tes darah selesai besok. Setelah mengambil mobilnya di kampus, Delta diantar pulang oleh Dio, si anggota UKM Pecinta Alam itu, sementara Dennis memulangkan mobil Delta. Mereka berkeras tidak mengizinkan Delta menyetir sendiri.
“Hey, gimana, lo baik-baik aja?” tanya Dio sambil menyetir.
Delta menggeleng, lalu menyalakan rokok. Mobil itu tidak berpendingin, sehingga jendelanya selalu dibuka saat dikendarai – kecuali di jalur hutan saat tengah malam, karena akan banyak serangga yang masuk.
“Lo yang sering duduk-duduk di depan pos Mapala,” ucap Dio lagi, tanpa nada tanya atau seruan.
“Ya, gue suka tempat itu. Banyak tanaman, dan.. bangku-bangku kayunya itu nyaman banget.”
Dio tampak tersenyum bangga.
“Sejak penebangan perhutani udah out of control, apa nggak ada perasaan was-was, Io?”
Kini Dio tampak seolah duduknya tidak nyaman.

Begitu sampai di apartment, hal pertama yang dilakukan Delta adalah berusaha meneruskan novelnya. Ia kebingungan, tapi terus berusaha cari cara untuk meneruskan tulisannya. Ia belum juga menemukan apa yang hendak ia sampaikan di novel ini, dan ia merasa menuliskan mimpi-mimpinya tidak lagi relevan, semenjak mimpi-mimpinya sudah semakin kacau. Novel ini harus menjadi sesuatu. Delta mulai membayangkan sebuah novel yang menggerakkan pembacanya untuk melakukan sesuatu, mengubah pola pikir mereka. Delta mulai meruncingkan kalimat-kalimatnya yang selama ini hanya deskriptif dan berimpresi tanpa argumen. Semakin penanya berusaha meyakinkan sesuatu, semakin gamang kalimat-kalimat yang ia torehkan… Jiwanya serasa melayang ditiup kalimat-kalimatnya sendiri.


Pada akhirnya alfabet juga sebuah organisasi,
Urutan yang hanya dihafal dan tak perlu dihayati.
Iman yang tergantung kepadanya akan jadi
kepercayaan yang tampak kuat, teratur, tapi seperti
tentara berseragam: sebuah mesin pertahanan dan
agresi. 2

Kepala Delta jatuh lunglai di atas meja. Tangannya mencari dan kemudian menggenggam handphone. Ia menelepon Joanna – yang sudah tidak memiliki nomer Delta, karena Delta berganti nomer telepon tanpa memberitahunya.

“Halo?”

“Saya mau pesan pizza.”

“Orang gendeng.”
Pukul empat pagi. Di bingkai jendela kamarnya Delta melihat kerlip-kerlip kecil rumah warga; mobil yang tampak seperti persegi panjang yang berjalan lambat, seolah seukuran telapak kakinya.

Nothing unusual, nothing’s strange,
Close to nothing at all
Same old scenario, same old rain
There’s no explosion here
I’m not a miracle, and you’re not a saint
Just another soldier on a road to nowhere…3

Senandung lagu terakhir di playlist CDnya yag entah sudah berputar berapa kali dari lagu satu sampai sepuluh, akhirnya berhasil membujuk Delta untuk berbaring di ranjang. Saat ini Delta ingin sekali dapat meneteskan air mata walau setetes saja. Hasil tes darah menunjukkan kurangnya jumlah sel darah merah dan sel darah putih berlebih 2.000 sel. Opname kembali direkomendasikan, nomer telepon atau alamat kerabat juga ditanyai. Delta memberi alamat tempat tinggalnya dan mengarang nama fiksi untuk dijadikan sosok Bapak – Ibu.

Nan, bagaimana jika
nabi hanyalah orang kesurupan,
dan iman diciptakan untuk jadi candu
atas kesakitan yang tak tertahankan:
dilahirkan
?
Karena sesungguhnya, tulis Korrie,
Aku telah bersujud di masjid, sembahyang di pura,
menyanyi puja-puji di gereja, dan bersunyi-sunyi
di vihara, Daniel, dan tetap tak kutemukan Tuhanku.
Jika anak ini sudah lahir nanti, suamiku, kemana ia akan kau bawa
untuk menemui Tuhannya?
Jika kau membagi tugas itu denganku, aku hanya akan membacakannya dongeng sebelum tidur…

Darah menetes di kertas saat Delta berusaha meneruskan novelnya. Delta membiarkannya menjadi titik penanda bab baru. Paragraf-paragraf itu berserakan tanpa benang merah naratif yang nantinya menjadi nyawa pembaca4.

Korrie sayang,
Hari ini di perkuliahanku, sebuah fakta medis terbaru
jadi pembicaraan hangat antara aku dan kawan-kawanku:
Saluran oksigen tercepat ke otak itu ternyata tidak di rongga dada
maupun usus kita yang berkilo-kilo meter tersebut,
namun di balik lidah.
Maka dari itu, depresi menjadi sangat dekat dengan mereka
yang mengalami palpitasi

Ternyata darah mimisan tidak menetes sekali, tentu saja. Namun kali ini Delta tak hendak berhenti.

Daniel, coba nanti kau baca buku reportase ini
Seorang atheis Amerika yang berguru – tanpa sengaja –
pada seorang cenayang Yaqui
telah mencoba berbagai ramuan racikannya sendiri,
melakukan ritual-ritual yang diajarkan secara ketat oleh si Yaqui,
dan ia telah mengalami pertemuan-pertemuan dengan
berbagai makhluk tak kasat mata,
bahkan pernah menjadi sebesar raksasa namun seringan udara.
Ia telah menyaksikan pelosok dunia.
Penglihatannya itu dibenarkan secara objektif oleh gurunya,
dan semua yang pernah berhasil mencoba.
Ketika si Amerika dengan takjub bertanya, “Apakah aku telah menembus dunia lain?”
Sang guru tertawa kecil dan menjawab, “Sesungguhnya kau hanya berwisata di satu dunia: bumi.”5

Korrie, berhentilah membuatku percaya bahwa gagak berwarna putih berkelipan.

Suatu sore sehabis hujan, Delta kembali duduk sendirian di bangku kayu depan UKM Pecinta Alam. Dan ia tak bisa menyembunyikan takjub saat melihat seekor kenari mendarat dan berjalan-jalan sebentar di sandaran bangkunya. Dari dekat dan dengan mata telanjang Delta melihat sebuah spektrum berani dan menantang pada sebuah makhluk mungil. Ketika Delta melihat Dio, Delta mengucapkan terima kasih karena sudah membuat bangku kayu itu dan meletakkannya sedemikian rupa. Tanpa kata-kata Dio tersenyum sumringah dan dengan spontan memeluk Delta erat – singkat.

Aku tak memaksamu untuk percaya,
Aku hanya menceritakan kembali kesaksian si Amerika ini.
Itulah pengalamannya saat ia menjadi gagak
Nan, mengapa aku dilahirkan
tanpa persetujuan dulu dariku?
Dan, Nan, pernahkah kamu menyaksikan kejadianmu,
Ayo ceritakan padaku,
hingga setiap hari kau berucap:
“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasulNya”

Adzan ashar sudah lama berlalu, dan adzan maghrib sebentar lagi berkumandang. Biasanya saat ini Nan sudah berada di dalam masjid, tapi pria itu sudah dua jam duduk di teras rumah Tuhan menunggu Delta.

Pada suatu hari yang biasa, Delta telah menyelesaikan novelnya, tanpa punya daya untuk berencana ke depan terhadap novel tersebut. Delta sudah lima hari terkulai di rumah sakit. Ia bernafas dengan tabung oksigen. Malam itu Delta akan dikembalikan ke kamar biasa dari ruang ICU yang dingin, seram, dan penuh peralatan medis yang Delta bayangkan bisa saja ruang ICU itu seperti laboratorium penciptaan manusia. Delta membuka matanya pelan-pelan. Semua tampak kabur. Ia baru saja dibius. Seorang perawat mendorong ranjang dorongnya di belakang kepalanya. Sementara berjalan mengiringi dari samping ranjang, ia melihat seorang suster yang wajahnya sangat mirip dengannya, pula pucat dengan garis mata hitam yang tebal seperti matanya. Suster itu memperhatikan Delta dengan senyuman. Baru kemarin pagi Delta menyerahkan seikat kertas-kertas novelnya itu pada Nan. Dengan senyum dan pandangan mata nakal, suster-kembarannya itu memainkan selang oksigen. Ia katupkan dengan jemarinya, lalu ia lepaskan lagi. Dengan sisa tenaga, Delta tertawa.

Suatu pagi yang cerah, Delta duduk di bangku kayu yang sama, menunggu seseorang. Wanita yang ditunggunya datang. Delta menyapanya dengan senyuman.

“Ta,”

Sunyi.

“Kok kamu wisuda cuma pakai baju gini? Nggak nyalon lagi.”
“Maaf,Bu, aku bohong. Duduk di sebelahku, Bu.”
“Kok kamu kurus banget sih? Pucat lagi mukanya… Nggak pernah minum vitamin ya?” tanya wanita itu menyandarkan punggung di bangku kayu, membelai rambut Delta untuk melihat lebih dekat garis mata hitam yang membingkai sebuah tatapan yang berbinar hangat – yang tak pernah dilihatnya sebelum pagi itu.
“Tunggu deh, Bu, sebentar lagi ada burung kenari warna-warni,” ucap Delta memandang ibunya dengan binar secerah pagi itu, dan sesayu dedaunan basah sehabis hujan.

Catatan:
1.Tuhan&Hal-Hal yang Tak Selesai: Pada essay ke 25, Goenawan Mohamad menjelaskan bahwa bayang-bayang sebenarnya lahir dari hambatan.
2. Tuhan&Hal-Hal yang Tak Selesai: Pada essay ke 16, GM membicarakan gambaran verbal tentang Tuhan.
3. Potongan lirik lagu “Amy” yang ditulis dan dinyanyikan oleh Damien Rice, penyanyi solo asal Dublin.
4.Film Art: Pada bagian Naratif&Narasi, David Bordwell menjelaskan bahwa setiap penonton dan atau pembaca memiliki causal motivation, yaitu tendensi untuk mengaitkan satu elemen dengan elemen lain: sebab-akibat.
5.Teaching Of Don Juan: The Yaqui Way Of Knowledge: Carlos Castaneda tadinya adalah mahasiswa yang hendak melakukan penelitian terhadap varian tanaman di Mexico. Lalu ia bertemu Don Juan, dan Carlos pun menuliskan pengalamannya dalam buku ini.

Senin, 24 Juni 2013

sebuah kisah pendek:

LAPANGAN PARKIR SIANG ITU
Keisha Aozora


“Check,check” Seseorang menempelkan mulutnya pada microphone. “Mari,mari merapat, padatkan barisan.”

Sedari tadi awan tebal bergelayut, seolah menjadi payung bagi lapangan parkir yang sangat luas ini. Lapangan tanpa pepohonan yang biasanya panas terasa sejuk siang ini. Jika kau menarik nafas, udara sejuk ini akan merogoh parumu dan mencuri sekantung madu dari dua bongkah bidang berlendir dengan katu-katup udara itu. Sebuah panggung kokoh, pembawa acara itu tampak gagah dan anggun. Tubuhnya tinggi dengan liukan lekuk yang menggoda kita untuk menyandarkan kepala pada lekuk-lekuk itu.

Aku berjalan maju mendekati panggung bersama puluhan orang lainnya. Delapan puluh, sembilan puluh, mungkin seratus orang. Namun derap langkah mereka hampir tak terdengar. Aku hanya bisa mendengar sepatuku menginjak aspal, disusul injakan berikutnya. Itulah yang disebut langkah. Kita membuat jalan bagi kepala kita dengan menginjak sesuatu. Kakiku basah dengan keringat. Setiap hembusan nafas rasanya mendorong paru-paru dan semua organ dalamku turun ke kaki.

“Kita berkumpul siang ini, saudara-saudariku, karena keyakinan yang satu.” Dinginnya sisi pisau dalam genggaman orang bersentuhan dengan tanganku. Pembawa acara itu menarik nafas, begitu beratnya hingga terdengar di speaker. Hembusan nafas berat ini tak pernah terdengar dalam percakapan telepon beberapa waktu lalu.

“Halo, benar dengan Alexa?” “Ya?” “Apa benar kamu tergabung dalam triple double you dot togetherwego dot net?” “Ya, saya anggota mailing list” “Acara kami akan digelar dua minggu dari sekarang. Nggak ada paksaan, kamu boleh nggak datang. Kami ada di sini untukmu”

Aku menatap pada pembawa acara yang berwibawa dengan beratnya hembus-tarik nafas di microphone. Ia tampak seperti pahlawan pada detik-detik menuju akhir. Sebuah tali tambang terikat kuat di atap panggung, menggantung statis tidak tertiup angin. “Kita ada di sini bukan karena kita lemah, bukan karena kita pengecut!” Suaranya serak berteriak menghantam mic. Kulihat darah menetes berulang kali di sebelahku. Anonim ini rupanya sudah menerkam makanan pembuka.

Aku sendiri… hanya punya patahan gunting kebun, yang sudah kuasah tadi pagi. Ibuku suka berkebun sendiri, menggubah semak-semak yang cantik, memangkas dahan-dahan liar, hingga pada suatu hari kutemukan ia menggantung lehernya di salah satu dahan pohon mahoni. Tidak jauh dari tubuh Ibu kutemukan pisau kebun yang sudah hampir patah menjadi dua mata pisau, seperti kedua orang tuaku. Dua mata pisau, jika direkatkan, ia menjadi gunting. Masing-masing dari kami yang berkumpul siang ini adalah mata pisau, yang sudah bersimbah darah anjing sebelum rapalan doa dikumandangkan. Dan pembawa acara yang gagah berani ini adalah baut bulat yang menyatukan seratus mata pisau untuk melukai senja, agar jingganya tampak lebih berani.

“Tapi karena kita tahu, tidak ada nilai yang bisa kita hargai lagi di sini. Cinta, kedamaian hati, omong kosong.”

“ANJING! ANJING!” Seseorang di belakang barisanku berteriak memaki. Aku menoleh dan kulihat orang di sebelahnya sudah menggelepar di tanah dengan mulut berbusa. Wajahnya menghijau dan semua urat wajahnya mulai bertonjolan, perlahan namun pasti. Sejak kepergian Ibuku, aku tidak merasakan apapun. Tidak ada benci, marah, atau apapun. Semua rasa terkubur sempurna bersama jasadnya. Baru kali ini, setelah sekian lama, kurasakan detak jantung yang begitu hidup… seolah mataku hendak menggelinding keluar dari kelopaknya.

“Alexa, ditanya tuh sama Tante, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” Aku berpegangan pada rok Ibu, kelakuanku yang tidak disukainya. Katanya sepert anak penakut. Hanya seorang bayi yang boleh mencengkeram baju Ibunya seperti itu.
”Aku mau jadi Bapak…”
Ibu melotot melihatku dan Tante tertawa kecil. “Alexa kan perempuan…bisanya jadi Ibu.” Aku menggeleng pelan, namun terus-terusan. “Ibuku sayang banget sama Bapak, Ibu cantik banget kalau lagi dipeluk Bapak, Alexa mau jadi Bapak!” Sebuah tamparan keras membanting pipiku. Ibu marah. Ibu selalu marah padaku, dan selalu sayang Bapak. Aku mau jadi Bapak! Aku mau jadi buronan polisi, buronan wanita hamil yang selalu memukul-mukulkan tangannya ke pagar rumah, aku mau melakukan apapun yang Bapak lakukan supaya disayang Ibuku.

Si pembawa acara menggenggam lubang kepala pada tali tambang yang menggantung. Ia naik ke atas speaker tinggi, dan menjatuhkan mic. “Mari kita akhiri mimpi buruk ini sekarang!” ucapnya lantang, mematahkan dadaku, menggetarkan agregat dan mortar dalam aspal. Rintihan-rintihan melengking terdengar bersahutan, menumpuk, menikam lapangan parkir ini secara bertubi-tubi. Kudengar suara pisau memotong kerongkongan berkali-kali hingga kepala itu hampir lepas, tubuh-tubuh jatuh namun suara rintihan masih terus bertiup di udara seperti mantra.
Kuberanikan diri, kukuatkan hatiku yang telah lama mati, demi hari ini. Sampai jumpa Ibu! Mata pisau menyobek ususku. Kutatap nanar pembawa acara. Ia terbata mengatakan, “Aku…berubah, berubah pikiran..berubah pikiran..”

Selasa 25 Juni 2013 [03:15]