pantai homme.
ada di belakang rumah cilandak. ketemu kak angky, kak lita, om ifin. setelah salam-salaman, aku tetap berjalan, tanpa tujuan. setelah semak-semak, kulihat deburan ombak itu. di sebelahku ada seorang cewek yang baru kukenal on the pot dan langsung jadi teman. dia menjelaskan ini pantai homme. langit mendung. pasirnya coklat muda. disediakan bangunan kecil untuk ganti baju dan mandi. aku heran kok sudah lumayan terstruktur sementara aku baru tau pantai ini. kamar mandinya pun bersih. aku melepas semua yang kupakai, jadi telanjang. saat aku keluar dari kamar mandi itu baru kusadari, nggak sepatutnya aku telanjang. minimal pakai bikini. kenapa aku kok kayak manusia purba begini. aku pun balik lagi untuk pakai celana dalam dan kaus, terus ke luar nemu lapak sport bra. aku pilih yang ukuran 64, sambil ngobrol-ngobrol dengan mbak penjual. Aku bilang sungguh aku tidak tahu ada pantai ini, dan sejak kecil aku sering berkeliaran di daerah Cilandak. Tapi dia jawabnya nggak nyambung, dia bilang toko bikini dia juga ada di pintu masuk, tepatnya di rumah Cilandak, nama tokonya "Mawar". Saat kami berbincang, kulihat ombak makin besar dan makin besar. hempasan ombak sampai dekat ke lapak padahal kami berada jauh dari bibir pantai. Lalu kulihat ombak sangat tinggi kira-kira tingginya seperti tiga orang setinggi aku disusun vertikal. aku pun teriak dan lari.
mimpi.
Minggu, 19 Januari 2014
Rabu, 15 Januari 2014
bunga tidur
selasa jam satu pagi
aku ada di rumah tua di daerah pegunungan. rumah itu kecil dan sangat sederhana, furniturnya dihinggapi jaring laba-laba. Ada Mama dan Ayah. Setting waktunya malam hari. Tampaknya kami menginap di situ, entah siapa tuan rumahnya. Ada seorang bapak ngajak kami ke luar, dan di jalan terlihat tanda berwarna kuning fosfor, seperti tiga lingkaran, dan dia bilang di situ Mbak Luluk meninggal dunia.Terus Mbak Luluk datang, beliau kelihatan sehat, pakai jilbab warna putih Dia datang bersama beberapa orang lainnya yang terasa sangat familiar, mungkin di masa kecilku. Kami duduk di beranda rumah itu dan ngobrol. Aku ngobrol sambil nangis karena rindu
rabu jam tiga pagi
laut. laut biru dengan ombak yang memukul-mukul, tapi terbelah beberapa meter dari pesisir pantai ke tengahnya, ada gay-gay temannya Lian minta tolong aku fotoin.
rabu jam sebelas malam
aku sudah kerja di FFTV IKJ jadi sekprodi nya Matius. Di ruangan kaprodi yang kecil aku dengar musik, seperti tetabuhan alat musik tradisional. Aku joget asal-asalan, kemudian berhenti, khawatir ada kamera CCTV. Saat aku keluar ruangan kulihat dua mahasiswa musik sedang latihan dengan gitar masing-masing, dan di tembok terpajang poster-poster konser akbar, oh jadi sekarang gedung FFTV dicampur dengan jur.musik, pikirku. Orang-orang itu mukanya seperti umur 30an, mungkin mahasiswa Pasca Sarjana. Aku menemui mahasiswa-mahasiswa nya mas Matius untuk mendaftar siapa saja yang akan ikut ujian. Ada Dedi Error. Aku duduk satu meja dengan mahasiswa-mahasiswa ini, kebanyakan angkatan 2007. Aku ngobrol dan ketawa-ketawa sama mereka sampai tanpa kusadari buku absenku hilang. Aku panik nyariin tapi berusaha tampak tenang.
Aku sekarang ada di alam terbuka, seperti padang rumput yang berbukit-bukit, ada banyak orang. Ini seperti acara workshop atau semacamnya dan aku merasa tidak enak badan. Terus ada cowok yang jagain aku. Aku malas sama dia karena mukanya tua dan pokoknya nggak menggairahkan tapi dia baik. Aku main tarot dan sampai tiga kali ambil kartu, sama terus. Kartu "Gay Hand" gambar muka cewek dan tangan menengadah ke atas. Kata orang itu pertanda yang sangat buruk, aku mungkin akan jadi makin sakit atau mati. Aku tidak merasakan ketakutan sama sekali. Mood ku dalam mimpi itu adalah santai dan malas.
aku ada di rumah tua di daerah pegunungan. rumah itu kecil dan sangat sederhana, furniturnya dihinggapi jaring laba-laba. Ada Mama dan Ayah. Setting waktunya malam hari. Tampaknya kami menginap di situ, entah siapa tuan rumahnya. Ada seorang bapak ngajak kami ke luar, dan di jalan terlihat tanda berwarna kuning fosfor, seperti tiga lingkaran, dan dia bilang di situ Mbak Luluk meninggal dunia.Terus Mbak Luluk datang, beliau kelihatan sehat, pakai jilbab warna putih Dia datang bersama beberapa orang lainnya yang terasa sangat familiar, mungkin di masa kecilku. Kami duduk di beranda rumah itu dan ngobrol. Aku ngobrol sambil nangis karena rindu
rabu jam tiga pagi
laut. laut biru dengan ombak yang memukul-mukul, tapi terbelah beberapa meter dari pesisir pantai ke tengahnya, ada gay-gay temannya Lian minta tolong aku fotoin.
rabu jam sebelas malam
aku sudah kerja di FFTV IKJ jadi sekprodi nya Matius. Di ruangan kaprodi yang kecil aku dengar musik, seperti tetabuhan alat musik tradisional. Aku joget asal-asalan, kemudian berhenti, khawatir ada kamera CCTV. Saat aku keluar ruangan kulihat dua mahasiswa musik sedang latihan dengan gitar masing-masing, dan di tembok terpajang poster-poster konser akbar, oh jadi sekarang gedung FFTV dicampur dengan jur.musik, pikirku. Orang-orang itu mukanya seperti umur 30an, mungkin mahasiswa Pasca Sarjana. Aku menemui mahasiswa-mahasiswa nya mas Matius untuk mendaftar siapa saja yang akan ikut ujian. Ada Dedi Error. Aku duduk satu meja dengan mahasiswa-mahasiswa ini, kebanyakan angkatan 2007. Aku ngobrol dan ketawa-ketawa sama mereka sampai tanpa kusadari buku absenku hilang. Aku panik nyariin tapi berusaha tampak tenang.
Aku sekarang ada di alam terbuka, seperti padang rumput yang berbukit-bukit, ada banyak orang. Ini seperti acara workshop atau semacamnya dan aku merasa tidak enak badan. Terus ada cowok yang jagain aku. Aku malas sama dia karena mukanya tua dan pokoknya nggak menggairahkan tapi dia baik. Aku main tarot dan sampai tiga kali ambil kartu, sama terus. Kartu "Gay Hand" gambar muka cewek dan tangan menengadah ke atas. Kata orang itu pertanda yang sangat buruk, aku mungkin akan jadi makin sakit atau mati. Aku tidak merasakan ketakutan sama sekali. Mood ku dalam mimpi itu adalah santai dan malas.
Senin, 13 Januari 2014
13 januari 2014 jam 12 malam
aku ada di sebuah toko komik dan mainan bersama ayah dan kak topan. kakak ingin belikan aku barang, aku disuruh milih. aku pilih komik bergambar Crash Bandicoot, lalu kami masuk ke mobil. sepertinya kami sedang dalam perjalanan panjang.
aku ada di sebuah sekolah di mana aku bersekolah di situ. aku jalan dengan seorang teman, Ms.Shinta, melewati kerumunan dan aku bercerita betapa gobloknya orang-orang ini -- tipikal Indonesia, mudah dialihkan perhatiannya, dan mudah ikut-ikutan. tanpa kusadari temanku itu berubah jadi Nindi, dan wajah-wajah di sekolah itu jadi wajah-wajah IKJ tanpa berubah setting tempat. aku masih membicarakan topik yang sama -- tanpa banyak bicara lagi, hanya tertawa-tawa bersama Nindi. Nindi bilang aku nggak akan pernah bisa berbaur dengan orang-orang ini, kubilang "Kamu salah. They invited me to dance" dan aku langsung joget-joget sama Bulan dan beberapa orang lagi, ada Ully. Aku menjelaskan lagi ke Nindi kalau mereka sepenuhnya menerimaku dan mengajakku bergabung dan aku sudah melakukannya, tapi lama-lama bosan dan nggak dapat di mana pentingya ada di antara mereka. Tanpa kusadari orang yang kuajak bicara ganti jadi Irin. Sedari tadi aku merasa aku punya teman tercerdas, terbaik, and very sophisticated. Di lapangan, kami melihat Ully ngajak ngobrol seorang penjaga stand dan dia nyerocos cerita tanpa ada balasan dari orang itu. Dia cerita betapa gaul dan uniknya dia, sampai-sampai ada cowok yang ngajak kenalan dan langsung ngajak ngopi. "Neng, kopi yuk di mana," begitu kata Ully menirukan cowok yang tertarik pada keunikannya.Aku ketawa tanpa bersuara keras, seperti berusaha nahan ketawa, sambil lihat temanku -- yang sudah berubah dari Nindi jadi Irin. Tiba-tiba Irin menimpali cerita Ully itu, Irin cerita dia pernah sampe merasa bersalah karena pulang dari ITC Ambassador nggak keluar duit sama sekali, karena tiba-tiba ada cowok yang mau bayarin semua belanjaannya -- saking attractivenya dia. Aku mulai menyadari ada yang nggak beres, tadi kan aku sedang menertawakan orang-orang ini bersama seorang teman, seperti dua orang yang berada di luar lingkaran, outsiders. Aku menimpali cerita mereka lagi, aku bilang, juga pernah keluar dari toko kaset dan buku, ada cowok yang tiba-tiba mau bayarin apapun yang aku beli dan aku nggak pake rasa bersalah sama sekali, malah senang. Ully dan Irin mendengarkan cerita singkatku dengan seksama. Tiba-tiba aku ada di lantai dua bersama Sonang, dan dua orang lagi yang aku nggak ingat. Aku tahu sekarang aku sedang berada di lingkaran mereka, dan kami sedang bercanda tawa, dengan gaya kami yang dulu pernah kualami. Aku dan sonang pura-pura membicarakan orang. Sonang bilang dia pernah dengar Ome bla-bla-bla. Aku dan Sonang main bisik-bisikan dan aku bisikin dia "suwisuwaswiswus" yang penting kelihatan lagi bisik-bisik nggosipin orang. Tapi Sonang bilang, "Ih Keisha, orang lagi serius," dan ternyata dia benar serius. Dia cerita Ome punya sebutan-sebutan untuk aku dan orang-orang outsider. Dia bilang aku Miss Narkoba. Ada rasa merinding mendengar julukan itu diberikan kepadaku. Bukannya mereka yang akrab dengan narkoba ya? Gumamku dalam hati tapi tidak memungkiri aku pun pernah coba. Lalu muncul foto-foto seorang anak gaul kampus, yang sudah meninggal dunia, yang nggak pernah kukenal, panggilannya Keke, namanya Nengke atau siapalah.. dan nama itu tertulis di fotonya. Dia cewek, manis, berponi tebal, dalam foto itu rambut belakangnya nya disasak tinggi, dan dia adalah the real miss narkoba pada zamannya, di kampus ini. Aku dan Irin diam mendengarkan cerita. Di depan kita ada sebongkah potongan kayu, dan menancap gunting yang sudah karatan.
Sonang mencabut gunting itu dan aku melarangnya tapi tidak didengarkan. Ia main-main menggoda kami dengan gunting itu, dia nawarin aku juga mau pegang gunting itu nggak, aku nggak mau, aku benar-benar menolak, tapi gunting itu udah dilempar ke aku, udah kupegang -- untuk kulempar lagi jauh-jauh dari aku. Tapi aku tahu ini hal buruk, gunting itu udah body contact sama aku -- dan benar saja, saat kami lagi saling melempar gunting, dua orang cewek berbaju hitam ketat datang, membawa potongan gunting yang tajam. Dia tanya siapa yang main-main dengan gunting tua itu, aku langsung nunjuk Sonang. Tapi tampaknya dua cewek itu mau menyakiti semua di antara kami, semuanya. Salah satu dari cewek itu langsung mengambil kedua tangan Sonang, disatukan di belakang punggung, seperti posisi istirahat di tempat (upacara) dan Sonang tertawa-tawa, dia kira this is a joke. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukan cewek itu, ya, dia mengiris tangan Sonang dengan pisau kecil di tangannya. Cewek yang satu lagi, berambut panjang lurus, bermata besar dengan garis yang tajam, langsung menyergapku. Aku berusaha kabur tapi dia sudah dapat satu tanganku. Aku merasakan irisan itu di punggung tangan kiriku, tepatnya di kubu tengah jari, paling terasa di telunju, jari tengah, dan jari manis. Walau dia sudah berhasil mengiris tanganku, aku nggak nyerah. Kubanting cewek itu dan aku langsung loncat dari lantai dua. Kusadari bahwa bangunan kampus ini adalah MIN Malang 1.
Aku lari keluar, dengan mendorong angin supaya makin cepat. Sekarang aku ada di dekat SPBU Jl.Bandung, sembunyi di semak-semak. Aku merasa dikejar. Dua cewek itu memang tidak kelihatan, tapi aku lihat seorang cowok exterminator, dan aku merasa dia tim-nya dua cewek berbaju ketat itu. Tiba-tiba aku ingat the art of stalking yang mungkin aka menyelamatkanku. Aku tiba-tiba merasa harus bergaya seperti laba-laba, dan aku pun bersembunyi dalam posisi plank, beberapa lama, kemudian lari ke jalan raya berusaha memberhentikan taksi. Bluebird dan Express terus ngebut tidak menghiraukan lambaian tanganku. Aku merasa ini daerah yang familiar denganku, dan tidak familiar dengan dua iblis berbaju hitam ketat itu. Aku berencana untuk kabur dengan taksi, kubawa ke pelosok-pelosok dalam kota Malang, tapi sampai aku terbangun tidak ada taksi yang berhenti, dan aku merasa angin begitu beratnya seperti air, punya arus dan kepadatan yang susah dijelaskan. Kurasakan dengan tanganku.
*Note: Ini mimpi, bukan fiksi tapi juga bukan benar-benar terjadi di kehidupan sehari-hari
aku ada di sebuah sekolah di mana aku bersekolah di situ. aku jalan dengan seorang teman, Ms.Shinta, melewati kerumunan dan aku bercerita betapa gobloknya orang-orang ini -- tipikal Indonesia, mudah dialihkan perhatiannya, dan mudah ikut-ikutan. tanpa kusadari temanku itu berubah jadi Nindi, dan wajah-wajah di sekolah itu jadi wajah-wajah IKJ tanpa berubah setting tempat. aku masih membicarakan topik yang sama -- tanpa banyak bicara lagi, hanya tertawa-tawa bersama Nindi. Nindi bilang aku nggak akan pernah bisa berbaur dengan orang-orang ini, kubilang "Kamu salah. They invited me to dance" dan aku langsung joget-joget sama Bulan dan beberapa orang lagi, ada Ully. Aku menjelaskan lagi ke Nindi kalau mereka sepenuhnya menerimaku dan mengajakku bergabung dan aku sudah melakukannya, tapi lama-lama bosan dan nggak dapat di mana pentingya ada di antara mereka. Tanpa kusadari orang yang kuajak bicara ganti jadi Irin. Sedari tadi aku merasa aku punya teman tercerdas, terbaik, and very sophisticated. Di lapangan, kami melihat Ully ngajak ngobrol seorang penjaga stand dan dia nyerocos cerita tanpa ada balasan dari orang itu. Dia cerita betapa gaul dan uniknya dia, sampai-sampai ada cowok yang ngajak kenalan dan langsung ngajak ngopi. "Neng, kopi yuk di mana," begitu kata Ully menirukan cowok yang tertarik pada keunikannya.Aku ketawa tanpa bersuara keras, seperti berusaha nahan ketawa, sambil lihat temanku -- yang sudah berubah dari Nindi jadi Irin. Tiba-tiba Irin menimpali cerita Ully itu, Irin cerita dia pernah sampe merasa bersalah karena pulang dari ITC Ambassador nggak keluar duit sama sekali, karena tiba-tiba ada cowok yang mau bayarin semua belanjaannya -- saking attractivenya dia. Aku mulai menyadari ada yang nggak beres, tadi kan aku sedang menertawakan orang-orang ini bersama seorang teman, seperti dua orang yang berada di luar lingkaran, outsiders. Aku menimpali cerita mereka lagi, aku bilang, juga pernah keluar dari toko kaset dan buku, ada cowok yang tiba-tiba mau bayarin apapun yang aku beli dan aku nggak pake rasa bersalah sama sekali, malah senang. Ully dan Irin mendengarkan cerita singkatku dengan seksama. Tiba-tiba aku ada di lantai dua bersama Sonang, dan dua orang lagi yang aku nggak ingat. Aku tahu sekarang aku sedang berada di lingkaran mereka, dan kami sedang bercanda tawa, dengan gaya kami yang dulu pernah kualami. Aku dan sonang pura-pura membicarakan orang. Sonang bilang dia pernah dengar Ome bla-bla-bla. Aku dan Sonang main bisik-bisikan dan aku bisikin dia "suwisuwaswiswus" yang penting kelihatan lagi bisik-bisik nggosipin orang. Tapi Sonang bilang, "Ih Keisha, orang lagi serius," dan ternyata dia benar serius. Dia cerita Ome punya sebutan-sebutan untuk aku dan orang-orang outsider. Dia bilang aku Miss Narkoba. Ada rasa merinding mendengar julukan itu diberikan kepadaku. Bukannya mereka yang akrab dengan narkoba ya? Gumamku dalam hati tapi tidak memungkiri aku pun pernah coba. Lalu muncul foto-foto seorang anak gaul kampus, yang sudah meninggal dunia, yang nggak pernah kukenal, panggilannya Keke, namanya Nengke atau siapalah.. dan nama itu tertulis di fotonya. Dia cewek, manis, berponi tebal, dalam foto itu rambut belakangnya nya disasak tinggi, dan dia adalah the real miss narkoba pada zamannya, di kampus ini. Aku dan Irin diam mendengarkan cerita. Di depan kita ada sebongkah potongan kayu, dan menancap gunting yang sudah karatan.
Sonang mencabut gunting itu dan aku melarangnya tapi tidak didengarkan. Ia main-main menggoda kami dengan gunting itu, dia nawarin aku juga mau pegang gunting itu nggak, aku nggak mau, aku benar-benar menolak, tapi gunting itu udah dilempar ke aku, udah kupegang -- untuk kulempar lagi jauh-jauh dari aku. Tapi aku tahu ini hal buruk, gunting itu udah body contact sama aku -- dan benar saja, saat kami lagi saling melempar gunting, dua orang cewek berbaju hitam ketat datang, membawa potongan gunting yang tajam. Dia tanya siapa yang main-main dengan gunting tua itu, aku langsung nunjuk Sonang. Tapi tampaknya dua cewek itu mau menyakiti semua di antara kami, semuanya. Salah satu dari cewek itu langsung mengambil kedua tangan Sonang, disatukan di belakang punggung, seperti posisi istirahat di tempat (upacara) dan Sonang tertawa-tawa, dia kira this is a joke. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukan cewek itu, ya, dia mengiris tangan Sonang dengan pisau kecil di tangannya. Cewek yang satu lagi, berambut panjang lurus, bermata besar dengan garis yang tajam, langsung menyergapku. Aku berusaha kabur tapi dia sudah dapat satu tanganku. Aku merasakan irisan itu di punggung tangan kiriku, tepatnya di kubu tengah jari, paling terasa di telunju, jari tengah, dan jari manis. Walau dia sudah berhasil mengiris tanganku, aku nggak nyerah. Kubanting cewek itu dan aku langsung loncat dari lantai dua. Kusadari bahwa bangunan kampus ini adalah MIN Malang 1.
Aku lari keluar, dengan mendorong angin supaya makin cepat. Sekarang aku ada di dekat SPBU Jl.Bandung, sembunyi di semak-semak. Aku merasa dikejar. Dua cewek itu memang tidak kelihatan, tapi aku lihat seorang cowok exterminator, dan aku merasa dia tim-nya dua cewek berbaju ketat itu. Tiba-tiba aku ingat the art of stalking yang mungkin aka menyelamatkanku. Aku tiba-tiba merasa harus bergaya seperti laba-laba, dan aku pun bersembunyi dalam posisi plank, beberapa lama, kemudian lari ke jalan raya berusaha memberhentikan taksi. Bluebird dan Express terus ngebut tidak menghiraukan lambaian tanganku. Aku merasa ini daerah yang familiar denganku, dan tidak familiar dengan dua iblis berbaju hitam ketat itu. Aku berencana untuk kabur dengan taksi, kubawa ke pelosok-pelosok dalam kota Malang, tapi sampai aku terbangun tidak ada taksi yang berhenti, dan aku merasa angin begitu beratnya seperti air, punya arus dan kepadatan yang susah dijelaskan. Kurasakan dengan tanganku.
*Note: Ini mimpi, bukan fiksi tapi juga bukan benar-benar terjadi di kehidupan sehari-hari
Langganan:
Komentar (Atom)