Sabtu, 26 Oktober 2013

This Cycle We're In. Andara Moeis

Malam ini untuk kali pertama saya menjejakkan kaki di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru. Sebuah gedung tua berdiri dengan megah layaknya Istana Negara, walau mungkin miniaturnya. Berbeda dengan Teater Salihara yang eksentrik dengan sebuah tembok tinggi penuh graffiti dan lantai abu-abu, Gedung Kesenian Jakarta memproyeksikan sebuah kemewahan ortodoks. Begitu memasuki ruang pertunjukan, kalimat pertama saya adalah "Wah seperti di luar negeri ya!" Suasananya mengingatkan saya akan film Moulin Rouge.

Pertunjukan dibuka dengan tiga sling kain, dan tiga penari (dua perempuan, satu laki-laki). Sling biru untuk penari perempuan dan sling merah untuk penari laki-laki. Dengan background visual kelap-kelip cahaya dan suara jangkrik yang mendominasi, kedua penari wanita (Dilli, Mariska) tampak terbungkus dalam kain sling sementara penari laki-laki (David) tampak berputar-putar secara vertikal, berotasi pada slingnya.

SUMBER FOTO: THE JAKARTA POST

Perputaran David yang teramat lembut menghadirkan kesan sebuah fetus di dalam rahim, didukung dengan para penari lainnya yang mulai mengintip dari dalam kain, dan mulai menampakkan diri. Kaki mereka lalu perlahan menyentuh lantai, badan mereka berayun dengan pasrah, dan akhirnya lepas dari sling masing-masing. Kesan kehidupan sebelum kelahiran pada babak ini didukung dengan kostum mereka yang sangat minimal, sementara itu pada babak selanjutnya tampak mereka membawa baju dan mengenakannya di atas panggung. Adegan ini tidak ditarikan, namun secara harafiah benar-benar proses memakai baju. Setelah itu, yang saya ingat adalah David memulai gerakan dengan mengeksplorasi bentuk-bentuk dengan tangan, Mariska dengan kaki, dan Dilli memulainya dengan pinggul. Perlahan, ketiga penari ini melakukan interaksi gerak yang cepat dan rumit. Yang tidak bisa dilupakan adalah banyaknya gerakan lifting yang saya pun tidak paham interaksi apa yang berusaha disampaikan dalam rangkaian adegan ini.

Dari keseluruhan karya, saya paling terkesan dengan adegan Dilli dan David. Menurut saya adegan itu yang terasa nyata, di mana emosi kedua penari itu sampai pada kursi saya di barisan ke-8. Dari rangkaian babak yang berusaha "bercerita", baru babak ini yang terasa lebih dari bercerita, namun "mengungkapkan". Isu-isu keraguan pada pasangan yang bergejolak dari dalam diri masing-masing penari menghadirkan konflik yang seolah seperti konflik hubungan, tapi sebenarnya konflik dalam diri masing-masing! Berusaha hadir untuk orang yang kita cintai; namun usaha itu selalu gagal, sebelum kita berhasil hadir untuk diri kita sendiri. Hempasan dan langkah Dilli yang tampak lelah makin membuat saya lupa bahwa ini sebuah koreografi; tampak nyata dan sedih sekali.

Namun sayangnya, saya merasakan lompatan yang terlalu jauh dari babak ini ke babak berikutnya. Dengan tirai yang menampilkan visual gedung-gedung Jakarta, sekitar tujuh penari termasuk penari utama lai-laki (David) bergerak secara rapi, mondar-mandir dalam baris, menghadirkan suasana sibuknya warga Jakarta dalam kotak-kotak pekerjaan mereka, sementara Dilli tampak melakukan gerakan-gerakan yang lentur, tidak terpengaruh dengan keseragaman. Dilli berlari ke berbagai sudut melewati barisan orang-orang yang bergerak kaku tersebut, dan sesekali ia diam memperhatikan mereka. Kembali datang pengulangan adegan lifting di mana Dilli "dipindahkan" dari satu tempat ketempat lain, seolah tidak ada tempat bagi orang yang tidak mau ikut seragam. Babak ini diakhiri dengan mundurnya Dilli ke sisi belakang panggung.

Memang sinopsis karya ini menjelaskan bahwa This Cycle We're In bercerita tentang tahapan-tahapan kehidupan. Tentu kita semua tahu secara umum tahapan kehidupan adalah lahir, tumbuh, berperan dalam sosial, tua, dan mati; namun saya percaya setiap koreografer punya cara yang berbeda-beda dalam menyampaikan siklus ini melalui karya tari.

Tentu saja semua tulisan ini adalah pendapat pribadi, dan saya tidak mengenyam pendidikan seni pertunjukan, melainkan sebatas penikmat. Dari kaca mata saya, adegan interaksi, konflik hubungan yang kemudian di-emphasize dengan visual tarian solo oleh pemeran wanita -- adalah adegan yang paling kuat dan merengkuh penonton (saya) secara personal.