Pukul setengah sebelas malam aku sampai di rumah, baru dari Salihara nonton karya tari Danang Pamungkas, judulnya Beat. Danang adalah salah satu seniman penerima Hibah Seni dari Yayasan Kelola, jadi mungkin karya yang dipertunjukkannya tadi adalah bentuk tanggung jawab karya untuk hibah dari Kelola.
Sebuah potongan kalimat di lembar sinopsis untuk Beat seperti ini: "dan sesekali, karya ini juga mencoba “melepaskan diri” dari musik dan membuatnya mengalir lewat tubuh sang penari.". Itu adalah kalimat terakhir, namun justru kata kunci "melepaskan diri" itu yang membuatku datang jauh-jauh ke Salihara walaupun sebenarnya masih harus istirahat.
Sebagai awam di dunia tari, demikian yang terbesit di otakku: Jika maksud Danang adalah untuk membuktikan dan memberi penekanan bahwa tubuh memiliki ritme, rhytm, atau mungkin bahkan rhyme, ia sudah berhasil dari menit-menit awal resital. Musik pengantar tidur terdengar kontras dengan gerak tubuh penari yang cepat namun matang, dengan tempo yang presisi. Namun pertunjukkan terus berjalan, seperti tak ada habisnya.
Di ruang gelap teater Salihara, di mana pandanganku hanya mengarah pada panggung yang membumi, nafasku tersengal-sengal. Karena pilek. Hmm, maksudku, ada scene yang membuat nafasku tersengal, Breathtaking bahasa kerennya; yaitu saat Danang menari begitu fluid, cair, mengalir, sadar, dan tidak berhenti! Sementara itu, seorang penari lainnya berjalan begitu lambat, cair, sadar. Saat adegan itu nyaji di panggung, terjadi peristiwa dimensi waktu di benakku. Seperti yang pernah ada di percakapan aku dan Nikma setelah kami membaca terjemahan pemikiran Descartes, seperti yang pernah ada di kelas Estetika Mas Matius Ali, maaf aku lupa dasar pemikiran siapa yang sedang beliau bahas waktu itu, tapi tentang konsep waktu. Bahwa sedikitnya ada dua realita waktu. Yang berdetak, yang dijadikan kesepakatan bersama. Satu lagi, yang ada di alam kesadaran kita sendiri-sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar