Saya diundang nonton rehearsal , di mana undangannya hanya empat penonton. Siapapun pasti setuju, ini sesuatu yang spesial. Dan di bangku yang ditandai no.4 saya akan duduk, di jok tengah sementara 3 penonton lainnya di belakang. Jantung saya sudah berdebar sejak di rumah. Undangan jam delapan malam. Jam setengah tujuh saya terburu-buru menunggu metromini 74 menuju blok m.
Angka.
10 2012 4 3 7 8 74
Saya tidak suka angka. Angka punya bentuk yang tidak luwes, sekalipun 8. 8 punya ruang yang mengurungmu di dalamnya. Tapi sejak hidup di Jakarta, angka jadi makin penting bagi saya. Saya berkejaran dengan waktu, dan menghafal nomor bus kota.
Saya selalu ingat ekspresi wajah dan tubuh saya ketika harus berhadapan dengan akuntansi, matematika, fisika. Boleh berbagi cerita, saat les privat fisika di rumah waktu SMA, saya:
- berdiri di atas kursi
- tengkurap di atas kursi dan berubah jadi pesawat, berputar-putar dengan kursi yg beroda.
Begitu berkenalan dengan bus kota, ternyata saya bukan orang ter-aneh di dunia seperti yang dikatakan orang-orang saat saya SMA. Kernet bus adalah koreografer ajaib, yang bisa memasukkan sebanyak-banyaknya penari ke dalam bus. Ia kenal posisi, percaya pada possibility, dan dia bisa bergelantungan dengan banyak pose di ambang pintu bus. Ini bukan fiksi, bukan, percayalah, saya naik bus kota selama lima tahun, hanya sebagai penumpang sih. Sebagai penumpang saja saya kenal betul gerak-gerik ini, gimana si kernet? Keirngat dan jiwa raganya nempel di atap dan besi-besi bus yang berkarat itu. Pasti!
Datang ke Cikini, saya disuruh standby di lokasi undangan oleh Rica, tidak boleh ikut nongkrong sama dia dan penari-penarinya! Surprise was on the making. Buka handphone, membaca lagi SMS Rica:
" lokasi: parkiran depan planetarium. ada avanza hitam no B**** cari tanda segitiga, itu tempat berdiri penonton."
Oke, saya ketawa ketiwi berdiri di segitiga rambu parkir.
Di samping saya, kira-kira sejauh tiga lencang kanan, ada rambu segitiga lagi dan di situ berdiri seorang wanita berjilbab, namanya Inda, dia juga undangan. Aheey asiik seruu senangnya diundang! BRAK! Para penari lari dari belakang kami dan menabrak mobil sekuat-kuatnya. Brak! Bruk! Rizki Suharlin Putri, yang bersandar di pintu mobil dihimpit oleh para penari lainnya, hingga ia berteriak.
Teriak.
Itulah awal luapan emosi, saat kamu merasa tidak kuat lagi. Tapi terjebak, tak bisa melepaskan diri. Mau apa?
Sequence penganiayaan mobil ini terus berjalan. Lompat-lompat di atap, dsb. Saya kini bebas, saya adalah penonton yang bebas. Saya kini tak terhimpit seperti dalam bus kota, tapi saya bebas melihat berkeliling. Ini adalah pengalaman menonton pertunjukkan tari dari sudut 360 derajat. Saya bisa memperhatikan kaki, rambut, dengan sedekat-dekatnya.
Setelah puas berkeliling, pintu dibuka dan penonton dipersilahkan masuk. Kaki Ratri Anindya yang menggantung di atap naik perlahan memberi jalan untuk saya masuk ke mobil. Rica mengendarai mobil dengan penari yang masih bergelantungan di berbagai sisi luar mobil.
Konsep pertunjukkan yang beyond standard ini silahkan para pembaca telaah sendiri. What's the point for me is, saya boleh nyengir tengil pada Immanuel Kant, filsuf Russia, yang bilang "The thing in itself can not be known." Saya memegang sepenggal pernyataan itu, saya aplikasi dalam setiap apresiasi maupun karya saya. Kita hanya bisa melihat dari satu sisi, itulah kenapa kita tidak bisa berpendapat terlalu jauh, atau menghakimi, bahasa langsungnya.
But Kant, hey, this choreographer brings me to the very core of the venue, the property, the reason why the piece is born! What can I ask for more?
Di dalam mobil ada rongga-rongga, seperti tubuh kita. Di rongga belakang ada para pengamat, di rongga kedua ada saya, diserang, dihimpit, dan dilalui tubuh para penari G.F.Y. Kini keterpisahan panggung-penonton itu tidak ada lagi. Terima kasih.
Bagi saya, semua yang mereka lakukan adalah sebuah teriakkan dan usaha melepaskan diri dari himpitan, dari sesuatu yang mereka ingin saya rasakan juga saat itu! Himpitan tidak selalu berarti derita sih, get the best out of everything! Mereka bermain gelembung sabun, bahkan kembang api, dan player mobil melantunkan lagu ceria ber-lirik optimis.
Seperti kernet bus, saya rasa Rica kenal betul dengan setiap lekuk mobilnya. Segala alter ego dan tumpahan emosi berceceran di mobil itu, tentu. Dugaan saya bahwa karya ini cenderung spontan dan jauh dari koreografi ternyata di-iyakan oleh koreografer, namun menari untuk G.F.Y bukan butuh teknik kepenarian setinggi pohon kelapa, tapi mentalitas se-raksasa pohon akasia. Rica, Ery Yovan, Rizki Suharlin, Sita Tyasutami, dan Ratri Anindya saya masukkan dalam daftar penari batu karas, dari patahan tebing di gunung yang mendarat di hiruk pikuk Jakarta.
Satu lagi, IKJ harus bangga dengan G.F.Y
G.F.Y secara mengagetkan mengembalikan saya pada kenangan dimana kampus itu masih berasa rumah bagi saya, dimana saya diajarkan mencari kemungkinan-kemungkinan bahkan dalam keadaan paling mustahil.
Yeah, G.F.Y,
The world fucks me from top, under, right, left, front, and back. But Rica .O Darmawan along with the dancers agree with me to tell the world that we can fuck ourselves! And we create good times in the worst.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar