Rabu, 03 Juli 2013

sebuah igauan:

SEPASANG MATA JALANG
oleh: Keisha Aozora


Di café ini aku duduk, dengan kopi yang lebih gelap dari malam. Pukul enam pagi, aku pengunjung pertama. Kusuap pelayan dengan lembaran-lembaran rupiah, agar mengizinkanku masuk dan membiarkan aku meneguk penawar ini: kopi.  Badanku lemas sekali, rasanya aku hendak terjatuh di depan pintu café. Melirik ranselku yang hampir muntah dan tas kain berisi beberapa kanvas dan kuas, pelayan itu memicingkan telunjuknya ke arah hotel. Entah hotel, entah trotoar di depan hotel itu. Namun dengan uang suap aku bisa masuk. Pun setelah aku duduk di sofa café, gantungan pintu bertuliskan “SELAMAT DATANG” masih belum dibalik. Jam enam pagi. Terlalu pagi untuk mengetuk pintu rumah seorang tabib, terlalu pagi untuk menelepon siapapun, terlalu pagi untuk berbicara pada diri sendiri, sekalipun. Aku tak pernah melakukannya. Aku tahu, setiap orang pasti pernah berdialog dengan diri dalam pikirannya, namun aku, aku selalu memotong dialog itu secepat goresan kuas saat kau yakin dengan bisikan darahmu. Aku tidak pernah berpikir. Semua warna yang kugoreskan adalah semacam keputusan yang dibisikkan dari urat leher, dari batang lengan, dari darah.

Aku punya studio kecil-kecilan jauh dari café ini. Rumah terbengkalai yang kemudian kuhidupkan dengan kegiatan melukisku. Aku ini, kurasa, ahli dalam menghidupkan sesuatu yang mati. Kuhidupkan mesin penyimpan uang di kasir café ini saat masih seharusnya mati, aku melukis senyum pada wajah pelayan ngantuk yang menerima lembaran uang suap, kubuat tubuh kurus perempuan itu jadi hangat. Tidak dengan selimut, tapi dengan darahku. Kurasa darahku ini, dengan berbagai keputusan warna dan cara menggores kanvas, bisa mentransfer apapun, bahkan pada tubuh seorang penari.  

Udara dingin saat itu. Aku menghadiri pameran tunggal seorang kawan yang terpesona dengan mistifikasi kabut, maka ia memutuskan untuk mencari galeri di daerah pegunungan untuk pamerannya. Gadis itu menari di genangan air. Air yang bagiku sedingin es batu, malam itu. Kulitnya putih, dengan urat nadi hijau kebiruan, mungkin karena menahan tajamnya dingin. Namun matanya, aku terperangkap dengan tatapannya yang stagnan, tajam, seolah tak terpengaruh dengan gigitan air es dan udara malam di pegunungan.  Tatapan mata yang lebih jalang dari kejora itulah… pelabuhanku.

Ia tak pernah berbicara dengan asap berhembus dari mulutnya. Ia tak pernah terburu-buru dalam meneguk kopinya. Ia memberi waktu pada segala kenikmatan. Si jalang yang dingin. Ia tak pernah berkomentar tentang kegugupanku. Berada di dekatnya, aku tampak seperti orang gagap dan gugup. Aku menghisap rokok dan menghembuskannya dengan cepat, menyesap kopi yang masih mengepul asap dan membakar lidahku, bahkan mungkin nafasku pun terlalu cepat.

Pukul sembilan pagi. Rasa kantukku buyar dengan berita pembunuhan misterius yang kejam. Bagaimana mungkin tubuh korban utuh dan tidak terluka, namun kedua bola matanya lepas dari kepala si jasad tak berdaya itu. Sampai berhari-hari kemudian, tak ada berita tentang siapa pencongkel bola mata yang biadab itu. Biadab!

Sudah dua hari aku tidak tidur. Di samping jendela kamar hotel aku berhadapan dengan segelas kopi dan rokok. Aku mengecap busa dan rasa susu yang sangat halus di ujung lidahku. Busa cappucino itu bertuliskan “LIFE IS SHORT ENJOY YOUR COFFEE”. Cairan coklat berbuih menyapu permukaan meja. Akhiri saja hidupmu, barista. Hidup tidak bisa dinikmati dengan kopi coklat susu berbuih-buih ini. Aku duduk bengong, setelah mendorong cangkir itu hingga tumpah kopinya. Bibirku berbingkai busa dengan asap rokok yang bergerombol, melayang…mencemooh seluruh kedirianku. Pecundang yang lari dari segala – yang telah ia hidupkan kembali.

“Kau harus minum kopi hitam, sekali-kali,” Ia memegang cangkir kopinya, berdiri menghadapku.

“Kenapa?” tanyaku, dengan hembusan nafas yang terlalu cepat. Segera kualihkan tatapanku dari sepasang mata itu. Kuterjang visual genangan hitam pekat di dalam cangkir di tangannya.

“Pahitnya sejenak menghentikan detak jantungmu.”

Suara sirine ambulans bersahutan dengan sirine mobil polisi. Aku melongok ke luar jendela. Dari atas kusaksikan orang bergerombol di luar. Biadab! Pencongkel bola mata terus beraksi, kali ini korbannya seseorang yang berada di hotel ini. Entah tamu, atau pegawai hotel. Tiba-tiba aku merasa diikuti, didekati. Lokasi mutilasi terus mendekati tempat di mana aku berada. Kunyalakan TV. Sebuah adegan sinetron langsung dipotong dengan Buletin Siang. Setelah tiga kasus pencongkelan mata dengan satu korban yang bertahan hidup, warga dan keluarga korban mulai mendesak dan mendemo polisi karena belum juga menciduk pelaku. Terdengar ketukan dari balik pintu kamarku. Aku tersentak, lompat dari sofa, terjatuh. Kepalaku pening. Aku mengemasi barang-barangku.

“Katakan sesuatu, kau…jalang!” suaraku yang gemetar terdengar lebih tegas, berharap dapat menembus kabut menuju sepasang mata jalang.

“Aku kira kita ini sepasang… tapi ternyata bukan hanya di sini kau jadi binal!”

Baru malam itu, kurasakan hatiku. Mungkin, ternyata aku punya sesuatu di dalam dadaku ini, selain darah yang membisikkan warna. Sungguh kurasa dadaku hancur berkeping-keping. Kulihat lukisan tubuhnya telanjang di sebuah galeri.

Aku tidak tahu banyak tentang dia. Tatapan dinginnya seperti pelabuhan, dari situlah pinisi tak lulus uji berlayar. Aku dan dia. Jika kutanya tentang asal-usulnya, dia bilang dia itu penari, bukan pencerita. Dan aku pelukis, ia cukup menyaksikan segala kedirianku pada kanvas, sisanya pada setiap hari yang bergulir di studio, pada setiap ia menggerakkan tubuhnya. Di mataku, ia jadi lebih gelap dari malam, lebih luas dari ruang. Ketika suatu malam ia berani menginterupsi lukisanku dengan menari menutupi kanvas, merusak komposisi warna yang masih basah dan mengoyak tekstur cat, aku yakin dialah kekasih, belahan jiwa yang selalu kuanggap omong kosong. Kutatap dalam-dalam sepasang mata itu, tatapannya yang dingin, jalang, dan mencekam. Setelah kulihat tubuh jalangnya di kanvas pelukis lain, mungkin ia tak pernah bercerita tentang sejarahnya karena ia adalah pelacur yang naik pangkat jadi penari di kemudian hari. Brengsek!

Pagi yang cerah dan sempurna. Kuucapkan selamat tinggal. Kuantar ia sampai daun pintu tak bergagang. 
“Kurasa kita nggak usah bertemu lagi. Aku harap kamu mengerti.”

Aku terus berjalan. Teriknya matahari hanya membakar mataku, namun seluruh badanku berkeringat dingin, gemetar. Koran pagi mengabarkan, menurut pengakuan salah satu korban, si pembunuh adalah lekukan garis dengan goresan warna-warna cat minyak. Namun korban itu sudah dimutasi ke Rumah Sakit Jiwa, dan…pengakuan itu tidak dimuat di media lain.

“Aku nggak ngerti dengan orang yang nggak menghabiskan kopinya… suatu saat kopi itu akan menghabisi nyawanya. Aku yakin.”

“Sayang, obsesimu pada kopi hitam mungkin sudah melebihi batas…”

“Batas? Itu hanya milik jasad.. jiwa tak berbatas…”

Aku jatuh lemas di hadapan lukisanku yang belum selesai, di dinding studio. Tubuhku tremor. Dengan tanganku yang tak terkendali aku berusaha meraih kuas dan cat. Minggu lalu aku memproyeksikan momen terakhir saat kuantar ia menuju keenyahan dari hidupku. Namun aku tak bisa melupakan sepasang mata itu. Tatapan dinginnya yang jadi sayu, genangan di kelopak matanya – mungkin hanya darahku yang bisa melukiskan luapan itu. Hanya tinggal sepasang mata dan lukisan dinding ini selesai. Namun pada goresan pertama, serangan hebat dari dalam dadaku sendiri mengantarkanku pada kopi hitam di café dekat hotel, pukul enam pagi.
Rempoa, 4 Juli 2013. [04:15]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar