oleh: Keisha Aozora
Di café ini aku duduk, dengan kopi
yang lebih gelap dari malam. Pukul enam pagi, aku pengunjung pertama. Kusuap
pelayan dengan lembaran-lembaran rupiah, agar mengizinkanku masuk dan
membiarkan aku meneguk penawar ini: kopi.
Badanku lemas sekali, rasanya aku hendak terjatuh di depan pintu café.
Melirik ranselku yang hampir muntah dan tas kain berisi beberapa kanvas dan
kuas, pelayan itu memicingkan telunjuknya ke arah hotel. Entah hotel, entah
trotoar di depan hotel itu. Namun dengan uang suap aku bisa masuk. Pun setelah
aku duduk di sofa café, gantungan pintu bertuliskan “SELAMAT DATANG” masih
belum dibalik. Jam enam pagi. Terlalu pagi untuk mengetuk pintu rumah seorang
tabib, terlalu pagi untuk menelepon siapapun, terlalu pagi untuk berbicara pada
diri sendiri, sekalipun. Aku tak pernah melakukannya. Aku tahu, setiap orang
pasti pernah berdialog dengan diri dalam pikirannya, namun aku, aku selalu
memotong dialog itu secepat goresan kuas saat kau yakin dengan bisikan darahmu.
Aku tidak pernah berpikir. Semua warna yang kugoreskan adalah semacam keputusan
yang dibisikkan dari urat leher, dari batang lengan, dari darah.
Aku punya studio kecil-kecilan jauh
dari café ini. Rumah terbengkalai yang kemudian kuhidupkan dengan kegiatan
melukisku. Aku ini, kurasa, ahli dalam menghidupkan sesuatu yang mati. Kuhidupkan
mesin penyimpan uang di kasir café ini saat masih seharusnya mati, aku melukis
senyum pada wajah pelayan ngantuk yang menerima lembaran uang suap, kubuat
tubuh kurus perempuan itu jadi hangat. Tidak dengan selimut, tapi dengan
darahku. Kurasa darahku ini, dengan berbagai keputusan warna dan cara menggores
kanvas, bisa mentransfer apapun, bahkan pada tubuh seorang penari.
Udara dingin saat itu. Aku menghadiri pameran
tunggal seorang kawan yang terpesona dengan mistifikasi kabut, maka ia
memutuskan untuk mencari galeri di daerah pegunungan untuk pamerannya. Gadis
itu menari di genangan air. Air yang bagiku sedingin es batu, malam itu.
Kulitnya putih, dengan urat nadi hijau kebiruan, mungkin karena menahan
tajamnya dingin. Namun matanya, aku terperangkap dengan tatapannya yang
stagnan, tajam, seolah tak terpengaruh dengan gigitan air es dan udara malam di
pegunungan. Tatapan mata yang lebih
jalang dari kejora itulah… pelabuhanku.
Ia tak pernah berbicara dengan asap
berhembus dari mulutnya. Ia tak pernah terburu-buru dalam meneguk kopinya. Ia memberi waktu pada segala kenikmatan. Si jalang yang dingin. Ia tak pernah
berkomentar tentang kegugupanku. Berada di dekatnya, aku tampak seperti orang
gagap dan gugup. Aku menghisap rokok dan menghembuskannya dengan cepat,
menyesap kopi yang masih mengepul asap dan membakar lidahku, bahkan mungkin
nafasku pun terlalu cepat.
Pukul sembilan pagi. Rasa kantukku
buyar dengan berita pembunuhan misterius yang kejam. Bagaimana mungkin tubuh
korban utuh dan tidak terluka, namun kedua bola matanya lepas dari kepala si
jasad tak berdaya itu. Sampai berhari-hari kemudian, tak ada berita tentang
siapa pencongkel bola mata yang biadab itu. Biadab!
Sudah dua hari aku tidak tidur. Di
samping jendela kamar hotel aku berhadapan dengan segelas kopi dan rokok. Aku
mengecap busa dan rasa susu yang sangat halus di ujung lidahku. Busa cappucino
itu bertuliskan “LIFE IS SHORT ENJOY YOUR COFFEE”. Cairan coklat berbuih
menyapu permukaan meja. Akhiri saja hidupmu, barista. Hidup tidak bisa
dinikmati dengan kopi coklat susu berbuih-buih ini. Aku duduk bengong, setelah
mendorong cangkir itu hingga tumpah kopinya. Bibirku berbingkai busa dengan
asap rokok yang bergerombol, melayang…mencemooh seluruh kedirianku. Pecundang
yang lari dari segala – yang telah ia hidupkan kembali.
“Kau harus minum kopi hitam,
sekali-kali,” Ia memegang cangkir kopinya, berdiri menghadapku.
“Kenapa?” tanyaku, dengan hembusan
nafas yang terlalu cepat. Segera kualihkan tatapanku dari sepasang mata itu.
Kuterjang visual genangan hitam pekat di dalam cangkir di tangannya.
“Pahitnya sejenak menghentikan
detak jantungmu.”
Suara sirine ambulans bersahutan
dengan sirine mobil polisi. Aku melongok ke luar jendela. Dari atas kusaksikan
orang bergerombol di luar. Biadab! Pencongkel bola mata terus beraksi, kali ini
korbannya seseorang yang berada di hotel ini. Entah tamu, atau pegawai hotel.
Tiba-tiba aku merasa diikuti, didekati. Lokasi mutilasi terus mendekati tempat
di mana aku berada. Kunyalakan TV. Sebuah adegan sinetron langsung dipotong
dengan Buletin Siang. Setelah tiga
kasus pencongkelan mata dengan satu korban yang bertahan hidup, warga dan
keluarga korban mulai mendesak dan mendemo polisi karena belum juga menciduk
pelaku. Terdengar ketukan dari balik pintu kamarku. Aku tersentak, lompat dari
sofa, terjatuh. Kepalaku pening. Aku mengemasi barang-barangku.
“Katakan sesuatu, kau…jalang!”
suaraku yang gemetar terdengar lebih tegas, berharap dapat menembus kabut
menuju sepasang mata jalang.
“Aku kira kita ini sepasang… tapi
ternyata bukan hanya di sini kau jadi binal!”
Baru malam itu, kurasakan hatiku.
Mungkin, ternyata aku punya sesuatu di dalam dadaku ini, selain darah yang
membisikkan warna. Sungguh kurasa dadaku hancur berkeping-keping. Kulihat
lukisan tubuhnya telanjang di sebuah galeri.
Aku tidak tahu banyak tentang dia.
Tatapan dinginnya seperti pelabuhan, dari situlah pinisi tak lulus uji
berlayar. Aku dan dia. Jika kutanya tentang asal-usulnya, dia bilang dia itu
penari, bukan pencerita. Dan aku pelukis, ia cukup menyaksikan segala
kedirianku pada kanvas, sisanya pada setiap hari yang bergulir di studio, pada
setiap ia menggerakkan tubuhnya. Di mataku, ia jadi lebih gelap dari malam,
lebih luas dari ruang. Ketika suatu malam ia berani menginterupsi lukisanku
dengan menari menutupi kanvas, merusak komposisi warna yang masih basah dan
mengoyak tekstur cat, aku yakin dialah kekasih, belahan jiwa yang selalu
kuanggap omong kosong. Kutatap dalam-dalam sepasang mata itu, tatapannya yang
dingin, jalang, dan mencekam. Setelah kulihat tubuh jalangnya di kanvas pelukis
lain, mungkin ia tak pernah bercerita tentang sejarahnya karena ia adalah
pelacur yang naik pangkat jadi penari di kemudian hari. Brengsek!
Pagi yang cerah dan sempurna.
Kuucapkan selamat tinggal. Kuantar ia sampai daun pintu tak bergagang.
“Kurasa
kita nggak usah bertemu lagi. Aku harap kamu mengerti.”
Aku terus berjalan. Teriknya
matahari hanya membakar mataku, namun seluruh badanku berkeringat dingin,
gemetar. Koran pagi mengabarkan, menurut pengakuan salah satu korban, si
pembunuh adalah lekukan garis dengan goresan warna-warna cat minyak. Namun
korban itu sudah dimutasi ke Rumah Sakit Jiwa, dan…pengakuan itu tidak dimuat
di media lain.
“Aku nggak ngerti dengan orang yang
nggak menghabiskan kopinya… suatu saat kopi itu akan menghabisi nyawanya. Aku
yakin.”
“Sayang, obsesimu pada kopi hitam
mungkin sudah melebihi batas…”
“Batas? Itu hanya milik jasad..
jiwa tak berbatas…”
Aku jatuh lemas di hadapan
lukisanku yang belum selesai, di dinding studio. Tubuhku tremor. Dengan
tanganku yang tak terkendali aku berusaha meraih kuas dan cat. Minggu lalu aku
memproyeksikan momen terakhir saat kuantar ia menuju keenyahan dari hidupku.
Namun aku tak bisa melupakan sepasang mata itu. Tatapan dinginnya yang jadi
sayu, genangan di kelopak matanya – mungkin hanya darahku yang bisa melukiskan
luapan itu. Hanya tinggal sepasang mata dan lukisan dinding ini selesai. Namun
pada goresan pertama, serangan hebat dari dalam dadaku sendiri mengantarkanku
pada kopi hitam di café dekat hotel, pukul enam pagi.
Rempoa,
4 Juli 2013. [04:15]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar