Senin, 19 Agustus 2013

Sebuah lamunan dalam teriknya siang:



CARILAH, CARI!
oleh Keisha Aozora

Aku membuka kitab tua ku. Kitab ini sudah ada lama sekali, namun tak pernah usang. Tak ada lembar yang tercabik, terlipat, kusut; hanya sering berubah tulisannya. Namun mataku ini masih jeli, sampai pada usia tuaku kini. Tanpa kaca mata, tanpa perlu menjauhkan mataku atau mendekatkan batang hidungku pada himpunan aksara ini, kusadari siapa yang tidak hadir malam ini. “Ksatria!” Prajuritku itu segera berhenti dan berlutut di hadapanku. “Di mana Cari? Ini sudah terlalu lama, dan namanya belum lagi tertera di sini.”

“Cari? Kau masuk dari mana?” tanya Sofia, masih memegang kunci pintu perpustakaan. Sofia tampak jauh lebih dewasa dari Cari. Penampilannya sederhana namun selalu rapih, tubuhnya ramping namun lebih berisi. Ini tahun keduanya sebagai pustakawan di sebuah universitas yang besar. Perpustakaan ini terbuka untuk umum, dan mungkin inilah kerajaan buku di negara ini. Ia lebih besar dari perpustakaan nasional, lebih diminati dari toko buku manapun, namun tak secuilpun barang dari perpustakaan ini bisa kau miliki. Ia hanya untuk kau alami sesaat. Tidak bisa kau beli bukunya, ruangnya, atmosfirnya, ataupun Sofia nya.

 “Oh, nggak, nggak,nggak… Kamu bermalam di sini?” Tersungging senyum kuda di wajah Cari. Tubuhnya ramping dan tak begitu tinggi. Sofia terheran-heran bagaimana mungkin Cari memanfaatkan figurnya yang tidak mudah disadari mata itu – untuk bersembunyi di perpustakaan.  Sofia merendahkan tubuhnya, melihat buku yang dipegang si mahasiswi baru. ‘Sleep Paralysis’. “Hey, kamu belum dengar cerita tentang hantu perpustakaan ya?” ujar Sofia, berusaha menakuti. Gadis itu mengernyitkan dahi, sekilas tampak sedang berpikir. “Apa hantu itu menyeramkan?”  Sofia mengamati rambut panjang Cari yang tak tertata rapi, seolah ia melihat buku-buku berserakan yang harus segera dibuatkan klasifikasi. “Kalau hantu itu adalah hantu  buku, aku mungkin nggak akan menyadarinya, karena terlalu banyak buku di sini. Aku mungkin nggak akan bisa membedakan mana buku dan mana hantu,” lanjutnya.  “Sosoknya sangat mencekam, Cari. Matanya melotot, rambutnya panjang dan berantakan. Ia suka muncul tiba-tiba di dekat kamar mandi. Ini perpustakaan tua!”  

Cari mengangkat tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Sofia, “Yang kau ceritakan hanyalah sebuah sosok. Keadaan mencekam itu hadir ketika kau memejamkan mata sebelum tertidur!” Sofia tersentak dan segera bangkit, ia melihat Cari sekilas, namun segera pergi. ‘Anak aneh. Pantas nggak punya teman!’ gumam Sofia dalam hati. ‘Kurus nggak terurus, cocok kalau ditemukan di sarang narkoba.  Tapi ia bersarang di serat-serat kertas. Ada-ada saja mahasiswa seperti ini...’

Dengan pandangan mata yang bias antara mencermati atau menerawang, Cari duduk di ruang kelas. Dosen masih menggambar skema yang rumit dan panjang, di papan tulis yang putih dan luas. Pemetaan kesadaran manusia, ah bagai menggambar denah samudra.  Tangan dosen itu telah sampai pada batas papan tulis. Ia menarik satu garis lagi dengan spidol hitamnya, memaksakan ruang....

Buk! Kepala Cari menghantam lantai putih polos tak berpola, tak bergaris. “Ugh...”  Ia berusaha bangkit.  Seorang wanita muda, dua puluh tahunan usianya, tampak cantik dan rapi, seperti Sofia. Namun tidak seperti baju Sofia yang selalu formal, bajunya tampak nyaman dan indah. “Cari... kan sudah Ibu bilang, hati-hati. Jangan lari-lari terus,” ujarnya. Setitik darah kental menetes ke lantai putih. Cari mengkerutkan badan, ia menoleh ke belakang, mencari pintu. Dari mana tadi ia jatuh? Tak ada pintu, hanya tembok. Ia mendorong tembok putih itu kuat-kuat. Matanya seperti menabrak hamparan putih yang menyakitkan. Sekali lagi Cari harus berusaha bangkit. Ia mengangkat kepalanya yang berat. Ah, ternyata bangku kuliah, meja putih yang sempit itu.

“Ah, dia pergi lagi?” tanyaku kecewa dan khawatir, pada Ksatria. “Ya, baginda, gadis itu mendorong-dorong badan saya dengan kuat sekali, saat saya mengawalnya menuju kemari.” Tak sengaja aku tertawa, ah, dasar anak kecil. Sebenarnya, ada atau tak ada dia, negaraku ini aman-aman saja. Nanti jika semua manusia sudah mati, barulah negaraku ini juga berakhir. Jika manusia sudah benar-benar tertidur, ia sampai ke hadapanku. Mereka singgah dan pergi secara rutin. Terkadang ada yang mati saat berada di sini. Prajuritku hanya satu, ia mengawal satu persatu manusia, menuju lelap. Mereka butuh berada di hadapanku, untuk keberlangsungan hidup di dunianya. Sungguh aku dan Ksatria bukan tokoh-tokoh yang suka menyakiti... namun Cari...

Ia memegangi kepalanya yang sakit. ‘Sial, seram sekali ruangan ini... Luas, putih, dan dingin. Bangku-bangku kosong...’ Cari segera mengarahkan matanya ke papan tulis, agar ia tak melulu melihat putih dan kekosongan. Ia ingat dosen menggambar skema penuh dengan spidol hitam di papan itu, namun ternyata papan tulis pun telah dibersihkan. ‘Kenapa nggak ada yang membangunkan aku? Bagaimana jika aku bertemu hantu yang diceritakan Sofia?’ Cari berjalan keluar kelas. Koridor kampus pun kosong. Jam dinding mengatakan bahwa Sofia sudah pulang, kerajaan buku sudah dikunci. . Perasaan Cari makin buruk. Terkadang kesendirian membuatnya kewalahan. Sepi itu menyesakkan dada dan mencekik lehernya. Di beranda swalayan, Cari memegang kopinya yang masih mendidih. Pramusaji tampak ngeri melihat kelopak matanya yang menghitam karena lelah. ‘Jahat sekali, tak ada yang membangunkanku,’ pikirnya.  ‘Mengapa tidur kini terasa sebagai sesuatu yang beresiko? Bagaimana cara membunuh tidur? Tidur ingin membunuhku, aku ingin membunuh tidur!!!’

Ksatria memandang wajah Cari di permukaan air yang menggenang di batas ruang. Wajahnya tenggelam dalam ruang Ksatria, sementara tubuhnya masih berada di alam sadar. Ksatria memegang wajah Cari dengan lembut dan ragu, haruskan ia tarik perlahan wajah ini?

Mengemban dendam terhadap tidur, Cari jatuh terlelap. Cari yakin ia menggenggam senapan. Ia, atau tidur yang akan mati. Cari mendapati dirinya duduk di atas kasur putih. Ia kenal kasur ini. Kenal namun lupa; paham, namun tak bisa jadi kata! Dengan gugup ia sematkan telunjuknya pada pelana. Ia akan menembak apa saja. Langit, tembok, apapun! Namun yang muncul adalah wanita itu lagi, ia terbaring lemah, dadanya hancur, terkoyak. Cari kembali melihat daging dan urat leher, mungkin juga detak jantung. Mata wanita itu nanar melihat Cari, jemarinya berusaha meraih dengan sayang. “Ibu, sudahlah, Ibu,” ucap Cari berlinang. ‘Tidur, aku lelah. Kau perangkap gila. Kau ingin membawaku ke masa ini lagi, dan lagi.’  Ia arahkan senapan itu pada kepalanya sendiri. “Ah, Cari, aku tidak seperti itu!” rintihku, walau ku tahu Cari tak dapat mendengarku. 

Aku iba padanya, namun tak bisa berbuat apa-apa. Cari mengira aku penjagal yang keji, walau sebenarnya ia dihabisi semestanya sendiri…

19 Agustus 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar