CARILAH, CARI!
oleh Keisha Aozora
Aku
membuka kitab tua ku. Kitab ini sudah ada lama sekali, namun tak pernah usang. Tak
ada lembar yang tercabik, terlipat, kusut; hanya sering berubah tulisannya.
Namun mataku ini masih jeli, sampai pada usia tuaku kini. Tanpa kaca mata, tanpa
perlu menjauhkan mataku atau mendekatkan batang hidungku pada himpunan aksara
ini, kusadari siapa yang tidak hadir malam ini. “Ksatria!” Prajuritku itu
segera berhenti dan berlutut di hadapanku. “Di mana Cari? Ini sudah terlalu
lama, dan namanya belum lagi tertera di sini.”
“Cari?
Kau masuk dari mana?” tanya Sofia, masih memegang kunci pintu perpustakaan.
Sofia tampak jauh lebih dewasa dari Cari. Penampilannya sederhana namun selalu
rapih, tubuhnya ramping namun lebih berisi. Ini tahun keduanya sebagai
pustakawan di sebuah universitas yang besar. Perpustakaan ini terbuka untuk
umum, dan mungkin inilah kerajaan buku di negara ini. Ia lebih besar dari
perpustakaan nasional, lebih diminati dari toko buku manapun, namun tak
secuilpun barang dari perpustakaan ini bisa kau miliki. Ia hanya untuk kau
alami sesaat. Tidak bisa kau beli bukunya, ruangnya, atmosfirnya, ataupun Sofia
nya.
“Oh, nggak, nggak,nggak… Kamu bermalam di
sini?” Tersungging senyum kuda di wajah Cari. Tubuhnya ramping dan tak begitu tinggi.
Sofia terheran-heran bagaimana mungkin Cari memanfaatkan figurnya yang tidak
mudah disadari mata itu – untuk bersembunyi di perpustakaan. Sofia merendahkan tubuhnya, melihat buku yang
dipegang si mahasiswi baru. ‘Sleep Paralysis’. “Hey, kamu belum dengar cerita
tentang hantu perpustakaan ya?” ujar Sofia, berusaha menakuti. Gadis itu
mengernyitkan dahi, sekilas tampak sedang berpikir. “Apa hantu itu menyeramkan?”
Sofia mengamati rambut panjang Cari yang
tak tertata rapi, seolah ia melihat buku-buku berserakan yang harus segera
dibuatkan klasifikasi. “Kalau hantu itu adalah hantu buku, aku mungkin nggak akan menyadarinya,
karena terlalu banyak buku di sini. Aku mungkin nggak akan bisa membedakan mana
buku dan mana hantu,” lanjutnya. “Sosoknya sangat mencekam, Cari. Matanya
melotot, rambutnya panjang dan berantakan. Ia suka muncul tiba-tiba di dekat
kamar mandi. Ini perpustakaan tua!”
Cari
mengangkat tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Sofia, “Yang kau
ceritakan hanyalah sebuah sosok. Keadaan mencekam itu hadir ketika kau
memejamkan mata sebelum tertidur!” Sofia tersentak dan segera bangkit, ia
melihat Cari sekilas, namun segera pergi. ‘Anak aneh. Pantas nggak punya teman!’ gumam
Sofia dalam hati. ‘Kurus nggak terurus, cocok kalau ditemukan di sarang
narkoba. Tapi ia bersarang di
serat-serat kertas. Ada-ada saja mahasiswa seperti ini...’
Dengan
pandangan mata yang bias antara mencermati atau menerawang, Cari duduk di ruang
kelas. Dosen masih menggambar skema yang rumit dan panjang, di papan tulis yang
putih dan luas. Pemetaan kesadaran manusia, ah bagai menggambar denah samudra. Tangan dosen itu telah sampai pada batas papan
tulis. Ia menarik satu garis lagi dengan spidol hitamnya, memaksakan ruang....
Buk!
Kepala Cari menghantam lantai putih polos tak berpola, tak bergaris. “Ugh...” Ia berusaha bangkit. Seorang wanita muda, dua puluh tahunan
usianya, tampak cantik dan rapi, seperti Sofia. Namun tidak seperti baju Sofia
yang selalu formal, bajunya tampak nyaman dan indah. “Cari... kan sudah Ibu
bilang, hati-hati. Jangan lari-lari terus,” ujarnya. Setitik darah kental
menetes ke lantai putih. Cari mengkerutkan badan, ia menoleh ke belakang,
mencari pintu. Dari mana tadi ia jatuh? Tak ada pintu, hanya tembok. Ia
mendorong tembok putih itu kuat-kuat. Matanya seperti menabrak hamparan putih
yang menyakitkan. Sekali lagi Cari harus berusaha bangkit. Ia mengangkat
kepalanya yang berat. Ah, ternyata bangku kuliah, meja putih yang sempit itu.
“Ah,
dia pergi lagi?” tanyaku kecewa dan khawatir, pada Ksatria. “Ya, baginda, gadis
itu mendorong-dorong badan saya dengan kuat sekali, saat saya mengawalnya menuju
kemari.” Tak sengaja aku tertawa, ah, dasar anak kecil. Sebenarnya, ada atau
tak ada dia, negaraku ini aman-aman saja. Nanti jika semua manusia sudah mati,
barulah negaraku ini juga berakhir. Jika manusia sudah benar-benar tertidur, ia
sampai ke hadapanku. Mereka singgah dan pergi secara rutin. Terkadang ada yang
mati saat berada di sini. Prajuritku hanya satu, ia mengawal satu persatu
manusia, menuju lelap. Mereka butuh berada di hadapanku, untuk keberlangsungan
hidup di dunianya. Sungguh aku dan Ksatria bukan tokoh-tokoh yang suka
menyakiti... namun Cari...
Ia
memegangi kepalanya yang sakit. ‘Sial, seram sekali ruangan ini... Luas, putih,
dan dingin. Bangku-bangku kosong...’ Cari segera mengarahkan matanya ke papan
tulis, agar ia tak melulu melihat putih dan kekosongan. Ia ingat dosen
menggambar skema penuh dengan spidol hitam di papan itu, namun ternyata papan
tulis pun telah dibersihkan. ‘Kenapa nggak ada yang membangunkan aku? Bagaimana
jika aku bertemu hantu yang diceritakan Sofia?’ Cari berjalan keluar kelas.
Koridor kampus pun kosong. Jam dinding mengatakan bahwa Sofia sudah pulang,
kerajaan buku sudah dikunci. . Perasaan Cari makin buruk. Terkadang kesendirian
membuatnya kewalahan. Sepi itu menyesakkan dada dan mencekik lehernya. Di
beranda swalayan, Cari memegang kopinya yang masih mendidih. Pramusaji tampak ngeri
melihat kelopak matanya yang menghitam karena lelah. ‘Jahat sekali, tak ada
yang membangunkanku,’ pikirnya. ‘Mengapa
tidur kini terasa sebagai sesuatu yang beresiko? Bagaimana cara membunuh tidur?
Tidur ingin membunuhku, aku ingin membunuh tidur!!!’
Ksatria
memandang wajah Cari di permukaan air yang menggenang di batas ruang. Wajahnya
tenggelam dalam ruang Ksatria, sementara tubuhnya masih berada di alam sadar.
Ksatria memegang wajah Cari dengan lembut dan ragu, haruskan ia tarik perlahan
wajah ini?
Mengemban
dendam terhadap tidur, Cari jatuh terlelap. Cari yakin ia menggenggam senapan.
Ia, atau tidur yang akan mati. Cari mendapati dirinya duduk di atas kasur
putih. Ia kenal kasur ini. Kenal namun lupa; paham, namun tak bisa jadi kata! Dengan
gugup ia sematkan telunjuknya pada pelana. Ia akan menembak apa saja. Langit,
tembok, apapun! Namun yang muncul adalah wanita itu lagi, ia terbaring lemah,
dadanya hancur, terkoyak. Cari kembali melihat daging dan urat leher, mungkin
juga detak jantung. Mata wanita itu nanar melihat Cari, jemarinya berusaha
meraih dengan sayang. “Ibu, sudahlah, Ibu,” ucap Cari berlinang. ‘Tidur, aku
lelah. Kau perangkap gila. Kau ingin membawaku ke masa ini lagi, dan lagi.’ Ia arahkan senapan itu pada kepalanya sendiri. “Ah,
Cari, aku tidak seperti itu!” rintihku, walau ku tahu Cari tak dapat
mendengarku.
Aku iba padanya, namun tak bisa berbuat apa-apa. Cari mengira aku
penjagal yang keji, walau sebenarnya ia dihabisi semestanya sendiri…
19 Agustus 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar