Tulisan ini tidak layak diberi judul "Payau #2.Yola Yulfianti" seperti "Beat. Danang Pamungkas" karena saya sering datang ke latihan dan mengobrol cukup dengan Yola jauh hari sebelum pementasan.
Jika elemen-elemen rasa seperti rindu, kecewa, dan sebagainya datangnya dari manusia, elemen utama dalam karya Yola murni dari alam: air, sesuatu yang sangat sehari-hari. Tidak se-abstrak udara, air bisa dilihat, disentuh, dan berkomunikasi langsung dengan kita. Perbincangan personal dengan koreografer membuat saya mengerti judul "payau" sebenarnya kaitannya dengan perasaan ragu dan abu-abu yang dialami Yola sekitar tahun 2004, menjelang kelulusannya dari S-1 Seni Tari IKJ.
Bertemu dengan karya "Payau #2" ini jadi lucu, karena kebetulan saya baru saja mengambil keputusan ekstrim: resign dari kantor tanpa alternatif mata pencaharian pasti yang menunggu setelahnya. Situasi payau yang dijelaskan Yola kurang lebih sama dengan perasaan saya menjelang resign nya saya dari kantor. Lepas dari regulasi perusahaan yang kacau, saya merasa badan saya tidak pas di situ. Uang tersedia pasti, setiap bulan pasti masuk sekian rupiah, bisa dikelola untuk ini-itu, tapi badan saya jadi milik kantor selama delapan jam Senin sampai Jumat. Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam situasi aman terkendali.
Boleh berbagi cerita sedikit, Yola pernah mengutarakan kebimbangannya di dunia tari kontemporer, bukan tentang perihal dunia tari, tapi di mana posisi dia, sampai kapan hingga belantara ini jadi terang dan tampak jelas jenis dedaunan dan binatang-binatang yang menggelayut di pepohonan. Cinta tapi bimbang, tak mau lepas tapi merasa tidak aman.
Kagum saya pada Yola karena judul karya dia bukan "ambigu" , "galau" , "bimbang" , tapi "payau". Dia seolah berusaha melihat dari jauh permasalahannya sendiri, lalu masuk ke lapisan kedua. Dalam kebimbangannya, ia memilih elemen alam yang bisa menggambarkan situasi.
Lepas dari sekedar judul, ia benar-benar menghadirkan air dalam karyanya. Saya menonton video "Payau" yang dipentaskan sebagai ujian akhir akademis, kemudian mengikuti proses latihan "Payau #2" yang terpilih sebagai main performance Indonesian Dance Festival 2012. Dalam karya gubahan ini kepedulian Yola menjadi sosial, yaitu air sebagai permasalahan Jakarta.
Tanpa meninggalkan suasana "Payau" (2004), Yola menghadirkan Shinta Maulita, alumni baru seni tari IKJ, Rizki Suharlin Putri, ekstrimis dari Bangka yang kabur dari rumah demi program S-1 seni tari IKJ, Meitha Nindya, penari muda yang keras ditempa Jecko's Dance Company sekaligus mahasiswa aktif seni tari IKJ, dan Rica .O Darmawan, wanita dewasa yang matang sebagai penari dan model di berbagai pertunjukan dan videoklip, wirausahawan sukses di bidang make up, namun memutuskan untuk masuk S-1 seni tari IKJ!
Diam-diam saya meneliti, bertanya dalam hati, merasa penari tidak mungkin dipilih random. Saya rasa, masa transisi dan keadaan-keadaan tidak aman fit dengan suasana "Payau" (2004). Lalu dihadirkan juga Luluk, penari senior dari Solo, dengan warna kostum yang berbeda.
"Kenapa mas Luluk beda sendiri warna kostumnya?"
"Ehm.... gue butuh kehadiran gue di karya itu.."
"Okesip."
Pada tanggal 4 Juni 2011, hari Senin mendung jam 4 sore, saya pun masuk venue untuk menuai hasil latihan berhari-hari yang mereka lakukan. Itulah sebabnya, saya tidak bisa menulis dengan obyektif di sini, karena, berbeda dengan karya-karya yang saya hadiri untuk menyaksikan, dalam "Payau #2" saya seperti hendak memetik buah saja. Ya, ya, ya, saya sudah tahu nanti akan ada selang-selang bergelantungan sebagai instalasi hasil kolaborasinya dengan Unank Ramdani, tapi begitu saya masuk....
Goddamnit, Yola, kamu membawa saya ke dalam dunia saya, ke dalam situasi saya saat ini. Apa-apaan ini, gelap, sampai-sampai mas Seno ngesot saat turun tangga takut jatuh. Salah melangkah, kakimu akan tersandung selang. Di pinggir kanan kiri tempat duduk penonton adalah bongkahan-bongkahan meja lapak berdiri miring dan terbalik, besi tua, dan segala macam benda keras. Di fence dekat pintu utama menggantung handuk-handuk mandi.
Bisa diperhatikan, foto di atas, dimana ada dirigen-dirigen mengapung sembarangan, itu adalah tempat duduk penonton. Penonton yang duduk di instalasi kesemerawutan pinggir panggung diusir oleh project manager. Ya iyalah, itu instalasi gitu loh bo! Lagian, kenapa anda memilih duduk di atas kesemerawutan yang gelap? Mending di atas dirigen kecil, pas seukuran pantat anda.
Cerdiknya Unank Ramdani dan Yola Yulfianti, yang membuat kaki penonton terendam air selama pertunjukan berlangsung. Bukankah air itu sifatnya konduktif?
Cold, cold water surrounds me now...
And all I've got is your hand
Lord, can you hear me now?
Lord, can you hear me now?
Lord, can you hear me now?
Or am I lost?
(Cold Water, Damien Rice)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar