Selasa, 17 Juli 2012

berbagi kepala

Ini mengenai pengalaman saya dengan kawan-kawan terdekat. Pukul 4:27 dini hari ini, saya baru menyadari, yang mengaitkan saya dengan mereka bukanlah kesukaan yang sama, tapi kami suka bertukar pikiran. Lebih dari sekedar mengutarakan pendapat, secara terselubung kami sama-sama menawarkan pola pikir otentik khas diri sendiri pada sahabat, semata-mata karena ingin menerangi jalannya yang mati lampu, atau malah mengebor tembok dan membuatkan jalan baru.

Menawarkan pola pikir tidak semudah mengutarakan pendapat. Dan usaha ini tak jarang: gagal. Acapkali pemikiran saya tidak diterima, dan sering juga para sahabat gagal meletakkan pola pikirnya di frame kepala saya.
Seiring berjalannya waktu, saya terus mengamati, bagaimana cara menawarkan template baru pada seseorang. Ternyata, template pemikiran saya banyak di re-adjust oleh film, pertunjukan tari, lirik lagu, dan puisi. Ya, justru jarang yang dari dialog panjang. Dan gaya ceramah bisa saya bilang 99% gagal total.  Saya juga melakukan kesalahan ini, dan terdengar seperti ibu-ibu menceramahi anaknya:

"Daru, kamu kan nyetirnya jauh. Pake helm dong."

"Berdoa, Ru, beneran deh, Tuhan pasti membantu."
"Come on! Dulu waktu lo ga kenal dia juga hidup lo indah-indah aja, begitu putus, ya kembalikan keindahan hidup seperti sblm kalian kenal. Susah amat!"

Gaya penyampaian seperti itu gagal saat saya terapkan, pula gagal diterapkan sahabat pada saya. Gaya ceramah itu maksa, dan nggak empati. Pernah juga seorang sahabat meminta dan menunggu sampai saya mengikuti sarannya: SMS orangtua saya panjang lebar menjelaskan perasaan saya. Saran yang gagal total. Gatot Subroto. Why? Because I simply don't live that way! Sementara itu, sahabat yang satu ini memang biasa mengungkapkan segala gundah gulana lewat SMS, BBm, atau bertatap muka langsung. Both parents and her are communicative. Jadi, saya sarankan hindari membawa family value dalam bertukar pikiran, karena aturan main keluargamu belum tentu ada di kehidupan sahabatmu.

Hal yang lain, jika kamu tidak menerapkan apa yang kamu transfer, most likely gagal. Doing isn't as easy as talking. Prove it to yourself first. Ada satu pola pikir yang berhasil diterima sahabat saya yang mengeluh, akhir-akhir ini dia sial terus. Banyak yang membuatnya sakit hati, dan mood nya makin berantakan dari hari ke hari. Sekali lagi, bertukar pola pikir lebih dari sekedar memberi saran, tapi memberi cara menganalisa dan merespon sebuah keadaan. Saya meminta dia memperhatikan sekitarnya, teman-teman yang sering bersamanya, apakah mereka orang-orang yang hobi mengeluh? Ternyata iya. Saya meminta ia menjauh untuk beberapa lama dari mereka dan mencari orang-orang yang suka tersenyum, tertawa, dan jarang membicarakan keburukan orang lain. Lepas dari berhasil tidaknya cara demikian, tapi dia benar-benar menerapkannya. Berarti transfer berhasil. Tentu saja template ini saya lakukan juga pada diri saya. Tahun 2009 akhir, saya memprogram otak saya, terus-terusan menanamkan bahwa "Tahun 2010 saya akan bertemu dengan orang-orang hebat dalam bidangnya" dan itu benar-benar terjadi. Berada di lingkungan orang-orang yang progressive membuat saya ikutan preogressive. Tidak ada waktu untuk menganalisa keburukan orang lain, atau menangisi kejadian-kejadian pahit di masa lalu. Jadi, dalam pola pikir saya, lingkungan sangat mempengaruhi. Dan lingkungan bisa dipilih.

Sahabat yang saya ceritakan ini juga berhasil menawarkan pola pikirnya pada saya waktu saya harus meninggalkan seorang pria dan segala hasrat saya untuk bersamanya. Tidak mudah menawarkan solusi pada orang yg sedang patah hati, apalagi usia belasan tahun. Kawan saya ini bilang "Sama aja kayak gini Kei, tujuan user masuk rumah rehabilitasi apa? Buat berhenti ngobat kan? User itu orang yang suka sama drugs, tapi dia masuk rumah rehab buat stop all the drugs-using. Because he knows it's doing him bad."

Sebetulnya ada juga sih, seorang sahabat yang banyak berhasil dala menukarkan template pada saya, tanpa saya tahu/yakin apakah ia menerapkan template yang ia tawarkan atau tidak. Saat saya meninggalkan comfort zone saya (mantan), tentu ada masa-masa terpahit dimana saya memutuskan untuk... kembali padanya. Sahabat saya ini bilang "Terangnya fajar itu datang setelah kegelapan malam yang paling pekat." Dan sepenggal kalimat ini mengubah keputusan saya, seperti supir yang banting setir, membelok tajam. Pemikiran yang ia tawarkan itu masuk akal, dan menantang. Ya, ya, fajar nggak datang jam 10 malam, tapi jam setengah empat pagi, setelah gelap yang paling gelap. Saya menangis dimana-mana saat itu, di bus kota, di halte, dimana-mana, air mata terus saja jatuh tanpa distimulus. Sampai saya pura-pura sakit mata. Dan template yang ia tawarkan berhasil, maksud saya, benar-benar berhasil. Saya seperti terlahir kembali setelah masa itu. Saya menulis banyak hal, dan bahkan berkenalan dengan dunia tari. Amazing. 






Jadi begitulah, kisah saya dan para sahabat, kumpulan orang sotoy. Kalau dianalogikan kami ini kayak penjual obat deh, beberapa penjual obat di pasar malam yang sama. Hahaha! Selamat mencoba! (kalau berminat :D )

1 komentar: