Dengan alur asimetris dan warna putih konsisten,
jembatannya seperti menghadirkan liku dunia fantasi yang berdiri superior di atas tanah yang terlalu asam dan menggantung inferior di bawah pucuk-pucuk gedung pencakar langit.
Di hiruk pikuk teriakan kernet bus kota dan angkutan umum yang berhenti di mana saja ia mau,
transjakarta jadi satu-satunya transportasi umum yang punya standard operation procedure.
Fatamorgana akan kehidupan yang lebih baik pun menghinggapi warga Jakarta, di awal kemunculannya.
Menabur benih, Sutiyoso menuai puji dan maki.
Dengan cepat, transjakarta jadi musuh supir kopaja, metromini, ojek, bahkan taksi.
"Ya gimana mbak, sekarang kalo udah ada bus yang nyaman kayak gitu, pemberhentiannya juga banyak, orang jadi lebih milih naik bus daripada taksi. Itu kan ngambil rejeki saya,mbak," celoteh curhat supir taksi sekitar tahun 2007.
Aku sendiri pendatang,
anak kos dan mahasiswa saat itu. Tentu transjakarta tampil seperti pahlawan bagi anak desa yang stress menghadapi infrastruktur ibukota.
Dari Kebon Sirih ke Kota pun terasa dekat karena duduk saja, atau transit bus tanpa bayar lagi sampai di pemberhentian yang dituju.
Penjaga pintu dengan ketat membatasi jumlah penumpang demi kenyamanan tiga ribu lima ratus rupiah, awalnya.
Transjakarta benar-benar jalur bebas hambatan, awalnya.
Jembatannya bersih dari pedagang dan pengemis sehingga leluasa untuk dilalui, awalnya.
Semua awalan menghidupkan kata dasar.
Awalan apapun jika bertemu kata dasar "Jakarta", akan berubah fungsi. Berproses keluar jalur.
Transjakarta, terima kasih telah hadir sebagai fatamorgana keteraturan
di tengah Jakarta yang tetap sebuah nekropolitan.
10 September 2012 01:44
Tidak ada komentar:
Posting Komentar