Saat aku meneguk kopi hitam yang pahit ini, lidahku setengahnya mengecap asamnya red wine yang kunikmati dengan Sardono .W Kusumo, sebuah kemenangan yang tertunda.
Sebulan yang lalu di suatu siang, aku mengutarakan ingin dididik menari olehnya, tapi ia menepis harapan itu dengan cepat, mengungkapkan bahwa penulis haruslah fokus menulis. Namun malam itu di cafe bergaya Italia, ia yang mengundangku untuk berlatih tari di studionya, besok pagi, jam 10.
Hanya karena undangan dari mulutnya itu, red wine jadi terasa nikmat.
Tapi karena esoknya ia bangun kesiangan, peristiwa tari itu pun tertunda. Dan semua yang tertunda itu sebenarnya mendesir aliran adrenal, karena ia akan terjadi.
Petualang sejati bisa melihat mata yang ingin berjalan lebih jauh. Petualangan sejati adalah menikmati sunyi.
Saat kita membicarakan hujan, kita jadi hujan.
Saat bergerumul tentang benci, kitalah kebencian.
Saat berbicara tentang tari, menjadilah.
"Cheers, untuk Jepang tanpa bunuh diri" -Sardono W Kusumo, ATavola Kemang, Jumat, September 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar