Setelah memasukkan device komunikasi ke dalam kantung tas teddy bear dan bahkan berdeham - agar tidak berdeham lagi ketika pertunjukkan - di tengah ruang gelap yang berasap tipis-tipis, sesosok wanita blonde menari, dan nafasnya yang beradu terdengar jelas dari posisi kiri depan panggung ke tempat dudukku di kanan depan.
Sorotan lampu yang menguat membentuk segitiga tajam berpangkal-ujung kiri-kanan panggung Salihara yang flat. Plastis, seperti yang tertulis di repertoir pertunjukkan dan komentar-komentar di twitter, penari ini timbul-tenggelam di ruang segitiga.
And The Line Begins To Blur.... Tanpa membaca terlalu detil sinopsisnya, dan tanpa tahu keadaan sosial-politik Finlandia, dan di sela remas tangan Nindi yang terkagum-kagum di tangan kiri ku, Susanna Leinonen seolah bercerita dengan suara pelan di belakang telinga ku yang tuli. Bukan berarti aku tidak dengar, tapi....
Betapa horrornya masyarakat. Masyarakat hidup dengan kita, bukan kita yang hidup dengan masyarakat. Hahaha! Seperti adik-kakak yang hidup dengan kita, kita jadi bagian dari persaudaraan itu. Penari yang bermain di ruang segitiga tadi, pada akhirnya "didatangi" teman-temannya. Teman-temannya itu berjalan dengan gaya militer. Gerak jalan yang sangat teratur. Dimulai dengan langkah paintbrush, disusul dengan tumit mendarat di lantai, dan begitu seterusnya. Badan mereka condong ke depan, seperti menarik beban berat di balik punggungnya, atau mungkin seperti mengancam yang ada di depan mukanya. Society.
Society, karakter mass yang judgemental dan mainstream. They will not let you play your solo for long duration. They are there, watching behind the blur line you create. Bercerita lah di belakang telinga kiri ku yang kurang dengar, dan bercerita lah dengan suara pelan. Mungkin dengan begitu aku harus memejamkan mata dan melupakan garis normal-abnormal, sakit-sehat, rejection-acceptance !
Susanna menunjukkan bahwa tidak akan pernah ada posisi balance antara individual dan masyarakat. Seorang penari "dihajar" lima lainnya, atau dua penari dihantui tiga lainnya.
Ada adegan khusus, dimana sepasang lelaki-perempuan menari bersama. Terhubung satu sama lain. Dari gerakan-gerakan mendekap, koneksi terus berkembang menjadi gerakan mengikat, dan kemudian melibas stau sama lain. Tarian ini diulang lagi, dengan arah gerak diagonal. What an effort. Susanna memberiku kesempatan untuk melihat lebih dari sudut pandang yang lebih dari satu. Pilihan disediakan, and the line begins to blur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar