aku ada di sebuah toko komik dan mainan bersama ayah dan kak topan. kakak ingin belikan aku barang, aku disuruh milih. aku pilih komik bergambar Crash Bandicoot, lalu kami masuk ke mobil. sepertinya kami sedang dalam perjalanan panjang.
aku ada di sebuah sekolah di mana aku bersekolah di situ. aku jalan dengan seorang teman, Ms.Shinta, melewati kerumunan dan aku bercerita betapa gobloknya orang-orang ini -- tipikal Indonesia, mudah dialihkan perhatiannya, dan mudah ikut-ikutan. tanpa kusadari temanku itu berubah jadi Nindi, dan wajah-wajah di sekolah itu jadi wajah-wajah IKJ tanpa berubah setting tempat. aku masih membicarakan topik yang sama -- tanpa banyak bicara lagi, hanya tertawa-tawa bersama Nindi. Nindi bilang aku nggak akan pernah bisa berbaur dengan orang-orang ini, kubilang "Kamu salah. They invited me to dance" dan aku langsung joget-joget sama Bulan dan beberapa orang lagi, ada Ully. Aku menjelaskan lagi ke Nindi kalau mereka sepenuhnya menerimaku dan mengajakku bergabung dan aku sudah melakukannya, tapi lama-lama bosan dan nggak dapat di mana pentingya ada di antara mereka. Tanpa kusadari orang yang kuajak bicara ganti jadi Irin. Sedari tadi aku merasa aku punya teman tercerdas, terbaik, and very sophisticated. Di lapangan, kami melihat Ully ngajak ngobrol seorang penjaga stand dan dia nyerocos cerita tanpa ada balasan dari orang itu. Dia cerita betapa gaul dan uniknya dia, sampai-sampai ada cowok yang ngajak kenalan dan langsung ngajak ngopi. "Neng, kopi yuk di mana," begitu kata Ully menirukan cowok yang tertarik pada keunikannya.Aku ketawa tanpa bersuara keras, seperti berusaha nahan ketawa, sambil lihat temanku -- yang sudah berubah dari Nindi jadi Irin. Tiba-tiba Irin menimpali cerita Ully itu, Irin cerita dia pernah sampe merasa bersalah karena pulang dari ITC Ambassador nggak keluar duit sama sekali, karena tiba-tiba ada cowok yang mau bayarin semua belanjaannya -- saking attractivenya dia. Aku mulai menyadari ada yang nggak beres, tadi kan aku sedang menertawakan orang-orang ini bersama seorang teman, seperti dua orang yang berada di luar lingkaran, outsiders. Aku menimpali cerita mereka lagi, aku bilang, juga pernah keluar dari toko kaset dan buku, ada cowok yang tiba-tiba mau bayarin apapun yang aku beli dan aku nggak pake rasa bersalah sama sekali, malah senang. Ully dan Irin mendengarkan cerita singkatku dengan seksama. Tiba-tiba aku ada di lantai dua bersama Sonang, dan dua orang lagi yang aku nggak ingat. Aku tahu sekarang aku sedang berada di lingkaran mereka, dan kami sedang bercanda tawa, dengan gaya kami yang dulu pernah kualami. Aku dan sonang pura-pura membicarakan orang. Sonang bilang dia pernah dengar Ome bla-bla-bla. Aku dan Sonang main bisik-bisikan dan aku bisikin dia "suwisuwaswiswus" yang penting kelihatan lagi bisik-bisik nggosipin orang. Tapi Sonang bilang, "Ih Keisha, orang lagi serius," dan ternyata dia benar serius. Dia cerita Ome punya sebutan-sebutan untuk aku dan orang-orang outsider. Dia bilang aku Miss Narkoba. Ada rasa merinding mendengar julukan itu diberikan kepadaku. Bukannya mereka yang akrab dengan narkoba ya? Gumamku dalam hati tapi tidak memungkiri aku pun pernah coba. Lalu muncul foto-foto seorang anak gaul kampus, yang sudah meninggal dunia, yang nggak pernah kukenal, panggilannya Keke, namanya Nengke atau siapalah.. dan nama itu tertulis di fotonya. Dia cewek, manis, berponi tebal, dalam foto itu rambut belakangnya nya disasak tinggi, dan dia adalah the real miss narkoba pada zamannya, di kampus ini. Aku dan Irin diam mendengarkan cerita. Di depan kita ada sebongkah potongan kayu, dan menancap gunting yang sudah karatan.
Sonang mencabut gunting itu dan aku melarangnya tapi tidak didengarkan. Ia main-main menggoda kami dengan gunting itu, dia nawarin aku juga mau pegang gunting itu nggak, aku nggak mau, aku benar-benar menolak, tapi gunting itu udah dilempar ke aku, udah kupegang -- untuk kulempar lagi jauh-jauh dari aku. Tapi aku tahu ini hal buruk, gunting itu udah body contact sama aku -- dan benar saja, saat kami lagi saling melempar gunting, dua orang cewek berbaju hitam ketat datang, membawa potongan gunting yang tajam. Dia tanya siapa yang main-main dengan gunting tua itu, aku langsung nunjuk Sonang. Tapi tampaknya dua cewek itu mau menyakiti semua di antara kami, semuanya. Salah satu dari cewek itu langsung mengambil kedua tangan Sonang, disatukan di belakang punggung, seperti posisi istirahat di tempat (upacara) dan Sonang tertawa-tawa, dia kira this is a joke. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukan cewek itu, ya, dia mengiris tangan Sonang dengan pisau kecil di tangannya. Cewek yang satu lagi, berambut panjang lurus, bermata besar dengan garis yang tajam, langsung menyergapku. Aku berusaha kabur tapi dia sudah dapat satu tanganku. Aku merasakan irisan itu di punggung tangan kiriku, tepatnya di kubu tengah jari, paling terasa di telunju, jari tengah, dan jari manis. Walau dia sudah berhasil mengiris tanganku, aku nggak nyerah. Kubanting cewek itu dan aku langsung loncat dari lantai dua. Kusadari bahwa bangunan kampus ini adalah MIN Malang 1.
Aku lari keluar, dengan mendorong angin supaya makin cepat. Sekarang aku ada di dekat SPBU Jl.Bandung, sembunyi di semak-semak. Aku merasa dikejar. Dua cewek itu memang tidak kelihatan, tapi aku lihat seorang cowok exterminator, dan aku merasa dia tim-nya dua cewek berbaju ketat itu. Tiba-tiba aku ingat the art of stalking yang mungkin aka menyelamatkanku. Aku tiba-tiba merasa harus bergaya seperti laba-laba, dan aku pun bersembunyi dalam posisi plank, beberapa lama, kemudian lari ke jalan raya berusaha memberhentikan taksi. Bluebird dan Express terus ngebut tidak menghiraukan lambaian tanganku. Aku merasa ini daerah yang familiar denganku, dan tidak familiar dengan dua iblis berbaju hitam ketat itu. Aku berencana untuk kabur dengan taksi, kubawa ke pelosok-pelosok dalam kota Malang, tapi sampai aku terbangun tidak ada taksi yang berhenti, dan aku merasa angin begitu beratnya seperti air, punya arus dan kepadatan yang susah dijelaskan. Kurasakan dengan tanganku.
*Note: Ini mimpi, bukan fiksi tapi juga bukan benar-benar terjadi di kehidupan sehari-hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar